Klausura Tamat, Saat Medsos Tembus Sekat Tembok Biara

4
276 views
Ilustrasi: Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia "Mendengarkan dengan Hati" (Salesian)

PERKEMBANGAN teknologi informasi atau media sosial (medsos) sungguh membawa perubahan luar biasa di dalam masyarakat.

Lahirnya media sosial ini menjadikan pola perilaku hidup masyarakat mengalami banyak perubahan. Baik budaya, etika, dan juga norma di kalangan masyarakat.

Usia tidak menjadi tolok ukur dalam penggunaan media sosial. Karena hampir semua umat di dunia punya perangkat medsos dan kemudian menggunakannya sebagai sarana guna memperoleh dan menyampaikan informasi.

Medsos daring memanjakan para penggunanya karena mereka bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan forum komunikasi. Terjadi di dalam dunia virtual. Sehingga mampu berkomunikasi dengan teman-teman. Saling erbagi informasi dan juga bercurhat segala.

Perkembangan media sosial yang dahsyat ini telah meningkatkan kemampuan luar biasa dari segelintir orang dan kelompok yang beruntung.

Namun media sosial juga dapat  memenjarakan diri kita dari kehidupan sosial. Kita malah sering mengisolasi diri sendiri. Lalu terlanjur asyik dengan dunia kita sendiri, karena keterikatan kita pada gadget.

Klausura

Tanggal 29 Mei 2022 adalah Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-56. Pada kesempatan itu, Paus Fransiskus menyerukan kepada kita semua untuk selalu mendengarkan dengan telinga hati.

Namun jangankan mendengarkan orang lain. Bahkan untuk sekadar “datang dan melihat” atau bersosialisasi dengan orang lain itu pun sudah sulit.

Yang menjadi pokok keprihatinan saat ini dan yang akan datang adalah kenyataan bahwa medsos kini sudah mulai menerobos klausura-klausura biara.

Klausura adalah bagian biara dengan aktivitasnya yang tertutup untuk umum. Hanya terbuka bagi para religius itu sendiri.

Hidup di dalam tempat klausura (atau kehidupan claustral) dulunya merupakan istilah yang menggambarkan kehidupan monastik seorang rahib atau rubiah sebuah tarekat religius tertutup. Bahasa Inggrisnya adalah enclosure (tertutup).

Klausura (cloister) berasal dari kata Latin claustrum (tempat tertutup). Mengacu pada  suatu lorong beratap untuk berjalan kaki, koridor terbuka, atau arkade terbuka di sepanjang dinding bangunan dan membentuk suatu halaman tengah segi empat atau halaman dalam.

Klausura dalam bahasa Italia disebut “chiusura” yang berarti tempat tertutup. Hanya orang-orang tertentu yang berkepentinganlah yang diizinkan untuk masuk.

Masihkah relevan?

Namun karena situasi atau keadaan dunia yang semakin berkembang khususnya dalam bidang teknologi, mau tidak mau biara-biara harus menyesuaikan diri dan membiasakan diri dengan dunia teknologi.

Bisa kita lihat saat ini, hampir semua rumah-rumah biara memiliki koneksi internet, membangun jaringan, dan terhubung dengan masyarakat luas dengan tujuan dan alasan sebagai sarana dan fasilitas pelayanan dan sebagainya.

Adanya aplikasi medsos seperti WhatsApp, Instagram, YouTube, Tiktok, Facebook dan lainnya membuat batas-batas tembok biara itu “runtuh”.

Boleh dikata, sekarang ini hampir tidak ada batas klausura di alam sebuah kehidupan religius.

Lantas, pertayaannya: apakah arti klausura saat ini? Di manakah letak klausura biara?

Hampir semua aplikasi saat ini mulai juga diakrabi oleh kaum religius. Mereka juga asyik membuat konten-konten secara live.

Dengan mengangkat tema-tema pembicaraan yang kadang kala juga tidak punya makna. Juga sering tidak pas waktu dan momennya.

Kalau pun ditanyai argumennya apa, maka alasan yang bisa dikemukakan adalah ini demi pelayanan tarekat. Disampaikan melalui media sosial.

Masih adakah privasi dalam hidup religius

Banyak muncul komentar kritis dari umat:

  • Romo kok pagi-pagi sudah live?
  • Frater kok setiap hari baik siang, malam, pagi, sore selalu live?
  • Suster kok malam-malam masih live?

Jawabannya mereka sangat klise. Ini demi mengisi waktu, membuang suntuk, pelayanan.

Benarkah demikian? Melayani siapa dan untuk apa?

Pesan Paus di Hari Komsos Sedunia ke-59

Mari kita lihat pesan Paus Fransiskus untuk para religius dalam menggunakan medsos.

Pesan Paus itu terjadi di dokumen Cor Orans atau Hati yang Berdoa. Pesan itu mengingatkan para biarawati untuk mengaplikasikan Konstitusi Apostolik Paus Fransiskus terbitan tahun 2016.

Para biarawati harus menggunakan media sosial dengan bijak sebab tujuan mereka hidup di biara adalah untuk melakukan kontemplasi dengan komunikasi seperlunya.

Jangan sampai medsos menjadi perusak pekerjaan kalian atau penghalang hidup kalian yang didedikasikan untuk komtemplasi.

Demikian imbauan panduan itu.

Jangan jadikan medsos sebagai pelarian untuk membuang waktu atau melarikan diri dari tuntutan hidup membiara.

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here