Kiong Koe Berkicau: Dari Mata Dunia ke Mata Allah

0
141 views
Ilustrasi: Menu makan mewah tersedia (Mathias Hariyadi)

Ayb 42:1-3. 5-6.12-17

IBUKU pernah didatangi seorang janda ibukota yang berpenampilan glamur. Ia berusia di atas 50 tahun. Pasca kematian suaminya, dia merasa bahwa Allah telah memperlakukan hidupnya dengan tidak adil.

Keadaan ekonomi keluarganya pun ambruk. Demi menghidupi anak-anaknya dan juga mempertahankan gaya hidupnya yang glamur, terpaksa dia rela menjadi pelayan tamu di sebuah hotel.

Dalam pertemuannya dengan ibuku, dia berkata begini:

“Aku mohon bantuan doamu supaya aku dapat suami orang kaya. Menikah dengan orang kaya, hidupku akan tenang dan tidak akan susah-susah begini lagi. Dengan pundi-pundi kekayaan suami, aku bisa beramal kepada orang-orang susah”.

Ibuku yang sudah berpengalaman berumah tangga pun cuma menjawab begini, “Ia nanti aku bantu kamu dalam doa”.

Setelah dia pulang dari rumah ibu, mamak menghubungi saya dan meminta agar saya mendoakan janda tersebut.

Melalui telpon, saya bilang pada ibuku, “Sepertinya orang itu sedang mengalami sakit depresi berat, Bu. Ia sudah halusinasi dan kalau tidak cepat ke psikiater, sangat mungkin dia bisa gila”.

Ibuku sebagai orang desa yang sangat menjaga kelemah lembutan pun, melabrakku dan mengatakan, “Kamu itu kok ngomongnya kasar sekali. Tak tampar mulutmu.”

Aduh kok jadi begini… Daripada berdebat panjang lebar ya… tak diam saja.

Selanjutnya saya bilang, “Ok… Bu nanti tak doakan.”

Dalam hati kecilku, aku pun berontak, maaf…ya bu saya tidak mau mendoakan orang itu mendapatkan suami kaya, tapi sebagai pastor saya akan mendoakan orang itu untuk insyaf.

Mengapa?

Menurutku, janda itu, sepertinya kurang bersyukur dan tidak mau menyesuaikan kondisi hidupnya sendiri. Penampilannya saja glamur kayak gitu…

Mungkin dia seorang penganut hedonisme yaitu sebuah kebiasaan hidup boros dan mengejar kesenangan dan kemewahan duniawi. Tanpa menyadari kondisinya yang sudah bangkrut.

Ia butuh uang demi membiayai gaya hidup yang sangat tinggi. Tuntutan penganut gaya hedon ini selalu mengikuti penampilan yang lagi tren. Tidak mau kalah dengan orang lain, selalu ingin diakui bahwa dia adalah orang kaya.

Bila tidak didukung dengan kondisi materi yang memadai, akhirnya pikiran orang bergaya hedonis ini menjadi tidak realistis. Dampaknya, banyak orang hidup dalam dunia halusinasi.

Orang kalau mengikuti gaya hidup hedonisme, akan merasa tidak pernah puas dengan hidupnya. Tidak pernah mempunyai rasa syukur. Tidak mau menghargai berkat yang nilainya kecil.

Pikirannya tertutup oleh mewahnya duniawi.

Orang bijak berkata, “Jangan ikuti hidup berdasarkan kemauan tetapi hiduplah berdasarkan kemampuan “.

Dan mata kita ini, bila memandangi terus hal-hal yang ada di dunia ini, bila kita tidak pandai untuk mengendalikan, akan jatuh pada godaan besar yang bisa mempengaruhi hidup kita untuk selalu ingin memiliki kenikmatan duniawi terus.

Saat ini, kita mesti berganti “telinga dan mata” seperti Ayub.

Pada saat dia memiliki banyak harta dan kenyamanan hidup bersama anak dan isteri, Ayub merasa sebagai orang yang terberkati. Tetapi setelah mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya, dimana secara perlahan-lahan semua miliknya dihantam tsunami kehidupan, ambruk habis total.

Saat kejadian itu, dia menjadi orang pintar dan menghakimi Allah sebagai predator. Ketika Allah balik bertanya, Ayub malah nampak seperti orang bodoh dan dungu.

Katanya, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri yang memandang Engkau. Oleh karena itu, aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu”.

Ayub kapok setelah lama “melihat dunia”.

Memang kalau mata kita yang masih ” mata duitan, mata jelalatan dan suka main mata dengan dunia kemudian kita ganti pandangan mata kita tertuju hanya kepada Allah” maka semua kebutuhan yang kita miliki akan merasa tercukupi.

St. Theresia Lisieux berkata, “Aku tidak perlu memiliki banyak kebutuhan. Hanya Allah saja sudah cukup”.

Senada dengan itu, Pemazmur bilang, “Hanya Pada Tuhanlah hatiku tenang.”

Renungan: “Ganti kaca mata jangan ke optik dunia, tetapi ke optik surgawi”

Tuhan memberkati.

Apau Kayan, 3.10.2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here