Kesempatan

0
128 views
Ilustrasi - Pusing ketagihan narkoba. (Ist)

Renungan Harian
Sabtu, 23 Oktober 2021
Bacaan I: Rom. 8: 1-11
Injil: Luk. 13: 1-9
 
“SEBETULNYA
aku tidak ingin menyalahkan lingkungan bahwa aku terjerumus dalam dunia hitam ini. Tetapi kenyataannya, aku jatuh dalam dunia ini; karena pergaulanku.

Sejak SMP, aku sudah mengenal obat-obatan dan kemudian lebih lagi mengenal narkoba.

Awalnya, aku selalu dapat barang-barang itu dari teman-temanku, tapi lama-kelamaan, aku harus membeli sendiri.

Awalnya, aku bisa membeli barang dengan uang jajanku, dan pemberian orangtua. Kemudian aku sering minta ke orangtua, karena uang jajanku tidak cukup lagi memenuhi kebutuhanku bahkan aku sering marah dan ngamuk, bila aku tidak mendapat uang yang aku minta.
 
Karena kecanduan itu, berkali-kali aku harus dirawat di rumah sakit, karena kelebihan dosis. Tetapi semua itu tidak membuat aku jera; bahkan semakin dalam kecanduanku.

Di hadapan keluargaku, aku memang selalu berpura-pura bahwa aku sudah tidak terlibat dengan narkoba.

Aku menunjukkan bahwa aku bekerja agar keluargaku percaya bahwa aku sudah tidak terlibat dengan barang-barang haram itu.

Sampai kemudian, aku menikah dan keluarga semua bersyukur karena menganggap aku sudah sembuh.
 
Kebutuhanku akan barang haram semakin besar sehingga saat barang-barang di rumah sudah tidak ada yang bisa dijual lagi, aku mulai mencuri barang-barang di kantor.

Akibatnya, aku ketahuan dan dibawa ke kantor polisi. Berkat usaha keluargaku aku bisa dibebaskan dan kembali ke keluargaku.

Setelah keluar dari penjara, aku kumpul dengan teman-temanku sesama pencandu dan di saat itu aku over dosis dan dibawa ke rumah sakit.

Menurut cerita isteriku saat itu, aku sudah tidak bisa tertolong lagi, namun entah bagaimana aku bisa melewati masa krisis itu.
 
Begitu aku keluar dari rumah sakit, isteriku ngomong:

“Berkali-kali kamu diberi kesempatan hidup, dan terakhir kemarin sebenarnya kamu sudah mati. Kalau sekarang kamu masih bisa hidup, itu sungguh-sungguh mukjizat.

Sekarang terserah kamu, mau tetap seperti ini dan ujungnya mati atau mau menggunakan kesempatan ini.

Aku sudah pasrah, kamu mau hidup ayo kita bangun hidup kita, tetapi kalau kamu mati ya silahkan.”

Kata-kata isteriku seperti petir di telingaku dan membuat aku berkeputusan untuk berubah.

Aku ngomong ke isteriku: “Aku mau berubah, aku mau direhab, tolong bantu aku.”

Isteriku memelukku, “Kamu pasti bisa, ayo kita bangun hidup kita,” kata isteriku sambil berlinang airmata,“ seorang teman berkisah tentang hidupnya.
 
Seperti kata para bijak: “Kesempatan tidak datang dua kali”, maka tinggal bagaimana aku menggunakan kesempatan yang ada dan tersedia bagiku.

Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Lukas, Tuhan memberi kesempatan padaku untuk memperbaiki diri.

“Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!”.
 
Bagaimana dengan aku?

Apakah aku mau dan mampu menggunakan kesempatan yang diberikan kepadaku?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here