Kiong Koe Berkicau: Menjadi Pemberita Kabar Baik

0
110 views
Wartakan Injil

Mrk. 16:15-18.

“Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil”.

Demikian bunyi pesan amanat agung Tuhan Yesus kepada para murid-murid-Nya. Para murid-Nya diberikan tugas dan tanggungjawab untuk memberitakan kabar baik.

Injil tidak boleh lagi dibuat menjadi barang keramat atau antik untuk dimuseumkan di rumah. Sejatinya, Injil hendaknya menjadi model dan tren gaya hidup para pengikut Tuhan Yesus, sehingga setiap insan yang terpenjara oleh pelbagai tekanan hidup bisa menghirup damai dan sukacita.

Namun, penting sekali di tengah dinamika hidup manusia yang beraneka ragam ini, pemberitaan Injil mesti ditunjang dengan kreatif dan kemasan yang bisa memikat banyak orang.

Bila tidak begitu, Injil akan mengalami mati gaya.

Pemberitaan Injil kepada generasi “jadul” berbeda dengan pemberitaan Injil pada generasi milenial. Pemberitaan Injil untuk warga di kota berbeda dengan pemberitaan Injil warga pedalaman.

Singkatnya, pemberita Injil mesti mengenal tempat dan konteks.

Saya mengutip petuah bijak guru homelitika kami almarhum Pastor Prof.Dr. Berthold Anton Pareira O.Carm yang pernah bilang begini:

“Keberhasilan seorang Pemberita Injil, bukan terletak pada lelucon yang bisa membuat audiens tertawa ngangkak dan terpingkal-pingkal. Sukacita Injil, erat kaitannya dengan pertobatan hidup. Kalau ada umat yang bertobat oleh karena pemberitaan Injil, di situlah baru ada keberhasilan dan itulah yang disebut sukacita.”

Nampaknya petuah ini berat. Sebuah tuntutan dan perjuangan hidup bagi setiap imam dan dan anak-anak Allah.

Mengapa?

Karena seorang pembawa sukacita Injil mesti mewarnai seluruh hidupnya penuh dengan contoh keteladanan. Ia mesti menjadi “insan antik dan langka” di tengah umat yang hidup imannya sudah hambar tak ada rasa.

Dalam hal contoh keteladanan ini, ada orang bijak berkata, “Semua orang bisa berbicara tentang contoh keteladanan, tetapi menjadikan contoh keteladanan untuk diikuti orang itu, merupakan sebuah perjuangan yang berat dalam hidup manusia”.

Oleh karena itu, ada baiknya kita berpikir dan merenungkan dulu sebelum memberitakan Injil.

Tuhan Yesus tidak hanya memberikan resep hidup bahagia bagi pasien yang sakit. Dia memberikan resep sekaligus obat bahagia bagi setiap pasien yang sakit.

Itulah contoh konkrit dari Injil yang Dia beritakan.

Renungan: Apakah hidupku bisa menjadi contoh Injil bagi sesamaku?

Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here