Ketegaran Seorang Ibu

0
377 views
Ilustrasi: Bunda Maria berduka atas kematian Anak-Nya di kayu salib. (Ist)

Bacaan 1: Ibr 5:7 – 9
Injil: Yoh 19:25 – 27

KASIH ibu kepada anaknya itu sangat sulit diungkapkan dalam banyak kata. Ibu berani mempertaruhkan nyawanya, saat melahirkanmu.

Saat tangismu pecah di ruang kelahiran, maka ibu akan sangat terharu, bangga dan bahagia. Dalam hatinya pasti akan terpanjatkan doa syukur, ia telah menjadi seorang ibu untuk kelahiranmu.

Melihat itu semua, masihkah kamu tidak mau berbakti dan menghormatinya?

Hari ini kita mendapatkan suguhan bacaan yang sangat menguatkan. Seorang ibu yang sungguh taat dan tegar menyaksikan sang buah hatinya menjalani kisah sengsara-Nya.

Sejak Bunda Maria menerima ajakan Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan-Nya dengan menjadi ibunda Yesus, ia sudah menanggung risiko berat.

Hamil diluar pernikahan. Dan jika hal itu sampai ketahuan, maka Maria akan mendapat hukuman rajam dengan batu hingga mati.

Namun Bunda Maria tidak takut, tanggapannya, “…terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Kepasrahan itu sungguh merupakan teladan.

Ia taat merawat Yesus sejak bayi hingga dewasa. Bahkan iklas menemani dan melihat anak-Nya menjalani kisah sengsara, tanpa melewatkan sedetik pun hingga Yesus meninggal di kayu salib.

Ia sanggup berdiri disamping salib-Nya.

Bunda Maria menjadi Bunda Gereja sejak Tuhan Yesus menyerahkannya kepada para murid-Nya.

“Ibu, inilah, anakmu.”

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu.”

Dan sejak saat itu para murid-Nya menerima dia di dalam rumahnya.

Murid yang dikasihi (dan tanpa nama) adalah semua murid yang dipanggil untuk mengikuti-Nya dalam ketaatan kepada Tuhan kita.

Sejak itulah sebenarnya Gereja -sebagai kumpulan umat beriman yang percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat manusia- itu telah lahir.

Dalam dukacita yang mendalam, Maria ibu Yesus telah menunjukkan kerendahan hati, dan ketaatan, sebagai seorang hamba Allah.

Sebagai Anak Allah, Yesus taat atas apa yang harus diderita-Nya. Sesudah mencapai kesempurnaan-Nya, Yesus menjadi pokok keselamatan abadi bagi kita semua yang taat kepada-Nya.

Pesan hari ini

Maria Bunda Allah yang berduka saat harus menyaksikan kematian Anak-Nya di kayu salib.

Namun ia telah mengajarkan kepada kita, sebuah ketegaran, kerendahan hati, ketaatan sebagai seorang hamba Allah.

Maria bunda jemaat Kristus, bunda kita semua.

“Tidak ada seorang pun, setelah Tuhan Yesus, mengasihi kita seperti halnya ibu yang paling pengasih ini. Dialah Maria bunda kita semua. Tetaplah pakai maskermu dan jaga jarakmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here