Kiong Koe Berkicau: Apa Yang Membuat Aku Menderita?

0
135 views
Penderitaan

2 Tim: 2-8-15

PENDERITAAN tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Orang bijak mengatakan, “Penderitaan ada, guna membuat orang menjadi dewasa. Namun, tidak semua dari kita yang menanggung penderitaan bisa menerimanya dengan sikap dewasa. Selalu ada yang merasa tertekan, putus asa dan tak berdaya”.

Kira-kira begitulah yang tergambar dalam perjalanan kehidupan manusia selama ini.

Bagaimanapun, kita juga mesti rendah hati dan jujur bahwa dalam kenyataan hidup, tidak semua derita yang kita pikul disebakan oleh karena tugas pewartaan Injil.

Kebanyakan derita yang kita pikul selama ini selalu berhubungan langsung dengan penderitaan karena tuntutan kebutuhan keegoan.

  • Ada yang menderita karena ambisinya untuk menjadi orang kaya tertunda kerena bangkrut.
  • Ada yang menderita kerena lamaran pekerjaannya ditolak di perusahaan.
  • Ada yang menderita karena perceraian dan kematian.
  • Ada yang menderita karena susah mendidik dan mengurus anak.
  • Ada yang menderita karena kehidupan rumah tangga suami dan istrinya tidak bisa akur.
  • Ada yang menderita karena hidupnya dibola kakikan oleh atasannya dll.

Yang menderita karena Injil tidak seberapa banyak jumlahnya. Lihat sekarang, ketika wabah corona virus melanda dunia dan menggerogoti pori-pori ekonomi dunia, semua orang gemetaran dan ketakutan kehilangan banyak hal. Manusia gemetar dan takut sekali kalau tidak ada “sembako”.

Langka sekali yang takut akan Tuhan. Malah wabah ini, telah berhasil memperlihatkan, apa sih yang manusia takutkan sesungguhnya? Dan wabah ini telah berhasil membongkar kemunafikan manusia yang sudah sekian lama mereka tutup-tutupi.

Wabah ini, telah mempublikasikan pada publik di daerah mana  saja dan siapa saja yang masyarakatnya keras kepala yang tidak mau diatur dengan protokol covid 19. Mereka cenderung menyepelekan  dan sesukanya sendiri. Sehingga sikap mereka ini, membuat orang yang disiplin ikut menanggung derita.

Lagi-lagi penderitaan kita selama ini sangat mungkin, lebih banyak mengarah pada urusan duniawi. Sedikit mungkin orang yang menderita karena Injil.

Rasul Paulus berkata, “Karena pewartaan Injil inilah aku banyak menderita, malahan dibelenggu seperti penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu”.

Paulus ikhlas menderita demi Injil karena melihat sabda Allah adalah kebenaran dan kehidupan. Hukum-Nya, membebaskan. Dalam nas yang lain dia berkata, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1Kor 9:16).

Sabda Allah adalah makanan rohani, begitulah kata pujangga Gereja. Pemazmur menyebutnya, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Dan oleh Nabi Yeremia malah bilang begini, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam” (Yer 15:16).

Renungan: Identifikasikanlah penderitaanmu, apakah kita menderita karena Injil atau karena apa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here