Kisah Miskinnya Romo Liem Tjay: Kecil Jualan Bakpao Balong, Besar Jualan Firman Tuhan (1)

0
594 views
Mica bersama Liem Tjay yang berdiri di kanan. (Koleksi keluarga Liem Tjay)

MENYAPA hangat Mak Tiplek di rumahnya di Banyumas.

“Mak Tiplek, lagi masak apa?,” sapa Liem Tjay.

“Wow, pagi, Romo sudah jalan keliling mana saja.  Ini saya baru bangun. Saya agak kesiangan. Saya lagi buat nagasari,” jawab Mak Tjiplek sambil membungkus adonan tepung dengan daun pisang.

Setiap kali Liem Tjay jalan pagi keliling kota Banyumas, Liem Tjay selalu mampir ke rumah Mak Tiplek. Sekedar mau menyapa Mak Tiplek.

Kadang Liem Tjay singgah untuk minum kopi dan menikmati nagasari yang masih hangat.

Pentingnya menyapa

Menyapa orang kecil itu adalah sarapan rohani bagi Liem Tjay sebagai seorang pastor di tepian Sungai Serayu yang tenang dan teduh.

Menyapa itu menciptakan komunikasi personal dan menyalurkan energi positip. Menyapa itu reksa pastoral yang murah, murah meriah, sederhana, praktis.

Modal yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka.

Dengan “menyapa”, orang lain dihargai, merasa “di-manusia-kan”. Dalam bahasa Jawa, orang lalu merasa dirinya sudah “di-wong-ake”.

Mak Tiplek sedang buat nagasari di dapur rumahnya di tepian Sungai Serayu di Banyumas, Jateng. (Liem Tjay)

Mak Tiplek adalah salah satu sekian banyak umat Katolik yang sudah sepuh (tua) dan tinggal di Banyumas. Sebuah kota tua tak jauh dari Purwokerto.

Banyak orang tua suka menikmati hidup masa tua di Banyumas. Mereka masih bekerja ringan, tapi sangat tekun dan merasa senang sambil membuat kue tradisional. Seperti nagasari, golang galing.

Mak Tiplek, seorang janda, mengingatkan Liem Tjay akan  sosok mamanya. Setidaknya sudah 50 tahun yang lalu di Solo, tempat kelahirannya.

Liem Tjay jadi teringat dan sadar bahwa dirinya berasal dari keluarga pembuat  “bakpao”, kue tradisional di Solo.

Beginilah kisah sebuah perjalanan hidup dari penjual bakpao sampai di kemudian hari “alih profesi” menjadi seorang penjual firman. Dan inilah kisah nyata pengalaman hidup masa kecil yang miskin sebagaimana dialami oleh Liem Tjay. Seorang romo Katolik dari Balong, Solo.

Asal kata bakpao

Begitu banyak makanan dan jajanan di Indonesia yang diawali dengan suku kata “bak”. Taruhlah itu seperti bakpao, bakso, bakwan, bakpia, bakmi, dan mungkin masih ada lagi yang lain.

Ironisnya, banyak di antara kita yang tidak mengerti arti sebetulnya atau asal kata dari makanan-makanan di atas. Bahkan, bisa jadi sampai sang penjualnya pun sendiri kadang juga tidak tahu.

Kata “bak” diambil dari bahasa Hokkian yang artinya daging. Namun, seiring dengan kebiasaan orang Tiongkok yang lebih senang makan daging babi daripada daging merah yang lainnya, maka kata bak pun mengalami spesialisasi. Yaitu pergeseran makna dari umum ke khusus.

Jadi, pada awalnya, arti dari kata bakpao adalah daging babi yang dibungkus. Karena kata pao berarti bungkusan.

Kampung Kepanjen Balong: Kampung Tenongan

Ada bakpao Balong di Kampung Kepanjen, di sekitaran Jl. Balong, Solo. Kepanjen Balong di kota Solo ini sejak dulu sangat terkenal dengan aneka jajanan pasar sampai sekarang. Hampir setiap keluarga di sepanjang Kampung Kepanjen Balong bisa bertahan hidup justru karena sehari-harinya mencari nafkahnya dengan membuat dan jualan kue kampung.

Jajan pasar adalah sebutan kue kue tingkat bawah. Makanan sekunder kelas rakyat.

Taruhlah itu seperti kue moho, wajik, banggreng, limpung (telo goreng), kue lapis, nasi langgi, apem, pia-pia kompyang, nasi bandeng, nasi oseng-oseng, nasi bandeng, gimbal udang, serabi, kue mangkok, pecel ndeso, rondo royal, oyol oyol, cakwee, bakcang, sate-kere, serabi juruh, mendhut, semar mendem, nagasari, gembukan, bolang baling, kue ku  (kue kura kura), prastel, klepon, carang gesing, timus, lentho, ketan bubuk, cenil, tahu brontak, jenang gendhul, kue cara.

Dan masih banyak lagi lainnya.

Kue-kue itu diatur rapi oleh seorang bakul (penjual) dan kemudian ditaruh di dalam sebuah tempat yang terbuat dari bambu. Namanya tenongan (tempat makanan berbentuk bundar dianyam dari bambu bertingkat tiga).

Lalu Mbok-mbok  penjual itu mengendong tenongan sambil menawarkan jajanan ke rumah-rumah.

Rumah kuno di Kampung Kepanjen Balong di mana dulu sekali Bah Emil dan Mica selalu memproduksi bakpao kemasan rumah tangga di Solo (Liem Tjay).

Makna tenongan

Warga keturunan Tionghoa masih banyak yang tinggal di Kampung Kepanjen, berbaur dengan etnis Jawa. Rumah di kampung ini saling berdempetan. Berada di dalam gang sempit yang kebanyakan sulit dilewati kendaraan roda empat.

Interaksi antar etnis tampak. Antara lain terlihat pada banyaknya menu khazanah kuliner mereka. Beberapa rumah tangga di Kampung Kepanjen masih membuat kue-kue jajanan pasar seperti ini. Sehingga disebut Kampung Tenongan.

Menurut Liem Tjay, tenongan secara simbolis menjadi wadah, tempat kesatuan pribadi, keluarga suku Jawa dan keturunan Tionghoa.

Maka pembauran antar suku Tionghoa dan Jawa sudah sangat lama, dan  sangat kental dan menyatu. Bagaikan setiap pagi mereka membuat adonan roti, adonan tepung sebagai bahan dasar pembuatan kue-kue, jajan pasar, jajan kampung.

Tenongan di tangan bakul-bakul di Solo zaman kolonial Belanda. (Istimewa)

Tinggal di Kampung Kepanjen Balong

Keluarga Liem Tjay tinggal di kampung Kepanjen Balong. Papa dan mamanya sejak zaman dulu selalu buat bakpao dan matjikue. Dilakoni sejak tahun 1970. Ini urusan perut dan bukan sekedar gaya-gayaan.

Bakpao adalah bak (daging babi) yang dibungkus (pao) dengan adonan tepung lalu dikukus.

Matjikue adalah kue kukusan berisi kacang wijen. Bahan dasarnya adalah kacang wijen yang digoreng lalu ditumbuk dengan gula sampai halus lalu dibungkus dengan adonan tepung. Bentuk teksturnya adalah lonjong, bukan bulat seperti bakpao.

Bantu papa (Bah Emil) dan mama (Mica)

Orang Kampung Balong mengenal papa Liem Tjay dengan nama Babah Emil. Sedang Liem Tjay dan saudara-saudaranya menyebut mamanya dengan panggilan Mica. 

Setiap pagi pukul 04.30, Liem Tjay disuruh membuat adonan. Tepung, air, gula, soda, gist roti harus diaduk dan diulet-ulet dengan tangan sampai menjadi adonan yang putih dan lembut. Di atas sebuah meja mamer.

Berbekal terang sinar dari lampu teplok, papanya selalu mengajari dan memberi contoh bagaimana gerakan mengulet semua bahan itu. Harus secara teratur, pelan, penuh perasaan,dan juga kuat sehingga menjadi adonan yang putih dan lembut.

Ilustrasi: Lampu teplok (Eko Wahyono)

Bah Emil adalah seorang ayah dan “guru” mengulet adonan secara manual. Papanya sering menegur, bila ada gerakan tangan salah atau kurang kuat dalam mengulet.

Liem Tjay pelan-pelan dari hari ke hari menjadi terampil membuat adonan yang putih dan lembut. Sementara Mica menyiapkan daging babi cincang yang sudah diolah dengan bumbu dan tepung wijen yang manis sebagai isi untuk kue bakpao dan matjikue.

Membuat adonan berkualitas

Bahan tepung, gula, air, soda, gist roti harus dicampur dan menyatu menjadi adonan.

Gist adalah ragi roti fregmentasi untuk mengembangkan campuran tadi. Bagaimana adonan yang dihasilkan berkualitas.

Di-ulet bisa diartikan di-aduk dengan gerakan tangan secara alami, pelan dengan irama teratur dan pasti dan tenaga yang keluar dari dalam hati, karsa yang baik. Lama kelamaan bahan itu menyatu dan berubah menjadi adonan yang putih dan lembut.

Penjaja bawa keranjang ke sekolah

Setelah selesai bantu, Liem Tjay berangkat ke sekolah sambil bawa keranjang isi bakpao dan matjikue. Liem Tjay selalu ikut misa harian pukul 06.15 di Gereja Santo Antonius Purbayan, Solo.

Pak Sastrowinoto (alm), koster gereja, selalu dengan sabar mengatakan: ”Liem, keranjang itu kamu letakkan saja di samping almari pakaian misdinar”.

Dinnen (melayani misa) dengan rajin itu akan mendatangkan banyak berkat dari Tuhan,” kata Pak Sastrowinoto yang selalu memberi semangat bagi Liem Tjay untuk setia menjadi misdinar.

Gereja Purbayan Solo (holistikasaya)

Liem Tjay melayani misa harian. Misdinar rutin misa kedua dengan Romo Sontobudojo SJ (alm) itu dia lakoni setiap pagi (1972-1976). Setelah misa, Liem Tjay lanjut berjalan kaki menuju sekolah SDK Kanisus Keprabon II dan SMP Bintang Laut.

Sampai di sekolah, Liem Tjay lalu menitipkan bakpao ke kantin untuk bisa dijualkan.

Ia ambil keranjang bakpaonya lagi, usai sekolah. Uang hasil penjualan kemudian dibelikan gula, tepung, wijen di Pasar Gede, sambil berjalan pulang ke rumah.

Kebiasaan membentuk kepribadian

Orangtuanya menanamkan pendidikan nilai. Liem Tjay secara otomatis lalu dibentuk menjadi sosok pribadi sederhana, ulet, dan tekun menjalani rutinitas hidup.

Menjual dan menjajakan dengan membawa keranjang ke sekolah itu bagaimana pun telah menanamkan nilai rasa percaya diri. Juga mau belajar menerima kenyataan hidup miskin, serba berkekurangan yang terus diperjuangkan.

Apalagi semenjak Bah Emil (papa) meninggal tahun 1975. Liem Tjay dengan tiga saudaranya harus berjuang keras membantu mamanya. Untuk tetap bertahan hidup dan bisa sekolah. Lagi-lagi ya harus rela berjualan bakpao.

Itulah kisah Liem Tjay. Seorang pastor, romo Katolik, asal Balong Solo. Tak lain dia adalah anak kandung Bah Emil dan Mica. Sebuah keluarga Tionghoa miskin di Solo yang setiap hari selalu saja tanpa putus harus membuat bakpao dan matjikue.

Demi hidup. Dan kemudian menyuruh anak lelakinya bisa menjualnya di kantin sekolah. Setelah Liem Tjay ikut misa harian dengan menjadi misdinar di Gereja Santo Antonius Paroki Purbayan, Solo. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here