Kiong Koe Berkicau: Berjuang Berbagi Telinga

0
156 views
Ilustrasi - Belajar mendengarkan. (Ist)

Mrk 16:15-20

SEMALAM, sehabis Doa Rosario bersama umat di Pastoran Stasi St. Maria Goretti, Agung Baru Sungai Boh, umat stasi mengobrol banyak hal.

Antara tentang kisah tentang kepercayaan “Bungan Malan” leluhur mereka zaman dulu, kisah tentang banyak ikan di sungai, banyak babi, rusa, ular sawah di hutan, rumah panjang yang mereka tempati dulu, mandi di sungai tanpa sabun, model pernikahan orang zaman dulu dan lain-lain.

Saya hanya menyimak dan mendengar saja mereka bercerita.

Demi mendengarkan mereka berkisah, saya berjuang dan berusaha hadir di tengah mereka sebagai pendengar, kendati sangat tidak mudah. Karena ada rasa lelah dan godaan mengantuk.

Apa lagi umat di sini, bila sudah asyik bercerita sambil mengopi, lupa semua waktu untuk beristirahat.

Terkadang saya mendengar sambil mengantuk. Dan biasanya, kalau sudah begitu mesti mencari akal dan ketemu, saya mesti ke kamar mandi mencuci muka biar mata bisa kembali melek dan bisa duduk kembali bersama dengan mereka sambil mendengarkan mereka berceritra.

Jadi, hal seperti ini, teringat kembali saat belajar dan kuliah di seminari zaman dulu.

Misionaris zaman dulu bilang seperti ini.

“Dengan mendengarkan mereka mengobrol seperti itu dan menghadirkan diri di tengah umat adalah celah dan momen untuk memasukkan kisah tentang Tuhan Yesus ke dalam kebiasaan mereka.

Dalam kesempatan duduk dan mengobrol bersama, kita bisa saling berbagi kisah, berbagi pengalaman hidup dan berbagi telinga untuk mendengarkan satu dengan yang lain”.

Untuk mengenapi hal itu, petuah bijak almarhum Pastor Pierro Maria Darmo OMI bilang seperti ini.

“Alkitab itu isinya Allah berbagi hidup dengan manusia dalam banyak aspek seperti, hal perhatian, simpati, empati, cinta, kepedulian, pengorbanan dan penderitaan dan lain-lain.

Dan semangat perwartaan tentang Allah tidak semata-mata soal semangat ‘pergi dan berangkat ke sana, tetapi sangat perlu mengalami dulu Allah yang berbagi hidup dalam diri secara pribadi.

Dan untuk itu, perlu duduk dan diam mendengarkan”.

Bersabdalah ya Tuhan, hambamu mendengarkan.

Demikian kata Samuel (bdk. 1 Sam 3:9).

Dalam istilah orang zaman now, “Jangan boro-boro pergi. Menginjili diri lebih dulu sebelum menginjili orang lain.”

Aspek utama dari semua hal di atas adalah “Berbagi telinga untuk mendengarkan orang lain bercerita”.

Terkadang kami imam lemah tidak bisa duduk dengan diam dan tidak bisa “berbagi telinga” untuk mendengarkan umat berkisah.

Lebih sreg didengar daripada mendengarkan.

Bisa jadi benih-benih tentang Allah juga bisa hadir melalui kisah-kisah hidup leluhur mereka zaman dulu kendati saat itu mereka belum mengenal Alkitab seperti generasi sekarang.

Oleh karena itu, duduk diam dan “berbagi telinga” sangat penting sekali dalam hidup bersama.

Rasul Paulus berkata, “Iman timbul dari telinga yang mendengarkan kisah tentang Kristus” (bdk. Rm 10:17).

Selain itu, duduk diam dan “berbagi telinga” dengan orang lain juga sebagai bentuk ungkapan cinta seorang pewarta yang memberi diri sehingga bisa menyatukan hidupnya dengan tempat dia berkarya dan dengan aneka hidup umat setempat.

Refleksi: Apakah telingaku bisa menjadi pendengar yang baik untuk sesamaku?

Apau kayan, 3-12-2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here