Kiong Koe Berkicau: Apakah Saya Benar Kena Covid-19, Saat Berjalan Bersama Allah?

0
199 views
Ilustrasi -- Mengalami kesenderian dan kesepian saat sakit tanpa keluarga (ist)

Yes 66:10-14b

SEBULAN yang lalu, saya melakukan perjalanan darat dari Samarinda-Tanjung Selor dan berlanjut Tanjung Selor-Apau Kayan.

Perjalanan jauh di tengah wabah virus covid-19 turut memunculkan banyak rasa waspada karena takut terpapar virus.

Untuk mengikuti protokol kesehatan, saya pun sempat ikut rapid test di rumah sakit X Samarinda dan hasilnya reaktif.

Banyak yang menyangka hasil tahap selanjutnya saya akan terpapar virus tersebut, tetapi iman sesawiku mengatakan tidak.

Saya cuma terpapar virus kelelahan. Entah publik percaya atau tidak, sekarang virus ini, lebih banyak masuk ke drama politik dan bisnis kesehatan.

Saat saya balik dari Tanjung Selor ke Samarinda lagi lewat darat mau menuju ke Apau Kayan, lagi-lagi saya ikut rapid test di rumah sakit X di Samarinda dan hasilnya kembali reaktif.

Oleh pihak rumah sakit, saya diwajibkan karantina mandiri di rumah. Kembali lagi, iman sesawiku mengatakan tidak.

Jangan-jangan yang terpapar itu bukan saya tetapi “alat kesehatannya”.

Oleh teman-teman di sana, saya diminta untuk tidak berkontak secara langsung dengan mereka. Jadi saya di karantina dalam kamar sendirian. Untuk makanan disajikan khusus dalam rantang, dan diletakkan di depan pintu kamar untuk kemudian saya bisa bersyukur menyantapnya.

Sekarang, benar-benar terjadi.

Kisah dalam Injil tentang orang kusta yang dikucilkan dari “keluarganya” sepertinya, sedang menimpa hidupku.

Bila hidup saya sebelumnya, dianggap dan diterima oleh banyak keluarga, saat reaktif pasca rapid test mereka semua pada menjauh.

Mungkinkah Tuhan sedang menuntunku pada pengalaman manusiawi penderita kusta dalam kisah Injil itu?

Dan dari pengalaman hidupnya, aku diajak melihat tentang bagaimana rasa sakitnya tidak dianggap dan ditolak “keluarga”?

Iman sesawiku tetap berkeyakinan bahwa saya tidak terpapar virus. Saya cuma terpapar virus kelelahan dan kecapekan karena melakukan perjalanan darat yang jauh. Obat yang saya butuhkan adalah istirahat dan ketenangan.

Ketika saya menguasai batinku dengan doa dan bisa berbuah ketenangan maka, semua rasa takutku hilang sirna.

Untuk mendukung iman sebesar sesawi itu, kendati bayarnya cukup mahal, saya melakukan rapid test dan swab di rumah sakit yang lain di Samarinda.

Hoki kali ini, benar-benar berpihak kepadaku. Hasilnya negatif. Begitu, tahu hasilnya negatif, saya langsung berangkat menuju hulu Mahakam lewat darat.

Dalam perjalanan darat itu, saya kembali lagi merenung. Dunia kesehatan bisa juga menjadi dunia kesesatan, bila yang di dalam ada yang suka “main mata”.

Betul kata orang bijak, “Di dunia ini, bila tidak ada Tuhan sebagai pegangan hidup, maka semua hidup manusia akan dimangsa oleh sesamanya”.

Dari kisah ini, saya berkesimpulan bahwa jalan bersama Allah adalah jalan iman. Di sana orang akan melewati tantangan aneka drama dan sandiwara dunia. Dia akan terpapar oleh virus kelelahan dan kecapekan.

Namun, bila orang menggenggam iman sebesar biji sesawi maka, semua tantangan drama dunia dapat terlewati. Nabi Yesaya melukiskan orang yang memiliki iman sebesar sesawi adalah orang yang mengandalkan Allah.

Hati dan telinganya selalu mencodongkan pada mulut Allah. Berkat berupa kesehatan dan keselamatan selalu ada pada dia yang berpaut hati kepada Allah.

Dalam hal itu Yesaya mengutip sabda Allah yang berkata, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” (Yes 66:12-13).

Bagaimana cara kita supaya berkat berupa kesehatan dan keselamatan ini bisa didapati dari Allah?

Menurut usulan dari Tuhan Yesus, cara yang paling mudah untuk mendapati hal itu adalah belajar beriman seperti seorang anak kecil. Kita yang sudah tersandung dan terpapar oleh banyak virus dunia ini, kita mesti bertobat dan kembali pada masa-masa kita menjadi anak kecil di zaman dulu.

Di zaman kecil kita tidak pernah “pakai topeng”. Zaman kecil adalah zaman apa adanya. Zaman orisinal.

Sedang zaman dewasa dan mendekati tua, zaman banyak drama dan sandiwara. Tuhan sepertinya, mules melihat kita kalau terlalu banyak main drama dan sandiwara saat ini.

Renungan: “Buka topeng yuk”

Apau Kayan, 1-10-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here