Kisah Keledai: Syikalus Milik Bileam (2)

0
113 views
Keledai by Wikipedia.

AKU dipanggil Syikalus. Kalau sepupuku jauh Si Uldi sudah tua, aku masih cukup perkasa.

Usiaku kira-kira 20 tahun. Dipelihara tuanku sejak pisah susu dari indukku, aku dirawat dengan baik.

Aku tinggal dalam keluarga Bileam, anak Beor. Rumahnya sangat asri di tepi sungai di Petor dekat sungai Effrat, seperti tertulis.

Alamat ini masih menimbulkan tanya. Ada yang bilang di daerah Petora, di daerah orang Amon di tepi Sungai Yabok, seperti prasasti tentang Bileam tertanggal abad 8 Sebelum Masehi.

Lalu, Petor, dalam bahasa Ibrani Petora sama dengan Pitru, kota di tepi sungai, seperti dicatat dalam laporan Kerajaan Asiria.

Sungai itu dikenal sebagai Sungai Sajur, salah satu anak Sungai Efrat.

Tepat, teman, dugaanmu.

Majikanku, Tuan Bileam, adalah salah satu orang terpandai di kawasan sebelah barat Mesopotamia. Orang mengenalnya sebagai ahli nujum, dengan kemampuan meramal masa depan.

Bahkan, tuanku memiliki kemampuan menenung orang.

Banyak raja, pangeran, panglima perang, pesohor dan orang kaya datang ke rumah tuanku. Mereka meminta jasa tuanku untuk membantu dalam banyak hal.

Aku sendiri tidak tahu persis maksud mereka satu demi satu.

Yang pasti, setiap kali mereka meninggalkan rumah di tepi Efrat ini, wajah mereka berbinar.

Hingga saat matahari hampir menghampiri di tempat  istirahatnya, setelah berjalan selama 20 hari, sepupuku jauh, bercerita, “Kak, aku pergi ke rumahmu setelah mendengar kegentaran di hati rajaku. Hati majikanku, raja Moab, menjadi ciut. Kegagahan hilang dari jiwa Balak  anak Zipor.”

“Begitu?”

“Mereka melihat orang-orang yang baru bebas dari perbudakan di Mesir seperti kumpulan orang banyak itu akan membabat habis segala sesuatu ada di sekitar kita, seperti seekor lembu memakan semua rumput di ladang,” jawab sepupuku, Asinus, yang tinggal di tepian Laut Mati, sebuah danau yang sangat asin.

Di keheningan malam, kami dengar permintaan para utusan menyampaikan surat, “Suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku.

Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.” (Bil. 22:5-6).

Setelah menerima upah, tuanku Bileam menjawab, “Tuan-tuan, istirahatlah dahulu. Besok pagi aku sampaikan pesan Tuhan kepada rajamu.”

Keesokan hari, kami mendengar ucapan tuanku. “Tuan-tuan, mohon maaf, saya tidak dapat pergi bersama anda sekalian ke Moab. Semalam Tuhan berpesan kepadaku untuk disampaikan kepada Raja Balak di Moab. Inilah pesan-Nya: Janganlah engkau mengutuki bangsa yang baru keluar dari Mesir sebab mereka telah diberkati.” (Bil. 22:12)

“Aku mengkhawatirkan tuanku. Kali ini ia bertindak benar. Semoga tuanmu juga begitu,” kataku saat menyampaikan selamat jalan pada Si Asinus dari danau asin itu.

“Pergilah kalian ke negeri kalian dalam damai.” Ite in terram vestram in pace.

“Semoga.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here