Kiong Koe Berkicau – Jangan Pernah Merasa Dirimu Hebat

0
177 views
Kondisi medan pastoral di wilayah pedalaman Paroki Apau Kayan, Keuskupan Tanjung Selor di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Sungguh butuh mental baja, juga semangat Pptualang untuk mampu dan tahan berkarya di wilayah pedalaman Keuskupan Tanjung Selor, Kaltara. (Romo Sixtus Pr/Keuskupan Tanjung Selor)

Apau kayan, 12-9-2022

Luk 7:1-10

DI HUT tanggal 31 Juli yang lalu, saya benar-benar diberkati oleh Tuhan. Keluarga menghadiai saya sebuah sepeda motor trail Honda.

Betapa kehadiran motor ini benar-benar sangat membantu saya untuk turne pelayanan ke stasi-stasi yang jauh. Mengingat motor bebek Yamaha Z yang saya pakai sebelumnya sudah buntut dan tenaganya sudah menurun.

Betul yang dikatakan orang, “Tidak cuma manusia yang semakin berusia tua yang mengalami kerewelan dan tenaga berkurang tetapi, motor berusia tua juga mempunyai penyakit serupa.”

Karena terlampau rasa senang ingin segera mencoba motor baru ini, saya merasa seperti telah mendadak menjadi peserta motor cross yang gemar touring di jalan belumpur-lumpur.

Begitu saya mulai mencobanya untuk toure ke stasi, wow, tenaga dan daya pacunya sangat kencang. Itu baru pengalaman di musim cuaca tidak berhujan. Bisa jalan santai dan merasa besar kepala. Bisa juga ngebut-ngebutan di jalan berlubang, tanpa memikirkan usia serta kondisi fisik.

Kesenangan padahal yang duniawi memang bisa menjadi “opium” yang melupakan diri.

Begitulah hidup, bila mendapat hadiah motor baru mudah tergoda menjadi manusia lupa diri. Merasa mempunyai sesuatu yang wah, hal lain tidak terpikirkan lagi.

Dari motor yang bisa melaju di jalan berlubang di musim kemarau, kini mendadak ciut ketika cuaca di jalan berubah menjadi musim hujan. Jalan pada lumpur semua dan sangat licin sekali.

Antara mengendari motor dan mengendalikan motor di jalan berlumpur dan jalan gunung licin penurunan, saya benar-benar gemetar ketakutan. Takut tergelincir masuk jurang.

Saat-saat krisis, tak berdaya dan kehabisan akal itulah baru muncul kesadaran. Oh… ternyata hidup yang terlampau happy dan lupa diri karena berada di atas motor yang baru bila tidak dikendalikan dengan hati-hati bisa terjun bebas masuk jurang.

Beruntung Tuhan hadir saat itu menegur dan melumpuhkan kesombongan saya melalui hujan. Jalan dibuat-Nya berlumpur dan licin seketika.

Oleh “hujan” ini, saya disadarkan tidak hanya mengendari hidup dengan hati-hati, tetapi betapa pentingya mengendarai hidup dengan kerendahan hati.

Kerendahan hati telah mengajari dan menyadarkan saya tentang kemampuan dan keterbatasan diri.

Dan dalam Injil hari ini, kesadaran diri telah ditampilkan oleh sikap kerendahan hati seorang perwira. Dia merasa status dan semua bentuk kemurahan hatinya bukan sesuatu hal yang dia banggakan.

Itu semua adalah sarana dan kemampuan yang dititipkan oleh Tuhan kepadanya. Hidupnya sendiri pun dia berpikir sebagai miliknya Tuhan.

Dia tidak merasa sebagai orang berjasa untuk hidup orang lain. Dia tetap rendah hati mengakui dirinya bukan siapa-siapa.

Bahkan dia tetap sadar bahwa dia orang yang tidak patut untuk bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung.

Ada perasaan jarak yang begitu jauh antara keberadaan dia dengan Tuhan Yesus. Apa itu? Ya…kerapuhannya dia sebagai orang berdosa.

Sikap imannya inilah yang menghentak Tuhan Yesus. Ini sikap iman yang langka di antara sekian banyak manusia yang behari-hari bejubel-jubel mengikuti Tuhan Yesus.

Kesadaran akan “jarak ini”, menjadi pintu bagi dia untuk memperoleh tempat di hati Tuhan Yesus.

Sikap kerendahan hatinya telah mempertemukan hidup hambanya dengan Tuhan Yesus.

Refleksi: “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” (Ams 22:4).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here