Ketulusan Hati Seorang Anak

1
360 views
Ilustrasi- Orangtua dan anak.

Sabtu, 1 Oktober 2022

  • Yes. 66:10-14c atau 1 Kor. 12:31-13:13;
  • Mzm. 131:1,2,3.
  • Mat. 18:1-5.

DALAM perjalanan Jakarta-Yogya, kami dihibur oleh tingkah lucu keponakan yang baru berumur lima tahun.

Dia banyak cerita kondisi rumahnya dan bagaimana dia berelasi dengan orangtua dan saudara-saudaranya.

Perjalanan yang panjang itu menjadi tidak membosankan, karena celoteh keponakan kami.

Kita semua pernah menjadi seorang anak kecil dan mengamati seorang anak kecil. Hal pertama yang bisa kita lihat dari seorang anak kecil adalah kepolosannya; ia bersikap dan berkata apa adanya, dan ekspresinya juga sangat polos dan apa adanya.

Yang kedua, kalau kita amati anak kecil sangat percaya kepada ayah, ibu atau orang yang sudah lama dikenalnya. Anak kecil sangat merasa nyaman, ketika ia berada di dekat orang tuanya, ia mau dibimbing dan dibentuk oleh orangtuanya.

Yang ketiga, seorang anak kecil tidak pernah kuatir terhadap apa pun. Ia menaruh percaya kepada ayah dan ibunya.

“Saya sempat kuatir ketika keluarga keponakan kena covid, dan harus isoman, anaknya tidak terdampak maka anak keponakan itu dititipkan ke keluarga kami,” kata seorang ibu.

“Saya awalnya bingung dan takut, jika anak itu rewel dan menangis karena oran tua sedang sakit dan perlu istirahat total. Suara tangisan bisa menganggu orangtuaku,” pikirnya.

“Namun betapa saya dibuat kagum oleh anak keponakanku itu. Anak itu tidak rewel, main sendiri, nurut, dan makan juga tidak susah, tidur juga tidak bermasalah,” lanjutnya.

“Padahal anak itu baru berusaha empat tahun,” sambungnya.

“Malahan saya sering sedih melihat dia video call dengan bapak dan ibunya. Anak itu sangat kangen dengan orangtuanya, namun berusaha menahannya, hanya kadang terlihat dia meleleh air matanya,” urainya.

“Anak sekecil itu sudah mengerti kalau bapak dan ibunya sakit dan tidak bisa bersama dengan dia dalam waktu-waktu itu,” sambungnya.

“Anak itu sedih waktu ingat orangtuanya, namun hanya sebentar saja dia sedih; kemudian anak main lagi, dia tidak merasa kuatir dan cemas,” lanjutnya.

“Jika malam tiba, dia terlihat ingin dipeluk ibunya, namun kemudian dia main-main di tempat tidur sampai tertidur,” ujarnya.

“Ketulusan, kepolosan, dan ketidakcemasan membuat anak itu bebas dan menikmati waktu,” lugasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Mengapa model anak-anak menjadi syarat mutlak agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga?

Dengan memakai model anak kecil, Yesus ingin memperlihatkan bahwa menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Allah tidak gampang.

Merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil, bukanlah perkara mudah, apalagi jika kita memegang jabatan, sukses dalam pelayanan, berkecukupan bahkan berkelebihan harta benda.

Kemampuan anak-anak kecil, untuk rendah hati dalam menikmati waktu bersama orangtua, saudara dan anak-anak lain tanpa harus merasa paling hebat adalah sebuah pelajaran rendah hati yang menjadi syarat sebagai anggota Kerajaan Surga.

Anak-anak kecil kelihatannya menerima tanpa syarat, tersenyum tanpa alasan, mengampuni dan melupakan dengan mudah, dan menaruh kepercayaan tanpa mencoba mengetesnya terlebih dahulu, menerima apa yang dikatakan orang-orang dewasa dengan mudah.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku cukup rendah hati dan jujur serta terbuka sesama?

1 COMMENT

  1. Untuk jujur terbuka dengan sesama mungkin saya bisa, tetapi untuk rendah hati saya hanya bisa belajar terus menerus setiap saat… Karena rendah hati itu bukan untuk sesaat saja tetapi untuk selamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here