Kini, Vitamin D dari Matahari Jadi Obat Idola Pasien Isoman Covid-19

0
147 views
Ilustrasi: Matahari Tropis dengan Sinar Menguningnya adalah Berkah Tuhan untuk Indonesia. (Romo Mudji Sutrisno SJ)

MATAHARI tak pernah terlambat untuk menyinari bumi.

Tuhan, engkaulah matahari sejatiku.

Sinar matahari begitu terang. Panasnya sudah mulai menyebar ke seluruh bumi sehingga manusia boleh mendapatkan manfaatnya.

Cucian hari ini pasti bisa langsung kering.

Terimakasih, matahari.

Tak pernah kudengar engkau mengeluh memberi dirimu setiap hari. Kepada kami agar kami bisa menikmati kelebihanmu.

***

Lamunan saya buyar, ketika tiba-tiba seorang teman menyapaku. Saat baru mau mulai dinas pagi hari ini.

“Hai, Suster. Bertemu lagi ya.”

“Halo juga. Wah, puji Tuhan ya, Mas. Kamu bisa bekerja bareng kita lagi.”

“Iya, Suster. Wis cukup sekali saja merasakan terisolasi. Yang penting. sekarang kita bisa bekerja bersama lagi.”

“Iya, Mas. Semangat. Tapi ngomong-ngomong, gimana rasanya selama isoman? Ada nggak pengalaman yang aneh gitu?”

Tenaga kesehatan selalu berada di ujung tanduk di masa pandemi Covid-19. (Ist)

Dengan tersenyum sambil menghela nafas, dia lalu menjawab begini.

”Ketika saya dinyatakan positif Covid-19, sungguh -walaupun saya seorang nakes- saya sempat merasa takut.

Saya bertanya-tanya apakah keadaan saya akan bisa membaik lagi, ketika menjalani isoman. Saya memang sudah bergejala, walau masih ringan yaitu batuk-batuk, flu, dan sedikit demam.

Saya memberi tahu isteri. Ia lalu menyiapkan satu ruangan di bagian belakang rumah kami untuk isoman.”

“Wah, kalian suami isteri solid. Kerjasama yang baik ya. Mas.”

“Harus itu, Suster. Kerap saya video call dengan anak saya. Ia masih kecil. Bicaranya belum terlalu jelas. Tapi mendengar suaranya saja saya sudah semangat, Suster.

Lalu setiap hari saya ‘berburu’ matahari. Selesai sarapan, saya pasti berjemur. Suster lihat atau tidak saya makin hitam, kan?”

“Iya, ya. Saya baru perhatikan. Tapi perasaan memang dari dulu kamu sudah hitam toh.”

“Saya memang hitam manis, tapi sekarang hitam gosong. Itu kan yang akan Suster katakan?”

“Ha ha ha. Untung bukan saya yang mengataannya.”

***

Memang Vitamin D itu sangat penting. Vitamin D berperan sebagai modulasi sistem imun dan menghambat pengeluaran sitokin proinflamasi dan meningkatkan sitokin yang bersifat antiinflamasi.

Sinar matahari yang cukup bisa merangsang produksi alami vitamin D alami dalam tubuh.

Tubuh manusia butuh Vitamin D. Salah sumbernya adalah sinar matahari.

Vitamin terkandung dalam sinar matahari ini memiliki banyak fungsi.

Antara lain, ia membuat sistem kekebalan tubuh bekerja dengan normal.”

“Wah. Benar sekali penjelasan suster itu. Tapi Vitamin D juga menjadi masalah pada pasien isoman.”

“Lho, kok menjadi masalah, Mas?”

“Ya, masalahlah, Suster. Isoman dan berjemur membuat orang tak bisa ke mana-mana. Padahal kami butuh Vitamin D alias Duit.”

“Ah, sialan.”

***

Masih ada Vitamin D yang lain yang diperlukan tidak hanya oleh pasien isoman, tapi semua orang: Vitamin Doa.

Bisa diperoleh gratis dan diberikan gratis pula.

Selain Vitamin D, istirahat sangat dibutuhkan oleh tubuh selama isoman.

Istirahat membuat tubuh segar.

Antibodi dapat bekerja sepenuhnya melawan virus.

***

Segala sesuatu ada waktunya. Demikian nahas pada Kitab Pengkotbah 3:1-8

Sejak seluruh dunia dilanda pandemi Covid-19 1,5 tahun lalu, dampak yang ditimbulkan tak kunjung reda. Bahkan situasinya semakin meresahkan dan terasa sangat mengecam.

Akibatnya, kehidupan normal masa lalu terasa hanya tinggal kenangan belaka.

Semua bertanya: “Kapan situasi akan membaik?”

Banyak keluarga yang kehilangan orang-orang yang disayang. Suami kehilangan isterinya. Anak kehilangan orangtuanya. Isteri kehilangan suami dan anak-anaknya. Bahkan satu keluarga bisa kehilangan semua anggotanya dalam hitungan minggu.

Semua ini dampak dari virus corona.

***

Setiap hari selalu saja ada berita duka. Kesedihan terus menyelimuti muka bumi ini. Pemakaman yang dahulu jarang dikunjungi, saat ini bahkan seperti pasar. Jadi tempat orang mengantri untuk sekedar meletakkan tubuh yang sudah tak bernyawa lagi.

Terdengar isak tangis mereka yang mengingat kenangan yang pernah dilalui bersama sanak kerabat yang telah meninggal.

Kenangan yang membekas dalam hati itu akan dilukis dan ditulis oleh tangan Sang Waktu.

Waktulah yang akan menceritakan semuanya itu.

Dan waktulah yang akan menjawab keresahan-keresahan hati setiap insan yang bertanya: “Kapan kita akan bisa bertemu kembali?”

Wahai, Sang waktu, kembalikanlah saat-saat indah itu lagi kepada kami.

Waktu di mana kami bisa menghirup udara yang segar.

Waktu di mana kami bisa kembali ke sekolah.

Waktu di mana kami bisa berjualan seperti dulu lagi.

Waktu di mana kami bisa menjalani masa kuliah seperti dulu.

Ref: https://sesiliaflutist.wordpress.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here