Konser Virtual Kenang 10 Tahun Meninggalnya Yan Sukanda: Musisi Dayak dan A Loving Father

0
99 views
Alexander Yan Sukanda dari Ketapang di Kalbar menerima penghargaan Kategori Seni Kebudayaan dari Presiden RI tahun 2007. Penghargaan diserahkan oleh Menteri Kebudayaan Jero Wacik di Yogyakarta. (Ist)

SETIAP orang pasti memiliki kenangan bersama orang yang dikasihinya sewaktu hidup. Kenangan-kenangan itu terukir abadi, sekalipun raga telah bersatu dengan ibu pertiwi.

Ada kenangan yang tak terlupakan, ketika perbuatan baik, ingatan-ingatan, teladan-teladan mendarah daging bagi orang yang pernah menjadi bagian di dalam hidup. Seorang yang amat dikasihi akan hidup abadi di dalam sanubari.

Tetapi kisah hidupnya takkan lekang dan mati.

Itulah sejarah putih dari setiap orang yang layak dikisahkan kembali sebagai prasasti. Nama Alexander Yan Sukanda terukir bagi para muridnya yang kini berkelana dalam realitas kehidupan msing-masing.

Sudah 10 tahun berlalu, Alexander Yan Sukanda tetap hidup di dalam karya dan pengabdiannya. Orang-orang yang tidak mengenalnya terheran-heran dengan sosok orang hebat satu ini.

Siapa Al Yan Sukanda yang begitu dikasihi banyak orang di daerahnya?

Mengapa banyak orang muda saat ini masih suka dan sering menyebut namanya, dan lalu tergugah berkarya meneladaninya?

Almarhum adalah sosok budayawan, guru, ayah, sahabat dan rekan dalam seni suara dan musik serta seni kehidupan yang telah diajarkannya.

Konser virtual

Atas kebaikan dan karyanya bagi Gereja dan masyakarat, para murid, orang-orang terkasih, kerabat dan keluarga mencoba mengenang kembali sosoknya di permukaan.

Pada 14 Oktober 2021, para anggota Paduan Suara AMBA (Alunan Maekng Batayoh) dan musisi muda dari Ompe Harmoni bersatu padu. Untuk merilis karya seni musik dan suara dalam suatu konser virtual untuk mengenang sosok Al Yan Sukanda.

Mengenang seniman musik serba bisa almarhum Alexander Yan Sukanda dari Ketapang, Kalbar. (Ist)

10 tahun silam

Alexander Yan Sukanda meninggal pada hari Jumat, 14 Oktober 2011 pukul 06.00 WIB di rumah kediamannya, ketika akan bersiap-siap berangkat ke sekolah.

Ia meninggalkan seorang isteri (Theresia Novita) dan dua orang puteri: Jane Gita Maria (9 tahun lebih) dan Rosalia Gemma Davina (3,5 tahun).

Alexander Yan Sukanda dikenal sebagai sosok pribadi yang disiplin, teguh pada prinsip, dan sederhana serta mengerjakan sesuatu harus menampilkan hasil yang terbaik. Beliau mempunyai semboyan hidup.

“Semua orang diberi kemampuan dan talenta, tidak ada orang bodoh. Yang ada hanyalah orang Bomal alias bolek dan malas,” ungkapnya berkali-kali.

Di balik pribadi yang keras pada prinsip, ia adalah sosok pribadi yang mudah bergaul dan ramah tamah dengan siapa pun. Wajahnya selalu tersenyum kepada siapa pun, sehingga beliau tampak lebih muda dari usianya

Bagi Penulis

Saya memanggil sosok guru besar kami ini dengan sebutan “Om”. Jadi bagi kami semua, ia adalah “orangtua” kami.

Om Yansen adalah sosok yang tegas, tulus namun sangat peduli pada semua orang. Apalagi bagi Gereja, sumbangsihnya sudah sangat banyak dan tidak ada satup un yang tidak megnenal dia.

Saking begitu aktifnya dalam pelayanan Gereja. Terutama mendampingi kaum muda dalam seni suara.

Penulis sendiri masuk paduan suara AMBA sejak 2007, ketika masih duduk di bangku kelas SMA. Karena dia, saya dikenalkan kepada lingkungan Gereja Paroki Katedral St. Gemma Galgani di Ketapang, Kalbar.

Saya diikutsertakan membantu Gereja dan bekerja paruh waktu menjaga warung network Bina Utama (BU) Cyber milik Keuskupan Ketapang.

Dalam catatan yang pernah saya buat dalam blog pribadi saya, sosok Al Yan Sukanda ini merupakan motivator dan pendorong saya untuk maju mengikut jejak sebagai imam yang dia sebut sebagai ‘pria sejati’.

Kegigihannya dalam melayani tiada tandingnya, meskipun dalam keadaan sakit. Ia tak henti-hentinya memberikan nasihat bijak kepada kami untuk tidak malas atau tidak mau berusaha.

Ia adalah sosok dengan banyak bakat. Juga serba bisa, bahkan teknologi komputer bisa dia kuasai. Rumahnya jadi markas besar bagi kami untuk berkumpul.

Banyak sekali alat musik tradisional Dayak terpampang di setiap sudut rumah. Dari sinilah saya mengenal aneka ragam musik Dayak yang tidak banyak diketahui oleh kaum muda.

Tak hanya memperkenalkan, dia juga bermurah hati untuk mengajarkan kami cara memainkannya.

Almarhum Alexander Yan Sukanda (kiri) bersama Romo Mudji Sutrisno SJ dan tokoh budaya lainnya. (Ist)

Almarhum adalah sosok inspirator saya. Jika ada waktu latihan bersama AMBA Choir, saya selalu datang awal untuk berlatih paduan suara. Karena awalnya, saya tidak tahu sama sekali notasi.

Ia menempa saya; dari tidak bisa tapi kini menjadi cukup mahir bermusik. Segala yang dia ajarkan dahulu sangat berguna bagi saya di saat ini.

Khususnya di masa kini, saat saya sedang menjalani formatio sebagai calon imam.

Terakhir kali saya dan teman saya Hendra Jaka Gunawan berjumpa dengan di hutan kota Ketapang sedang memotret burung-burung yang ada di sana. Ia mengatakan hal yang tidak kami duga sebelumnya.

Katanya, ”Indah sekali pemandangan di sini, seperti di surga.”

Kami berdua tidak menyadari apa pun bahwa itu adalah kata terakhir yang kami dengar sebelum  meninggal dunia. Bagaimanapun, saya selalu yakin bahwa orang baik seperti Om Yansen akan mengalami kebahagiaan sempurna bersama Bapa di surga.

Pesan yang sangat kami ingat sebagai petuah ,”Jadikan hidup ini bahagia dan bagikan kebahagiaan kepada sesama. Karena kita hidup tidak lama.”

Arah jarum jam: AMBA resmi berdiri tanggal 18 Juni 1995; tampilan Grup AMBA dan OMPE Harmoni saat ini; almarhum Al Yan Sukanda melatih paduan suara AMBA; dan Al Yan Sukanda (tengah) bersama anggota AMBA dalam acara pengukuhan anggota. (Ist)

Konser virtual

Pandemi covid-19 tidak menjadi penghalang bagi kami untuk membuat karya. Sebulan waktu yang diberikan untuk merekam video, mengirimkannya pada tim kreator dan diposting ke YouTube.

Sebagai paduan suara yang cukup tua di Kota Ketapang, AMBA memiliki anggota sekitar 300-an orang baik yang aktif maupun yang pasif.

Dari anggota yang berprofesi di dunia awam dan juga para imam yang dulu pernah menjadi anggota paduan suara ini, bersatu padu untuk membuat karya virtual tesebut.

Sebulan itu, kami menuntaskan proyek tersebut dan tepat pada 14 Oktober 2021, proyek ini ditayangkan secara daring.

Konser virtual ini sangat menggugah hati kami karena apa yang pernah ditabur oleh Al Yan Sukanda kepada para pemuda-pemudi berbuah lebat di masa depan.

Seorang yang baik akan selalu dikenang sampai kapan pun.

Semangatnya yang penuh ketulusan dan kasih bagi orang-orang yang mengenalnya menjadi warisan kepada generasi penerus. AMBA Choir dan OMPE Harmoni menjadi saksi bahwa pernah ada sosok terbaik yang menjadi jiwa yang terus hidup hingga saat ini.

Berikut Konser Virtual via YouTube yang telah kami buat untuk mengenang 10 tahun Al Yan Sukanda yang dapat diakses di:

Daftar lagu:

  1. Simphoni yang Indah (Robby Lea).
  2. Harmoni (Padi).
  3. Langit Tetap Kan Biru (Lirik: Erik Sulidra; Musik: Apolosius)
  • Komposer: Apolosius.
  • Penyanyi: AMBA Choir.
  • Musisi: Ompe Harmoni.

Kisah hidup Alexander Yan Sukanda

Alexander Yan Sukanda -biasa dipanggil Yansen atau Yan- lahir di Ketapang tanggal 3 April 1964 dengan nama asli Liang Yang Sin.

Ia adalah anak ke-7 dari 10 bersaudara dari pasangan Bapak Agus Kurniawan (almarhum) dan Ny. Sukinah.

Sejak SMP beliau sudah akrab dengan orang-orang Dayak dan bahkan menguasai beberapa bahasa dan budaya beberapa subsuku Dayak di Kabupaten Ketapang.

Riwayat Pendidikan

  1. Bersekolah di SD Usaba Ketapang; lulus tahun 1976.
  2. SMP USABA (SMP PL. Albertus – sekarang); lulus tahun 1979
  3. SMA sempat bersekolah di SMA Kebon Dalem Semarang sekitar 1 tahun; kemudian pindah ke SMA Negeri 1 Ketapang lulus tahun 1982
  4. Tahun 1986 kuliah di ISI Yogyakarta fakultas seni pertunjukan jurusan musik dengan mendapat beasiswa dari PBS Keuskupan Ketapang; lulus tahun 1994.

Riwayat kerja

  1. Sebelum kuliah, sempat bekerja di PT Alas Kusuma kurun waktu tahun 1983-1985.
  2. Setelah lulus dari ISI Yogyakarta tahun 1994 ia langsung bekerja pada lembaga Triu Keadilan, lembaga pendampingan masyarakat di bawah Keuskupan Ketapang sampai dengan tahun 1997.
  3. Mulai tahun 1994, ia sudah mengajar (honorer) pada SMP Santo Augustinus Ketapang. Diangkat menjadi guru SMP Santo Augustinus Ketapang dari tahun 2005 sampai sekarang.
  4. Selain sebagai guru SMP Santo Augustinus, ia juga sempat mengajar di beberapa tempat seperti di SMA Anthiokia Ketapang (1997–1999), SMU Santo Yohanes Ketapang (1998-2002), Novisiat Susteran Augustinus, dan memberi beberapa kursus dan pelatihan.
  5. Sebagai dosen untuk guru-guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) dan PGSD tahun 2010 – sekarang.
Grup AMBA bersama Uskup Keuskupan Ketapang, Kalbar, waktu itu: Mgr. Blasius Pujaraharja saat peresmian Gereja Kemuning Biutak, 3 Januari 2009. (Dok. FB Jephi)

Pelayanan dan berorganisasi

  1. Alexander Yan Sukanda aktif dalam kegiatan menggereja. Ia adalah pendiri Paduan Suara AMBA pada 18 Juni 1995 dan sampai akhir hidupnya masih menjabat sebagai Pembina AMBA. Selain membina pemuda-pemudi dalam kelompok Paduan Suara AMBA, ia juga aktif menjadi pelatih koor, pendampingan kaum muda Katolik, dan pembina asrama.
  2. Pendiri dan Ketua Yayasan Warisan dari tahun 1998 sampai akhir hidupnya.
  3. Pendiri Ompe Harmoni bersama dengan Frans Suma pada 3 April 2005.
  4. Pernah menjadi anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Ketapang, pengurus Dewan Adat Dayak dari tahun 2008,
  5. Penasihat Yayasan Palung Ketapang.
  6. Menjadi salah seorang pendiri Lembaga Institut Dayakologi.
  7. Menjadi anggota beberapa lembaga swadaya masyarakat lainnya.

Hasil karya musik dan lagu

  1. Himne 100 Tahun evangelisasi Keuskupan Ketapang; ditulis bersama Mgr. Blasius Pujaraharja.
  2. Himne TK Santa Theresia.
  3. Mars SMA Santo Yohanes; ditulis bersama Bpk. Yulianus Gumpol.

Penghargaan

Anugerah Kategori Seni Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia tahun 2007 yang diserahkan oleh Menteri Kebudayaan Jero Wacik di Yogyakarta November 2007.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here