Kemapanan vs Perubahan

0
140 views
Ilustrasi: Menghadapi perubahan. (Ist)

Puncta 24.09.20
Lukas 9:7-9

KEMUNCULAN Basuki Tjahaya Purnama (BTP) dalam dunia politik mengharu biru gelanggang perpolitikan Indonesia. Dia dinilai jujur, bersih, profesional, tegas dan integritasnya tinggi.

Tetapi justru itulah yang tidak disukai oleh orang-orang yang anti perubahan. Orang-orang yang suka kemapanan dan terlalu nikmat menggerogoti pundi-pundi rakyat. Ia membuat clean governance di DKI. Transparansi anggaran dilakukan. Sampai-sampai ia diteriaki anjing oleh lawan politiknya.

Dengan enteng dia menjawab, “Ya, saya anjing penjaga harta rakyat dari maling-maling curang.”

Ia disamakan dengan Ali Sadikin, Gubernur yang berhasil membangun Jakarta. Semangat Bang Ali muncul lagi dalam diri BTP.

Kita semua tahu para lawan yang ingin menjatuhkan dia maju ke pilkada. Dengan segala macam cara ditempuh. Yang penting orang ini harus jatuh. Ketika dia dipilih untuk jabatan Komisaris Utama di Pertamina, juga ada demo menolaknya.

Dia juga diusulkan menjadi kepala Badan Otorita Ibukota Negara yang baru. Ada saja kelompok yang tidak suka.

Kelompok-kelompok ini adalah kelompok anti perubahan, mereka adalah orang-orang yang tidak ingin Indonesia menjadi lebih baik.

Mereka sangat sulit untuk menerima perubahan, karena bagi mereka, setiap perubahan mempersempit ruang gerak kenakalan mereka, dalam menggerogoti negara ini.

Mereka ini tergolong kelompok yang mencari kekayaan dari kelemahan berbagai sistem penyelenggaraan negara.

Kemunculan Yesus di tengah masyarakat menjadi kekawatiran banyak pihak. Para ahli Kitab, pemegang otoritas keagamaan Yahudi. Kaum Farisi, kelompok birokrat penjaga hukum adat istiadat di masyarakat. Herodes raja wilayah Galilea yang menjadi penguasa negeri.

Kehadiran Yesus disambut rakyat dengan penuh harapan. Mereka percaya bahwa Yesus adalah nabi yang diutus Allah sebagaimana Elia dan nabi-nabi zaman dahulu. Ada yang menyebut Dia sebagai Yohanes Pembaptis yang telah bangkit.

Rakyat banyak yang percaya kepada Yesus. Ini menjadi kekawatiran bagi penguasa dan kelompok pro kemapanan.

Tidak terkecuali Raja Herodes, ia merasa was-was atas kemunculan Yesus. Ia yakin bahwa Yohanes telah mati. “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapakah gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal besar itu?”

Orang-orang mapan takut pada orang atau hal baru yang membawa perubahan. Hal itu akan merongrong kekuasaan dan kedudukannya. Mereka yang punya kepentingan akan bersekongkol.

Ahli-ahli kitab, kaum Farisi bersekutu dengan Herodes untuk menyingkirkan Yesus. Perubahan adalah ancaman bagi mereka.

Mana yang akan kita pilih?

Menjadi bangsa maju dengan pemimpin yang punya integritas, jujur, profesional, bersih dan tegas atau dipimpin oleh Herodes yang bersekongkol dengan kaum Farisi dan ahli kitab?

Menanam singkong di tanah yang gembur.
Disirami tiap minggu secara teratur.
Berbahagialah jika punya pimpinan yang jujur.
Rakyatnya sejahtera adil dan makmur.

Cawas, tugas menanti…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here