Kulit Lupa Kacangnya

0
297 views
Kulit kacang

Bacaan 1: Keb 6:1-11

Injil: Luk 17:11-19

Kita mengenal pepatah “Kacang lupa kulitnya” yang artinya: seseorang yang lupa akan asal-usulnya. Seseorang yang berasal dari desa dan pergi ke kota, menjadi kaya, memiliki jabatan tinggi, dan lupa daratan.

Namun menurutku kalimat yang tepat untuk menggambarkan yang biasa terjadi adalah “kulit lupa kacangnya.”

Kulit kacang pantas dibuang karena hanya kacangnya yang dimakan, kita pun juga demikian. Manusia telah menjadi orang buangan karena mewarisi dosa Adam, namun ditebus lagi oleh Allah lewat kematian Putera-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Dengan penebusan itu, manusia kembali menjadi anak-anak Allah. Namun banyak orang melupakan Tuhan dan kembali berbuat dosa.

Tradisi Israel kuno, orang berpenyakit kusta dianggap najis (harus dijauhi) dan dibuang oleh keluarganya, hidup terpisah di tempat tertentu di pinggiran kota. Tak seorang pun boleh mendekati apalagi menyentuhnya.

Dikisahkan ada sepuluh orang berpenyakit kusta di pinggiran kota.

Saat melihat Yesus mereka berteriak minta disembuhkan, karena kabar Yesus mampu menyembuhkan berbagai penyakit tentu juga sampai ke telinga mereka. Dan Yesus berkenan seraya menyuruh mereka pergi ke tempat imam untuk ditahirkan. Sebab yang punya kuasa untuk menyatakan tahir (tidak najis, kembali sembuh, murni) secara tradisi adalah imam.

Dalam perjalanan menuju ke tempat imam, mereka merasakan kesembuhan total. Salah seorang diantara mereka kembali kepada Tuhan Yesus dan mengucap syukur serta terima kasih.

“Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

Tuhan Yesus membuat kontradiksi bahwa hanya seorang Samaria (dianggap kafir) yang mampu bersyukur dibandingkan sembilan orang Yahudi yang katanya “sangat mengenal Allah”.

Penulis Kitab Kebijaksanaan mengingatkan para pemimpin pemerintahan agar memerintah dengan bijak dan demi kesejahteraan rakyatnya. Mereka harus memerintah sesuai dengan kehendak Allah sebab pemerintahan berasal dari Allah.

Mereka yang menyimpang akan dihukum-Nya.

“…condongkanlah telingamu. Sebab Tuhanlah yang memberi kalian kekuasaan, dan dari Tuhan yang Maha Tinggilah asal pemerintahan.

Ia akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu. Sebab sebenarnya kalian hanyalah abdi kerajaan-Nya.”

Sebagai pemimpin jangan melupakan “Kacangnya”, Sang Pemberi kuasa.

Pesan hari ini

Begitu sulitkah manusia mengucap terima kasih dan bersyukur (termasuk) pada Allah?

“Kalau tiba-tiba kamu melupakanku, jangan pernah mencariku lagi. Karena mungkin aku juga sudah melupakanmu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here