Kekuatan Berita

0
213 views
Ilustrasi - Doa pengusiran setan. (Ist)

Renungan Harian
Kamis, 15 April 2021
Bacaan I: Kis. 5: 27-33
Injil: Yoh. 3: 31-36

PAUL Joseph Goebbles dikenal sebagai pendukung utama Hitler dan pendukung gerakan anti Semit yang amat aktif. Dia secara resmi bergabung dengan Nazi pada tahun 1924 dan kemudian mendapatkan posisi kunci sebagai menteri Propaganda Nazi.

Salah satu ide yang menarik dan berhasil adalah pentingnya menguasai sumber-sumber berita, supaya hanya ada satu sumber berita.

Ia berpendapat, sebuah kebohongan kalau diberitakan terus menerus dan massif akan menjadi sebuah kebenaran. Terlebih apabila sumber berita mempunyai otoritas.
 
Kiranya apa yang terjadi pada masa sekarang ini entah sadar atau tidak mengikuti padangan Goebbles. Media masa maupun media sosial menjadi ajang pertempuran berita, sehingga masyarakat banyak yang tidak tahu lagi tentang sebuah kebenaran berita.
 
Ketika saya bertugas di sebuah paroki, nampaknya pastor paroki sebelumnya senang atau punya kemampuan untuk melihat dan mengusir setan.

Karena sering disampaikan di antara umat, bahwa di sana ada penunggu, di sini ada penunggu, pandangan umat menjadi terbentuk bahwa di tempat-tempat tinggal mereka atau tempat tertentu selalu ada penunggunya.
 
Pada saat pemberkatan rumah, atau pemberkatan benda-benda suci (sakramentali) yang ada dalam benak umat adalah pengusiran setan.

Betapa sulit membongkar pandangan umat yang sudah tertanam sedemikian lama dan dihidupi. Akibatnya, ajakan untuk melihat cara pandang yang berbeda bahkan cara pandang berdasarkan iman Katolik yang lebih benar dan lebih baik amat sulit. 

Pandangan yang muncul diantara umat bahwa imam yang baru ini tidak punya kemampuan supra natural seperti imam yang sebelumnya.
 
Pemberitaan yang benar dan kesaksian tentang kebenaran sering kali sulit diterima karena minimnya pewartaan baik dari sisi informasi maupun dari sisi jumlah pewartaannya.

Seandainya perwartaan dan pemberitaan tentang kebenaran disampaikan oleh pemilik otoritas dan disampaikan secara massif, maka kiranya kebenaran akan lebih berperan dari pada kebohongan.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes, kesaksian dan pewartaan Yesus tidak diterima oleh umat Yahudi karena pemberitaan dan kesaksian-Nya kalah dengan ajaran-ajaran yang sudah lama dihidupi.

“Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan didengar-Nya, tetapi tak seorangpun menerima kesaksian-Nya itu.”
 
Bagaimana dengan aku? Apakah aku mau menjadi bagian pewarta kebenaran?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here