Kemenangan dalam Tragedi

0
232 views
Ilustrasi Minggu Palma (Ist)

SETIAP orang ingin menang. Demikian pula orang-orang Kristen. Kemenangan mereka khas, karena mengalaminya lewat jalan penderitaan. Itulah yang dirayakan pada Minggu Palma.

Pada awal Pekan Suci, orang Kristen merayakan puncak karya Yesus yang dicapai-Nya melalui sengsara dan wafat-Nya yang berpuncak pada kebangkitan. Perayaannya diwarnai dengan Yesus memasuki kota Yerusalem.

Khalayak ramai menyerukan nama-Nya dengan, “Lihat, Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban muda.” (Matius 21: 5).

Iring-iringan yang memasuki kota Yerusalem itu juga berseru, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi.” (Matius 21: 9).

Dalam liturgi sabda, orang diajak merenungkan tentang hamba Allah yang menderita (Yesaya 50: 4-7; Filipi 2: 6-11; Matius 26: 14-27: 66). Ketiganya menegaskan identitas Yesus dan cara Dia memenuhi misi-Nya.

“Nasib buruk” yang dialami-Nya terjadi karena dua alasan. Pertama, alasan politis. Dia menjadi objek kebencian dari orang yang menganggap-Nya mengancam kedudukan pemimpin agama Yahudi.

Kedua, kehendak Tuhan. Bukan berarti Tuhan merestui pembunuhan. Tetapi, atas kasih yang tanpa syarat Yesus melakukan kehendak Allah, Bapa-Nya. Dengan itu, Dia menyatakan kasih-Nya yang tanpa batas.

Peristiwanya demikian memilukan sampai Yesus merasa ditinggalkan oleh Tuhan-Nya (Matius 27: 46). Sulit memahaminya hanya dengan pemikiran manusia. Namun, dengan mata iman orang dapat menemukan makna di baliknya.

Ketika mengambil bagian dalam liturgi Pekan Suci, orang jangan melihat hanya penderitaan Yesus. Orang diajak percaya bahwa itu membawa ke dalam kebangkitan dan hidup baru. Orang perlu melihat kemenangan di balik tragedi.

Minggu Palma, 2 April 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here