Kematian: Surga atau Neraka?

0
114 views
Ilustrasi - Menuju harta surgawi. (Ist)

BEBERAPA hari yang lalu, umat Allah mendengarkan bacaan-bacaan dari Kitab Wahyu.

Kitab Wahyu merupakan suatu revelasi atau penyingkapan tentang akhir zaman.

Dari bacaan-bacaan itu, apa yang dapat direfleksikan? Nilai apa yang dapat diambil dari kisah-kisah itu?

  • Kematian adalah kenyataan yang harus dialami oleh manusia.
  • Seberapa pesatnya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, fakta tentang kematian tak mampu dieksplorasi dan dimanipulasi menjadi sesuatu yang lain.
  • Kematian tetap menjadi suatu misteri duniawi yang terjadi karena kehidupan.
  • Kematian adalah konsekuensi dari kehidupan.

Kedua hal ini adalah kodrat dan kodrat adalah ciptaan Tuhan yang tak dapat direkayasa oleh manusia.

Orang Kristen memiliki kepercayaan populer yang luar biasa, yaitu kepercayaan mengenai kehidupan setelah kematian. Kepercayaan inilah yang memberikan kekhasan tersendiri di dalam hidup praktis dan hidup religius seorang Kristiani.

  • Apakah kehidupan setelah kematian itu ada?
  • Atau hanya ada-ada saja?
  • Di manakah manusia berada setelah kematian?

Berikut akan ditampilkan beberapa ulasan tentang kematian, surga, dan neraka dari beberapa sudut pandang.

Kepercayaan Yahudi

Orang Israel mengakui kematian, tetapi tidak percaya akan kehidupan setelah kematian dalam arti yang baik (Mzm 6:5; 30:9; 115:17).

Menurut mereka, orang mati dimasukkan ke dalam kubur yang gelap dan di situlah manusia hancur dimakan ngengat.

Maka kubur adalah tempat yang ditakuti dan orang yang berumur panjang dianggap berbahagia.

Dunia orang mati disebut dengan nama Sheol: tempat kegelapan dan kehancuran. Sheol terletak di dasar bumi pada bagian yang paling bawah (Ul 32:22).

Sheol dalam arti lain bisa berarti sebagai lambang penyakit atau keadaan putus asa.

Di sisi lain, memang ada pandangan akan kehidupan setelah kematian, tetapi baru muncul pada akhir zaman Perjanjian Lama.

Allah campur tangan dalam membuka Sheol dan membebaskan orang-orang yang ada di sana.

Demikian pandangan baru setelah Perjanjian Lama.

Untuk orang yang hidupnya begitu suci seperti Elia tidak layak mati. Sehingga, ia diangkat ke surga; tempat Allah bertakhta di atas awan-awan.

Kenaikan Yesus sejajar dengan kenaikan Elia.

Filsafat Plato

Dalam ajarannya, Plato mengatakan bahwa tubuh adalah penjara bagi jiwa. Jiwa bersifat ilahi, sedangkan tubuh adalah itu yang bersifat duniawi.

Untuk mencapai kebahagiaan manusia harus meninggalkan tubuhnya karena tubuh adalah kerangka penderitaan.

Sehingga orang bijak, demikian menurut Plato, adalah orang yang menginginkan maut dan filsafat adalah latihan untuk mati.

Mengenai kehidupan setelah kematian (badan), ada tiga kemungkinan yang akan dialami oleh jiwa manusia.

  • Yang pertama, jika hidup seseorang baik, adil, dan ugahari, ia akan ditempatkan di “pulau para suci”.
  • Yang kedua, jika hidup seseorang tidak adil, brutal, dan buruk, ia akan dihukum di Tartaros.
  • Yang ketiga, seseorang mengisi hidupnya dengan perbuatan-perbuatan yang setengah baik dan setengah buruk, ia akan dihukum dalam suatu masa.

Ajaran ini tentu memiliki kaitan dengan ajaran Gereja, sebab para bapak-bapak Gereja telah “mengkristenkan” filsafat pada zaman Patristik.

Iman Katolik

Semua orang Kristen-Katolik tentu percaya bahwa kehidupan manusia tidak berakhir dengan masuk ke dalam kubur lalu tubuh manusia dimakan cacing.

Kepercayaan seperti ini telah menyangkal konsep kristianitas tentang Allah dan relasinya dengan ciptaan-Nya; manusia.

Kehidupan di dunia ini hanya sebentar. Semua orang menghetahui ini, bukan hanya orang Kristen.

Namun ada yang unik dalam kepercayaan orang Kristen ini. Hidup di dunia bukan merupakan kesempatan untuk menikmati segala sesuatu sepuas-puasnya.

Hidup di dunia merupakan kesempatan bagi kita untuk membentuk sikap kita terhadap Tuhan, kita membuktikan kepercayaan kita.

Kenyataan rohani ini membawa kita pada kesadaran bahwa kita sedang hidup di hadapan Tuhan.

Kematian merupakan pintu bagi setiap manusia untuk mengakhiri pengembaraannya, manusia telah tiba pada tujuannya.

Kematian ini membawa manusia tiba pada sesuatu yang tidak begitu jelas defenisinya, yaitu surga dan neraka.

Eksistensi keduanya diakui hampir oleh semua manusia di dunia ini.

Surga. Apakah ini sebuah tempat?

Gambaran surga sebagai sebuah tempat harus dipahami sebagai bahasa kiasan. Jika manusia tidak memiliki badan, ia pun tidak membutuhkan tempat.

Pada hakikatnya, surga adalah sebuah kata yang bermakna; manusia sudah tiba ke di tujuannya yang terakhir, manusia akan melihat Allah berhadapan muka.

Kalimat terakhir ini berarti tak ada lagi sesuatu yang memisahkan manusia dengan Allah, manusia berada pada kebahagiaan kekal dalam kesatuan dengan Allah.

Neraka harus dipahami sebagai sesuatu yang berlawanan dengan surga, yaitu keterpisahan dari Tuhan.

Pada hakikatnya, neraka adalah sebuah kata yang bermakna; manusia secara sadar dan radikal menolak tawaran Allah.

Tawaran yang dimaksud adalah kepercayaan pada Tuhan yang berujung pada keselamatan atau kebahagiaan. Penolakan tersebut dilukiskan dengan situasi yang sangat mengerikan, berupa siksaan dan sejenisnya.

Hal ini pun harus dipahami sebagai suatu kiasan.

Tetapi, hal ini bukan berarti neraka itu situasi yang baik-baik saja, tentu merupakan sesuatu yang amat buruk karena manusia tidak mencapai tujuannya, manusia tidak mencapai persatuan dengan Allah yang adalah kebahagiaan itu sendiri. Ini merupakan siksaan terbesar bagi jiwa manusia.

Bagaimana mencapai surga?

Mengenai keselamatan dan kebahagiaan kekal, hanya ada satu cara untuk mencapainya. Tetapi syarat ini membutuhkan “komitmen yang radikal” sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan tidak ada istilah kompromi.

Cara itu adalah manusia harus benar-benar yakin akan Allah, manusia harus sungguh mempercayakan dirinya kepada Allah sebagai satu-satunya andalan hidup.

Totalitas iman sangat dituntut dalam hal ini.

Bagaimana pun juga, manusia adalah makhluk penghuni bumi. Segala sesuatu ia jalani di dunia ini, termasuk proses pembinaan iman-kepercayaannya.

Hidup di dunia merupakan sebuah peziarahan.

Peziarahan itu dilakukan secara bersama manusia lain. Sudah layak dan sepatutnya manusia mengungkapkan imannya itu dengan perbuatan amal kasih kepada semua manusia dan juga makhluk lain.

Dengan berlaku demikian, manusia telah menyatakan bahwa imannya itu hidup dan berakar dalam sikap, pikiran, dan perbuatannya sehari-hari.

Manusia mencapai kesempurnaan hidup iman hanya lewat perbuatan amal dan kasih kepada sesama.

Semua manusia tanpa terkecuali adalah ahli waris dari tanah air surga. Semua manusia memiliki hak yang sama untuk mencapai itu.

Sekarang adalah kesempatan untuk memenuhi tanggungjawab kita sebagai makhluk beriman dengan membina iman kita kepada Allah sembari memupuk karya amal kepada semua orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here