Konteks Historis Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” (3)

0
26 views
Air Segar Sumur-sumur Kearifan dan Akal Sehat Bangsa Indonesia.

LIRIK lagu kebangsaan yang mengumandangkan nilai hakiki sebuah tanahair bernama Indonesia dengan pulau dan lautannya yang menundang tiap anak Indonesia untuk mencintainya, memajukannya, mengolah kekayaan sampai semua mendapatkan keselamatan.

Kata “selamat” adalah kata ‘suci’ sejahtera sosial sekaligus religius damai.

Selamatlah rakyatnya yang diperjuangkan oleh anak negeri untuk diwujudkan karena kecintaan untuk terus abadi.

(Seni berjiwa dan tak berjiwa: jiwa tampak), Indonesia Raya jelas berjiwa.

Poci kongkrit -> jadi dunia rupa ‘poci abstrak’ (hal. 254-255)

Anthem Indonesia Raya

Nilai hakiki ‘harus’ muncul dalam sikap dan semangat menyanyikan Indonesia Raya sebagai karya seni lukisan nilai essensi harus tampil sebagai jiwa lukis yang bisa dilihat dalam lukisan.

Dalam konsepsi Soedjojono, lukisan sebagai buah seni adalah ‘jiwa tampak’, (Bahasa Jawa: jiwo kethok), lukisan terbentuk oleh satuan kuas gores jari pelukis dengan passion, greget-nya menyeruak dalam warna-warni ekspresinya.

Dengan analogi yang sama, lagu kebangsaan Wage Rudolf ini terwujud, terkomposisi dalam melodi, lirik lagu hasil proses semangat cinta tanahair Indonesia yang kepulauan dan kelautan.

Ada yang bertanya, mengapa, Wage Rudolf Soepratman dalam mengabstraksikan Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, riil dalam ungkapan ‘pulaunya, lautannya’ (stanza 3)?

Meminjam penjelasan Sanento Yuliman dengan contoh lukisan poci dibandingkan dengan poci konkret (Sanento Yuliman, ‘Estetika yang Merabunkan’, DKJ 2020, hal.254-255), dalam lukisan, Poci menjelma menjadi ‘sesuatu yang lain’, susunan warna dan garis yang mengungkapkan kesatuan rasa, kebendaan poci, kekongkritannya yang digunakan seniman melukis, lenyap menjadi dunia rupa kanvas, dunia imajinasi dengan kodratnya sendiri (Sanento Yuliman, ibid. hal.254).

Pengamat atau pendengar dalam dunia suara, diharapkan melupakan pulau-pulau Jawa, Sumatera dan seterusnya yang kongkret dan harus memusatkan kepekaan pandang dan kehalusan rasa, agar lagu kebangsaan Indonesia Raya menyentuh, menggugah, bahkan mengobarkan emosi kita dalam menyanyikan lirik-liriknya.

Ada ranah atau dunia imajinasi dalam lirik lagu yang diajakkan, kepekaan rasa emosi kita tersapa kala membaca memaknai bait-bait tulisnya.

Namun, juga ranah imajinasi yang dibangkitkan dengan irama mars lagu bersemangat yang diharapkan mengobarkan emosi bersemangat untuk mencintai pulau dan lautnya, tanah dan air Indonesia.

Inilah seni abstraksi (dari bahasa Latin, menarik ke atas: trahere ab) dengan inti tanggapan jawaban emosi (dan rasa) terhadap realitas sekeliling.

Konteks cipta lagu Indonesia Raya historis adalah masa1908-1928, di mana gelora emosi meluap untuk bersatu sebagai bangsa untuk merdeka.

Saat lirik ditulis Wage Rudolf Soepratman dalam lagu kebangsaan dan mau dinyanyikan, konteks sejarah melarangnya karena kekuasaan penjajah masih bercokol.

Sebagai seniman, dengan kreatif, medium musik instrumental yang ‘menyembunyikan kalimat-kalimat tersurat untuk menyemangati tekat merdeka’, harus ditampilkan tersirat melalui melodi musik instrumental.

Namun, jiwanya tetap tampak dalam karya seni agung Indonesia Raya Wage Rudolf Soepratman ini.

Indonesia Raya membawa serta ranah lagu, lirik dan musik serta suara yang menyapa rasa dan meluaskan kesadaran, karena mampu menjadi responsi tekad merdeka dalam satu tanah tumpah darah, tanahair yang sebelumnya selalu dipecah belah dalam identitas-identitas suku oleh Belanda.

Inilah dunia imajinasi, dunia cita-cita yang mengabstraksikan pengalaman pahit berdarah-darah hidup dijajah menjadi semangat janji jadi pandu ibuku, setia berdiri menjaga ibu sejati demi selamat rakyatnya, putera tanah tercinta negeriku Indonesia yang hanya mungkin mencapai cita-cita ini dengan sadar hati dan sadar budi.

Inikah yang yang di tahun-tahun selanjutnya dirangkum oleh Bung Hatta, demi keabadian Indonesia haruslah kita semua menapaki proses mencerdaskan kehidupan bangsa? (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here