Kuman di Seberang Lautan Tampak

0
241 views
Ilustrasi - Tertuduh karena tidak mau ikut tradisi. (Ist)

Puncta 21.06.21
PW St. Aloysius Gonzaga, Biarawan
Matius 7: 1-5

ADA pepatah mengatakan “Gajah di pelupuk mata tiada tampak, kuman di seberang lautan tampak”.

Hal ini mau menggambarkan kalau kesalahan sendiri – walaupun sebesar gajah – tidak disadari.

Tetapi kesalahan orang lain – walaupun sekecil kuman – mudah sekali dilihat.

Kita cenderung mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak mau melihat kesalahan sendiri.

Apalagi kalau disertai perasaan benci, orang Jawa bilang “dadia banyu emoh nyawuk, dadia godhong emoh nyuwek. (jadi air gak mau menciduk, jadi daun gak mau menyobek)”.

Tidak mau menyentuh sedikit pun, gak sudi berhubungan lagi.

Bahkan bisa-bisa saudara berubah menjadi musuh.

Kesadaran umum, menurut Freud, tokoh psikoanalisis, egoisme pribadi membentuk diri paling benar, paling berkuasa. Orang lain mudah disalahkan.

Kesalahan sekecil apa pun dari orang lain akan menjadi pembenaran ego. Kesalahan yang besar akan disembunyikan oleh ego.

Tidak akan tampak walau itu ada di depan mata sendiri.

Bagi mereka yang bencinya sampai ke langit tingkat tujuh, keseleo lidah yang kecil bisa dianggap sebagai bom atom yang menghancurkan seluruh negeri.

Sementara kesalahannya yang besar ditutup-tutupi dan disembunyikan sampai ke negeri antah berantah.

Yesus berkata, “Janganlah kalian menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Kepada Petrus, Yesus berkata, “Sarungkan pedangmu.”

Orang yang menggunakan pedang akan mati oleh pedang.

Orang yang menggunakan mulut untuk menghujat akan terjerumus oleh ucapannya sendiri.

Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi.

Janganlah membenci supaya kalian tidak dibenci. Kalau yang diajarkan hanya kebencian, kita tidak akan bisa mengasihi.

Kalau tangan kita menunjuk orang lain, sadarlah dan lihatlah bahwa hanya satu jari telunjuk yang mengarah ke orang lain, tetapi tiga jari (jari tengah, manis, kelingking) dikuatkan oleh jempol menunjuk diri kita sendiri.

Mari kita mengubah cara pandang kita. Jangan hanya pakai kacamata gelap. Supaya dunia kita tidak suram.

Gunakan kacamata terang agar kebaikan, keindahan terlihat jelas.

Hidup menjadi indah menyenangkan.

Hidup hanya sekali kok cuma disuruh menghapalkan pelajaran membenci.

Akibatnya, hanya tahu pepatah “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”

Ada singkatan dari kata “agresip”,
Yakni agak grepes tapi masih sip.
Mari kita biasakan berpikir positip.
Jangan menghujat apalagi menggosip.

Cawas, jangan lupa bahagia….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here