Kiong Koe Berkicau: Begitulah Hati Seorang Ibu

0
133 views
Semangat dan harapan (Romo A. Suhud SX)

Mat 20:20-28

Dulu ketika masih kecil, ibuku selalu “memberikan hidupnya” untuk kehidupan kami. Ketika dia pergi membantu ke tempat keluarga yang sedang mengadakan hajatan manten, sering kali kalau ada kelebihan makanan, oleh pemilik hajatan disuruhnya untuk dibawa pulang buat kami yang menunggu di rumah.

Kadang memang kami sengaja menunggu dia pulang agar bisa makan menu “istimewa” bersama-sama di rumah. Dengan kata lain, menunggu ibu membawa lauk pauk baru kami bisa makan bareng.

Yang tidak pernah aku lupakan adalah ketika kami semua pada kondisi sangat lapar, dorongan untuk merebutkan makanan yang dibawa ibu bisa menjadi pertengkaran kecil di antara kami anak-anaknya. Ketika kami saling berebutan makanan dan menghabisinya, ibuku baru bilang, “Saya belum makan tadi di sana”.

Ketika kata-kata itu, terdengar di telinga kami, semua menjadi bisu dan malu. Tetapi ucapan ibu selalu menenangkan kami. “Sudahlah yang penting kamu semua kenyang. Jangan hiraukan aku, nanti aku masak lagi untuk aku makan.”

Membaca pengalaman di waktu kecil ini, mengantarkan saya pada sebuah kesadaran hidup. Setidaknya saya menemukan hal ini.

Ibuku rela menyembunyikan rasa laparnya di hadapan kami. Sering kali dia berjuang mencari kehidupan yang layak dan memberikan hidup yang layak tersebut untuk kami. Dia bersedia mengorbankan semua hidupnya demi kami.

Dia tidak sampai hati melihat kami lapar dan haus. Kira-kira seperti itulah hati seorang ibu. Takut melihat anak-anaknya sakit dan menderita kelaparan.

Mungkin gambaran hati ibuku di atas, bisa mengantarkan kita untuk menangkap isi hati ibunya Yakobus dan Yohanes yang meminta “jabatan” kepada Tuhan Yesus.

Melalui permohonannya itu, kita bisa memahami bahwa, ibunya Yakobus seperti halnya ibu kita mempunyai harapan yang baik buat anak-anaknya.

Dia tidak mau melihat anaknya menjadi pengangguran di rumah. Dia mau supaya dengan memperoleh jabatan di tempat Tuhan Yesus, anaknya bisa hidup mandiri dan mapan. Begitulah kira-kira isi perjuangan dari ibunya Yakobus dan Yohanes buat anak-anaknya.

Kalau ada yang bilang, “Ah…ibunya itu sangat ambisius dan materialis sekali. Bagi saya ini, cuma soal perspektif saja. Bagaimana pun, hati seorang ibu tidak mau mundur selangkahpun dan pasrah buta untuk berjuang mendukung supaya anaknya menjadi “orang”.

Saya rasa sikap kegigihan seperti ini, hampir semua dimiliki oleh ibu-ibu kita di rumah. Bagi ibunya Yakobus dan Yohanes tidak penting apakah proposal permohonannya di hadapan Tuhan Yesus dinilai orang sebagai projek ambisius atau materialis.

Bagi dia yang terpenting adalah anakku mesti jadi “orang” dan bisa hidup mandiri untuk hidupnya sendiri. Dan aku, tidak membutuhkan hal yang lain lagi, selain anakku jadi “orang”.

Anakku adalah generasi hidupku, sedangkan aku sudah tua dan hidupku hanya menunggu “panggilan”. Manakala aku sudah tiada di dunia ini, anak-anakku sudah hidup mandiri”.

Melihat perjuangan dan kegigihan ibunya Yakobus dan Yohanes tersebut, sebagai anak kita semakin menyadari bahwa karya ibu kita adalah pahlawan kehidupan bagi hidup kita.

Kalau saat ini kita sudah berada di sebuah titik dan sebagian dari kita sudah menjadi “orang”, maka sadarlah. Sebab dibalik semua itu, ada sosok ibu yang telah rela dan ikhlas menghabiskan hidupnya untuk mendukung hidup kita.

Renungan: Seorang ibu bisa menghabiskan hidupnya demi anak-anaknya, tetapi tidak semua dari anak-anaknya mampu menghabiskan hidupnya demi seorang ibu. Ironisnya di situ”.

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here