Kerajaan Surga dalam Harta yang Terpendam (2)

0
1,561 views

[media-credit name=”Google” align=”alignright” width=”300″][/media-credit]APA inti kedua perumpaan, orang yang menemukan harta di ladang dan kemudian memendamnya lagi di situ boleh jadi hanya buruh harian yang menggarap ladang yang bukan miliknya.
Ia tidak memiliki tanah. Ia memang memiliki beberapa barang, tak banyak, tapi kiranya cukup untuk “menebus” ladang yang ada hartanya tadi.

Tak perlu kita lanjutkan ke soal yuridik – ini kan perumpaan untuk mengajak pendengar berpikir. Apa yang membuat orang tadi bersukacita? Bukan semata-mata karena menemukan harta, melainkan karena melihat sebentar lagi ia bisa menjadi pemilik ladang yang ada harta karunnya!

Dari sewaan menjadi milik, dari hidup kais pagi agi makan pagi menjadi orang yang terpandang. Ini cita-cita orang pada umumnya.

Nah, menemukan Kerajaan Surga itu akan membuat orang menjadi pribadi yang terpandang jadi orang yang mampu melaksanakan keinginan dan hasrat-hasrat.

Mencari yang terindah
Bagaimana dengan saudagar yang tentunya sudah jadi orang terpandang? Jangkauannya lain. Ia mencari yang terindah. Di situlah sumber kepuasannya.

Begitulah nanti ia akan dikenal sebagai dia yang punya mutiara langka! Saudagar mana yang tidak ingin demikian? Orang yang sebetulnya sudah tidak butuh apa pun dalam hidup ini masih dapat juga menginginkan sesuatu yang langka.

Begitulah daya tarik Kerajaan Surga digambarkan. Masih patut dicita-citakan, juga oleh orang yang serba berkecukupan.

Kerajaan surga bagian dari hidup
Dalam tafsiran di atas Kerajaan Surga tidak lagi tampil sebagai tempat yang nun ada “di sana”, tak bergerak, sudah jadi. Yang tampil dalam perumpamaan itu ialah diri orang yang mencarinya dengan sungguh. Dan dalam menjalani ia mendapatkannya.

Bila demikian maka Kerajaan Surga bisa menjadi bagian kehidupan. Juga keanekaan akan ikut termasuk di dalamnya. Jadi apa saja boleh, apa saja bisa?

Wah ini perkara yang baru terjawab dengan perumpamaan mengenai jala yang besar. Marilah kita tanya Matt sendiri. Hanya dialah di antara para penulis Injil yang menceritakannya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here