Keuskupan Tanjung Selor, Kaltara: Ziarah Iman “Salib Solidaritas” Babak Kedua Berakhir

0
70 views
Prosesi ziarah Salib Solidaritas di wilayah Pastoral Keuskupan Tanjung Selor; tepatnya di wilayah Paroki Mansalong di Kaltara. (Romo Stelo Sanggu Pr)

INI benar-benar perjalanan penuh misteri.

Kepercayaan akan alam semesta dan para leluhur menjadi bagian yang vital di dalam kehidupan harian masyarakat Dayak Agabag, Tahol, dan Kolor.

Mangun artinya Tuhan

Inilah keyakinan yang sangat kuat dan melekat dalam diri mereka. Namun pada titik ini, dimulai dari Stasi Ubol dan hingga ke Stasi Long Bulu, perlahan kepercayaan dan keyakinan pada alam semesta dan para leluhur mulai mengalami peningkatan ke “Mangun”.

“Mangun” artinya Tuhan menurut orang Agabag. Memang di dalam kesadaran kolektif mereka sudah ada konsep “Mangun”, tapi belum terintegrasi.

Melalui para leluhur yang merasuk beberapa anak remaja dan Orang Muda Katolik (OMK) -jumlahnya 16 orang- pesan yang dominan adalah doa bagi jiwa-jiwa mereka yang belum tenang atau belum di surga.

Sudah bisa berdoa sembari berlutut

Pesan ini diwujudnyatakan oleh anak-anak remaja dan OMK yang biasanya di usia mereka sulit untuk melakukannya.

Ketidakbiasaan mereka untuk berlutut sambil berdoa kini sudah menjadi biasa. Menundukkan kepala tanda memberi penghormatan kepada “Mangun” Yesus perlahan-lahan juga sudah melekat di dalam diri mereka.

Mengawali kegiatan dan mengakhiri dengan doa adalah pilihan wajib. Kebiasaan mendaraskan doa Rosario, Salam Maria dan Rosario Kerahiman Ilahi sungguh tidak hanya sebatas melantunkan, tetapi dihayati dan dimaknai.

Bahkan saat meditasi duduk bermenung dan mendengar “Mangun” Yesus adalah kebahagiaan dan sukacita anak remaja dan OMK Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong.

Bagi mereka dalam bersyering, maka pengalaman-pengalaman ini adalah misteri sekaligus mukjizat di dalam hidup mereka

“Bukan yang dilihat manusia itu yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16: 7.

Prosesi ziarah Salib Solidaritas yang berlangsung penuh tantangan di wilayah Paroki Mansalong, Keuskupan Tanjung Selor, Kaltara. (Romo Stelo Sanggu Pr)

Perjalanan penuh tantangan

Perjalanan ziarah di Tahun Misi Solidaritas Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong bersama dengan Yesus yang tersalib bukanlah perjalanan yang berlangsung mulus. Untuk sekian kalinya, tantangan selalu saja telah menghiasi “ziarah iman” umat dan hal itu ikut mewarnai prosesi salib.

Kali ini, ada keraguan -bahkan penolakan- untuk menerima Yesus. Berbagai alasan “penolakan” itu muncul.

Seperti antara lain terungkapkan dalam kalimat-kalimat berikut ini.

  • Umat kami sedikit, banyak yang keluar kampung.
  • Kami takut ada anak-anak yang nantinya bisa kerasukan.
  • Kami tidak punya perahu.
  • Kami tidak tahu bagaimana harus menyambut “Mangun” Yesus.
  • Kami ada kedukaan di kampung.
  • Kami ada acara kematian.
  • Perahu kami dipakai orang untuk acara kematian.
  • Kami tidak punya gereja.
Tantangan melaksanakan program ziarah Salib Solidaritas dengan menyeberang sungai di wilayah Paroki Mansalong, Keuskupan Tanjung Selor di Kaltara. (Romo Stelo Pr)

Hal-hal inilah yang terjadi dalam perjalanan kami di babak kedua. Khususnya dari:

  • Stasi Tukulon;
  • Dari Stasi Tukulon ke Ubol;
  • Dari Ubol ke Sodonggon;
  • Dari Sodongon ke Sukamaju;
  • Dari Sukamaju ke Tambalang Hilir;
  • Dari Tambalang Hilir ke Long Bulu.

Bahkan saat pengantaran salib dari Tambalang Hilir ke Long Bulu -saat kami hendak kembali ke Mansalon- umat Long Bulu malah mengajak kami berdialog dulu tentang situasi dan kondisi.

Acara pengantaran salib dari Long Bulu ke Sumentobol juga bertabrakan dengan acara puncak penghormatan kepada yang meninggal (amakan) yang beragama Kristen Protestan.

Di sini bukan karena umat tidak mau terima. Tetapi mereka kritis bertanya bagaimana kegiatan prosesi salib itu nantinya bisa berjalan lancar. Karena seluruh perahu dari  kampung ini akan dikerahkan menjemput keluarga.

Perahu dari Stasi Long Bulu tidak bisa menjemput dan umat Long bulu mengalami kendala dalam hal dana. Karena fokus sudah pada acara kematian.

Sebagai solusi atas masalah yang dihadapi, anak dan remaja berkomitmen mencari dan meminjamkan perahu milik orangtua. Atas solusi ini, hati para peziarah (remaja dan OMK) menjadi lega karena mereka sendiri telah menyelesaikan persoalan

Prosesi berakhir dengan doa bersama.

Puncak ziarah babak kedua

Babak kedua prosesi Salib Solidaritas telah berlangsung kurun waktu 24 Agustus- 26 September 2021, Perjalanan dimulai dari Stasi Bulu Mangolom, Tukulon, Ubol, Sodongon, Sukamaju, Tambalang Hilir dan Long Bulu berakhir sudah.

Suasana gembira, sukacita dan dukacita, tantangan dan rintangan menjadi badai dan sempat melintasi ziarah. Namun, semua hal itu tidak mengendorkan atau memutuskan semangat jiwa anak, remaja, dan OMK.

Sebagai komitmen, perayaan puncak program ini akan ditutup bertepatan Hari Minggu Misi Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Oktober 2021. Maka, anak, remaja dan OMK akan mengadakan acara khusus untuk anak dan remaja di Stasi Long Bulu tanggal 29 September 2021 (Pesta Malaikat Agung) sebagai puncak Ziarah Babak kedua.

Ada pun acara yang akan dilaksanakan:

  1. Misa bersama anak dan remaja di Gereja Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong. Ini sekaligus penutupan Bulan Kitab Suci Nasional. Dilangsungkan misa inkulturatif, lagu-lagu Perayaan Ekaristi dan musik versi Murut.
  2. Katekese kerahiman Ilahi.
  3. Sosialisasi Tata Perayaan Ekaristi 2020.
  4. Persiapan remaja dan OMK (gladi resik pertama) untuk acara puncak: koor, tarian massal, latihan misdinar untuk penerimaan salib di Stasi Intin, misa penutupan, dan Tahbisan Diakon.

Long Bulu, 26 September 2021

RD. Stelo Sanggu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here