Kelana Spiritual 5: Menakar Bukti Identitas Yesus

0
139 views
Ilustrasi: Gagal Mengenali Yesus Belum pernah ada orang yang berbicara seperti ini, by Vatican News.

KADANG-kadang dalam suatu persidangan pidana kriminal dihadirkan ahli ‘personality profiling’. Psikolog ini diberi tugas menganilisis kepribadian terdakwa berdasar perkataan, tindakan atau perbuatan terdakwa.

Istilah lain dari personality profiling adalah offender profiling, crime scene profiling, psychological profiling, dan profiling (Wikipedia).

Dalam perjalanan spiritual, Lee Strobel mencari Yesus, setelah menelaah bukti catatan (Injil), kini lebih mendekat lagi.

Ia menganalisis Yesus, mencakup bukti identitas, bukti psikologi, bukti profile dan bukti sidik jari.

Untuk mendalami bukti identitas, Strobel berdiskusi dengan Ben Witherington III Ph.D di Kentucky, guru besar Perjanjian Baru dari Asbury Theological Seminary di Wilmore, Kentucky.

Witherington lahir 30 Desember 1951 di High Point, North Carolina. Sampai tahun 2016, sekitar 60 buku tentang Perjanjian Baru telah ditulisnya. Ia juga menulis ratusan artikel di berbagai jurnal.

Beberapa di antaranya berisi analisis kepribadian Yesus berdasarkan perkataan dan perbuatan-Nya menurut Injil Kanonik (Wikipedia).

Dari titik ini, Kelana Spiritual 5 saya mulai.

1. Yesus tahu persis tentang diri-Nya sendiri

Strobel membuka diskusinya dengan sebuah kalimat, “Identitas Yesus sedikit misterius, bukan?”

Tanpa menunggu respon tuan rumah, ia melanjutkan, “Yesus tampak menghindar dari menyatakan diri-Nya adalah Sang Mesias secara terbuka. Apakah hal itu karena Ia tidak berpikir tentang diri-Nya sebagai Sang Mesias, atau, ada alasan lain?”

“Bukan. Bukan karena Ia tidak berpikir demikian.”

Kata Witherington sambil menegakkan tubuh di kursinya. Dengan irama yang sangat terukur, Witherington bertutur.

“Jika Yesus hanya mengumumkan, ‘Hai, Saudara-saudara, Aku Tuhan’, maka akan terdengar seperti ‘Hai, Aku Yahwe’ (bagi orang Yahudi kala itu)

Dan, ini akan menimbulkan tentangan dari orang Yahudi. Tentu ini tidak dikehendaki. Karena, akan mengganggu misi-Nya.

Strobel mengutif pernyataan John H. Hick -filsuf dan teolog dari Inggris, yang provokatif,  ‘Yesus tidak pernah berpikir bahwa diri-Nya adalah Tuhan yang berinkarnasi’.

Ben Witherington melawan pernyataan itu dengan pendekatan tradisi yang paling dekat dengan zaman Yesus.

Berikut sebagian uraiannya.

Pertama, Yesus dan para murid.

Yesus memiliki 12 murid. Tetapi, Ia tidak termasuk dari salah seorang dari murid-murid itu. Mengapa?

Jika ke-12 murid itu mewakili Israel yang diperbaharui, Yesus lah yang membentuk kelompok itu. Tepat seperti Tuhan (Perjanjian Lama) membentuk umat-Nya dan menetapkan dua belas suku Israel.

Kedua, Yesus vs Yohanes Pembaptis.

Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari Yohanes (Pemandi).…” (Lukas 7:28).

Yesus tidak sama dengan Yohanes. Yang dilakukan Yesus lebih jauh daripada yang dilakukan Yohanes. Ia tidak hanya membaptis, tetapi juga menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, menghidupkan orang mati, membentak angin ribut, dsb,

Ketiga, Yesus vs para pemuka agama.

Dihadapan para pemuka  agama, Yesus berkata, ”Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang ke luar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:11).

Pernyataan ini bertentangan dengan aturan yang telah dihidupi masyarakat Yahudi masa itu. Para pemuka agama menekankan berbagai aturan yang ketat untuk mempertahankan kesucian hidup orang Yahudi, termasuk makanan.

Yesus melampaui apa yang diajarkan oleh para pemuka agama (Yahudi) itu. Yesus melakukan sesuatu yang baru. Ia menyatakan, bukan yang masuk ke mulut (makanan) yang najis tetapi yang ke luar dari mulut (perkataan).

Ia menentang kitab-kitab yang diwahyukan secara ilahi dan mengganti  dengan ajaran-Nya sendiri.

Ia berani melawan tradisi, tentu karena Ia tahu  siapa diri-Nya.

Keempat, penyaliban-Nya.

Bagaimana mungkin pemerintah Roma mau berbuat semacam itu, jika hanya untuk memberi hukuman kepada seorang guru yang bijak?  Terlalu berlebihan. Bahkan,  mereka memberi tulisan di atas-Nya “Inilah Raja Orang Yahudi”.

Mengapa itu terjadi? Pasti ada alasan yang kuat. Bukan sekedar mengolok-olok. Mungkin, karena Yesus sendiri pernah mengatakan itu. Atau, ada orang lain yang mmendengar bahwa Yesus pernah mengatakannya.

Witherington banyak menunjukkan hal-hal serupa lainnya. Ia menyimpulkan bahwa banyak petunjuk yang kuat bahwa Yesus sungguh tahu siapa diri-Nya.

2. Yesus melakukan dengan kuasa Roh Allah

Serangan Strobel berikutnya terkait dengan mukjizat-mukjizat Yesus.

Ia berkata, “Tentu Anda tidak dapat mengatakan bahwa mukjizat-mukjizat itu menetapkan bahwa Yesus berpikir Ia adalah Tuhan.”

Witherington, menjelaskan  bahwa bukan fakta tentang Yesus membuat mukjizat-mukjizat  yang menetapkan Yesus memahami diri-Nya. Tetapi, bagaimana Yesus menafsirkan mukjizat-mukjizat yang dilakukan.

Yesus memaknai mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya dengan merujuk pada kedatangan kekuasaan Tuhan. Ia tidak melihat bahwa diri-Nya telah membuat mukjizat. Tetapi, Ia memandang  diri-Nya sebagai seorang di dalam siapa dan melalui siapa janji-janji Tuhan digenapi.

3. Yesus dipanggil ‘Rabi’

Strobel mengucapkan sebuah ayat: “Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ‘Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?’”(Yoh 11:8).

“Tidakkah ini menunjukkan bahwa Ia sekedar mengajar seperti rabi-rabi lain pada zaman-Nya,” tanya Strobel.

Witherington menjawab walau dipanggil ‘Rabi’, sebenarnya, Yesus mengajar dengan cara baru yang radikal, yang tidak pernah digunakan rabi-rabi lain.

 Ia memulai mengajar dengan kalimat: “Amin, Kukatakan kepadamu….”

Kata ‘Amin’ bermakna bahwa Ia berfirman dengan kekuasaan sebagai Mesias. Ini  adalah unik dan tak pernah dapat dilakukan oleh ahli-ahli Taurat maupun rabi.

“Jelaskan lebih lanjut?” kata Strobel.

“Dalam Yudaisme, diperlukan kesaksian dua kali. Si A bersaksi untuk kebenaran saksi B dan sebaliknya. Tetapi, Yesus bersaksi atas perkataan-Nya sendiri”.

Artinya, Yesus tidak mendasarkan atas otoritas orang lain, tetapi berbicara atas otoritas-Nya sendiri.

Itu berarti, Yesus tidak hanya memiliki inspirasi ilahi, tetapi Ia otoritas ilahi, kekuasaan, serta ucapan ilahi.

Catatan:

a. Pemakaian kata ‘Amin’  oleh Yesus pada permulaan sabda-Nya, sering dipadankankan dengan ‘sesungguhnya’ (LAI, misalnya pada Yoh 3:3, 8:58, Mat 11:11, 26:21,34, Luk 23:43). (https://www.sarapanpagi.org/amin-amen-vt6533.html)

b. Dengan manual, kata ‘sesungguhnya’ –ditemukan 26 kali dalam Injil Matius, 15 kali dalam Markus, 9 kali dalam Lukas, dan 25 kali dalam Injil Yohanes. Total, tujuh puluh lima kali.

Strobel belum berhenti di sini. Ia melanjutkan:

“Selain kata ‘Amin’, Yesus juga menggunakan kata ‘Abba’ (Bapa) ketika berdoa. Apa hubungannya dengan pikiran Yesus tentang diri-Nya?”

Jawab Witherington, “Itu mengimplikasikan bahwa Yesus mempunyai tingkat keintiman dengan Tuhan yang tidak sama dengan apa pun. Ini merujuk dengan jelas bagaimana Yesus  memandang diri-Nya sendiri”.

Diskusi terus berlanjut dengan mengupas gambaran Yohanes tentang Yesus.

Di akhir diskusi, Witherington berkata, “Yesus berpikir Ia adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk memberikan penyelamatan puncak Tuhan dalam sejarah manusia. Ia berada dalam suatu misi ilahi. Yesus tahu bahwa Anak Allah. Yesus melihat diri-Nya sebagai Anak Manusia, dan sebagai Mesias’.

Dengan penutup semacam itu, penulis merasa iman saya kepada Yesus, Sang Penyelamat Dunia, semakin diterangi.

Pakem Tegal: 6-4-2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here