Kisah Nabi dan Orang Buta

0
35 views
Yesus menyembuhkan Bartimeus. (Ist)

Puncta 30 Mei 2024
Kamis Biasa VIII
Markus 10: 46-52

SEORANG nabi mendengar ada orang buta di pasar yang selalu teriak-teriak menghujat dan mencemoohkannya. “Orang itu pembohong,” katanya dengan lantang.

Nabi itu datang dengan tenang dan memberinya makan. Ia bahkan menyuapi si buta itu.

Sambil duduk menyuapi dengan sabar, ia mendengar ocehan dan cemoohan orang itu tentang dirinya. Nabi itu terus datang setiap pagi menyuapi orang buta yang tidak mengenal siapa yang duduk di depannya. Ia tidak menggubris apa yang dikatakannya.

Suatu ketika sahabat nabi mengganti menyuapi si buta. Si buta itu merasa. Orang ini bukan yang biasanya menyuapinya. Ia bertanya, “Di manakah orang yang biasa menyuapi aku tiap pagi?”

“Dia sudah wafat beberapa waktu yang lalu,” jawab sahabat nabi. “Siapakah orang itu?” tanya si buta.

“Dialah orang yang setiap hari kamu hujat dan kamu hina,” jawab orang itu.

Hikmah dari kisah ini: nabi tersebut telah memberi teladan kebaikan. Kendati diejek dan dicemooh, ia tidak membalas tetapi tetap melakukan kebaikannya. Bagaimanakah dengan kita?

Yesus masuk kota Yerikho. Ada orang buta bernama Bartimeus. Ia berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Orang banyak mencoba menegurnya. Tetapi dia terus berteriak-teriak. Yesus lalu memanggilnya.

Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Orang buta itu menjawab, “Rabuni, semoga aku dapat melihat.”

Yesus mengabulkan permintaan si buta itu, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.”

Seorang yang baik akan selalu ingin berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan. Ia tidak hanya menolong yang memujinya, bahkan orang yang menghujatnya pun tetap ditolong. Mengasihi itu tidak pilih-pilih.

Bagaimanakah kita umat yang mengikuti nabi tersebut? Apakah kita juga mau menolong mereka yang mengumpat, mencemooh, membenci kita?

Kalau nabi tersebut mengasihi sedemikian, mengapa kita membenci orang lain yang tidak merugikan kita?

Pergi ke Panti Rapih,
Karena hatinya perih.
Menolong tanpa pamrih,
Itulah wujud cinta kasih.

Cawas, mengasihi tanpa kata-kata
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here