Kiong Koe Berkicau – Menjadi Manusia yang Tahu Diri

0
174 views
Ilustrasi - Sikap tahu diri (IDNews)


Apau kayan, 9-9-2022

Luk 6:39-42

KITA sering kali menggangap diri sebagai manusia dalam bertutur kata dan beperilaku. Namun, dalam kehidupan sehari-hari peran dan fungsi tutur kata dan perilaku manusia kita terlihat tengelam dan hilang.

Malah sebaliknya entah kita sadar atau tidak, kesan yang muncul kepublik adalah tutur kata dan perilaku kita yang lebih menonjol adalah seperti Tuhan dalam hal mengadili dan menghakimi sesama.

Ambilah contoh berita yang lagi viral belakangan ini yaitu, kasus FS yang disangka telah menghilangkan nyawa ajudannya sendiri. Kendati awalnya ia merekayasa dan berbohong bukan sebagai pelakunya. Namun belakangan karena dipreteli kekuatannya, akhirnya ia pun mengakui juga dirinya adalah pelakunya.

Okelah kita semua kecewa karena telah dibohongi beliau. Namun, bila kita melihat reaksi publik dengan aneka komentarnya “di medsos”, sampai detik ini mengerikan.

Komentar nada-nada penghinaan, mengadili dan penghakiman begitu tajam. Sepertinya hukum alam tabur-tuai sedang berlangsung pada kasus itu.

Kadang saya berpikir menjadi pejabat publik itu risiko dan tanggungjawabnya sangat berat. Hari-hari gerak-gerik hidupnya diintip sana-sini oleh publik.

Ia benar-benar menjadi makluk yang tidak bebas dalam bergerak dan bertutur kerena dia diawasi publik setiap saat. Salah bertutur dan melangkah saja, selesai. Anda akan di-bully habis-habisan.

Inilah fakta yang terjadi hari-hari dalam hidup manusia. Risiko hidup bertetangga, bemasyarakat dan bernegara, ya…siap mental yang kuat.

Betul juga yang dikatakan oleh orang bijak, “Yang pantas menjadi pejabat publik adalah mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”.

Kalau cuma sekedar berpikir aji mumpung, sebaiknya lengowo tak perlu tergiur ke sana.

Tuhan Yesus -lewat Injil-Nya hari ini- lagi-lagi mengingatkan kita untuk belajar mengenal diri dengan baik. Segala bentuk status atau jabatan yang melekat, entah karena diberi oleh Tuhan lewat negara atau oleh Tuhan lewat lembaga rohani, tidak serta merta kita sudah beres dalam banyak hal.

Jangan pernah merasa bahwa jabatan menjamin kesucian seseorang.

Betapa pentingnya kesadaran untuk mengenal diri dengan baik di hadapan Allah. Orang yang kelihatan gagah dan sehat serta saleh tidak berarti dia tidak punya “sakit” bawaan.

Guru bijak di Tiongkok berkata, “Di dalam yang putih pasti ada setitik noda hitam dan di dalam noda yang hitam pasti ada setitik hal yang putih”. Itulah fakta kehidupan manusia. Yang benar-benar putih itu cuma Allah. Manusia tidak memilikinya. Jadi, mari sadar diri jangan kelewat batas mengadili dan menghakimi sesama.

Oscar Wilde seorang novelis dan penyair Irlandia berkata, “Orang suci punya masa lalu yang kelam dan orang berdosa punya masa depan”.

Refleksi: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”. (Mat 7:1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here