Keuskupan Ketapang: Jalan Berlumpur Menuju Stasi Tanjung Beringin di Paroki Sepotong

0
86 views
Keuskupa Ketapang: Cerita di Balik Jalan Berlumpur. (ist)

KEUSKUPAN Ketapang merupakan satu keuskupan yang memiliki medan pelayanan yang cukup rumit dan sulit. Di beberapa daerah pedalaman Ketapang, sering ditemukan jalan-jalan berlubang, hancur, becek di saat hujan, berdebu di saat kemarau.

Tidak jarang, kendaraan-kendaraan truk seringkali mengalami kecelakaan, amblas, tergelincir dan membuat kondisi jalanan semakin parah.

Bahkan terkadang kondisi ini membuat antrein kendaraan yang cukup panjang, apabila terdapat truk yang amblas atau bahkan terguling.

Syukurnya pada perjalanan kami dari Ketapang menuju Tanjung Beringin tidak terlalu banyak halangan rintangan yang berarti. Kami tetap bisa menikmati setiap momen bersama di dalam kendaraan roda empat yang dikendarai penulis di rute pertama (Kota Ketapang menuju Nanga Tayap).

Lagu-lagu campur sari menjadi andalan kami untuk menghilangkan rasa mengantuk selama di perjalanan. Penulis sendiri tidak terlalu pandai berbicara dengan bahasa Jawa, tetapi karena lagu-lagu campur sari ini sering kali didengar, akhirnya bisa mengikuti juga.

Terkadang kami bercanda ria sekaligus mendengarkan guyonan Romo Andreas Setyo Budi Sambodo yang biasa kami sebut Romo Busyet ini.

Meskipun ada kalanya beberapa frater termasuk penulis yang mengalami rasa mengantuk sehingga tertidur sejenak sekitar lima belas menitan untuk menyimpan tenaga.

Bukit Keruat, Laur.

Sensasi di jalan

Sedikit gambaran untuk kondisi jalanan yang kami lewati agaknya membuat orang-orang yang belum terbiasa akan merasakan sensasi “mengerikan”.

Sepanjang Ketapang-Benua Kayong, kondisi jalanan masih sangat mulus, tetapi ketika mendekati area Pelang-Inhutani (baca: Indotani), segala macam jalan rusak menjadi penglihatan sepanjang mata memandang.

Lubang-lubang harus kami hindari. Kami berusaha mencari jalan yang agak keras di antara jalanan yang becek dan berlumpur. Terkadang ada sebuah miting (balok kayu di antara jalanan rusak) yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat di tengah-tengah jalan penuh lumpur dan jembatan-jembatan yang rusak.

Ini bisa dialami sepanjang Pelang hingga Sungai Melayu, tetapi ketika mendekati Kecamatan Nanga Tayap, jalanan kembali mulus meskipun ada sedikit jalan yang berlubang.

Jalan berlumpur dan rintangan lainnya belum usai kami hadapi. Setelah beristirahat sejenak di Pastoran Nanga Tayap, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Laur.

Saya bergantian dengan Romo Busyet untuk membawa mobil yang kami tumpangi. Jalur Nanga Tayap-Laur ini melewati daerah Sandai yang jalannya juga masih sangat mulus. Ketika sesampainya di Laur, barang-barang kami turunkan di pelabuhan sungai menggunakan speedboat.

Sementara kami, meluncur menuju Stasi Tanjung Beringin menggunakan kendaraan roda dua.

Dapat dibayangkan, kami melewati jalan berlumpur yang lebih parah dibandingkan saat menggunakan roda empat. Jalan terjal, berbukit, lumpur tanah merah ada di mana-mana.

Bahkan di tengah jalan, ada sebuah jembatan di Desa Sukaramai yang patah sehingga masyarakat berbondong-bondong membuat jembatan alternatif dari pepohonan sekitar dan barulah kami bisa melewati jalan tersebut.

Berfoto di Gereja Paroki Nanga Tayap.

Kami juga menyusuri jembatan gantung di Desa Teluk Mutiara (Kampung Kenyauk). Lima motor yang kami tumpangi nyaris jatuh karena jembatan ternyata bergoyang sehingga kami harus sangat berhati-hati saat melewati jembatan gantung tersebut.

Kami selanjutnya beristirahat sejenak di Paroki Keluarga Kudus Sepotong dan disambut oleh Frater Atnan CP . Kami sebenarnya ingin memohon izin pada Pastor Paroki Sepotong Romo Kanisius Karyono CP untuk mengadakan misa di Stasi Tanjung Beringin.

Hanya saja karena romo tidak berada di tempat, maka kami memohon izin melalui Frater Atnan untuk disampaikan kepada Pastor Paroki.

Kami melepaskan lelah sejenak dan duduk santai di ruang tamu pastoran sembari menyeruput secangkir kopi dan makanan ringan. Situasi pastoran sangat nyaman, pepohonan di mana-mana, lingkungan masih sangat asri dan tenang.

Satu jam berlalu, kami melanjutkan perjalanan menuju Stasi Tanjung Beringin.

Setelah melewati medan yang sulit dan jalan yang penuh lumpur, kami tiba di Stasi Tanjung Beringin sore hari dan disambut oleh umat dan keluarga Frater Mikael Lipo dengan tarian sambutan. Rasa lelah kami terobati dengan antusiasme dari para umat yang hadir menyambut kami.

Medan dan tantangan tersebut penulis refleksikan sebagai perjalanan hidup serta panggilan. Terkadang hidup kita juga penuh dengan lika-liku, jalan berlumpur, berlubang, terjal dan membahayakan.

Tetapi jika konsekuensi itu bisa kita terima dengan hati yang terbuka, maka tantangan seperti apapun dalam hidup pasti dapat kita lewati. Dan di ujung perjalanan telah menanti berbagai sukacita-sukacita yang meneguhkan kembali hidup kita.

Sungguh benar pepatah orang tua zaman dahulu, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Para Frater telah menyadari konsekuensi yang akan mereka hadapi, medan yang akan mereka lewati dan umat yang akan mereka layani.

Namun sejak awal telah memegang komitmen untuk tetap teguh meninggalkan zona nyaman, demi mengasihi Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Kami menikmati perjalanan hidup dan panggilan kami dan inilah piala yang telah Tuhan berikan pada kami, umat-umat Keuskupan Ketapang yang kami cintai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here