L dan S – Dua Bersaudara Sakit Jiwa, Tapi Baumu Kobarkan Semangat Berbagi

0
348 views
Ilustrasi - Gangguan sakit jiwa (Ist)

DENGAN mata membesar, saya menyimak pernyataan Sr. Vianny FSGM.

Tiba-tiba ia berkata, “Setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis, saya memberi makan siang untuk dua orang yang mengalami gangguan kejiwaan.”

Hanya info itu saja yang kudapat dari Sr. Vianny FGSM. Sedikit. Sungguh sangat sedikit.

Padahal, banyak yang ingin saya ketahui tentang mereka. Tak banyak yang dapat saya gali dari ceritanya yang sekelumit itu.

Waktu istirahat sudah habis. Kami harus kembali ke ruang pertemuan.

Waktu itu, siang hari di Griya Anselma, Pringsewu, Lampung, tertanggal 5 Mei 2021.

Mata hati terusik

Pernyataan Sr. Vianny FGSM itu membuat saya penasaran. Berbagai pertanyaan timbul dalam benak saya.

Seperti apa kondisi orang yang sakit jiwa itu? Rumahnya di mana?

Makan siangnya itu diantar atau mereka yang datang ke tempat suster? Kalau diantar, berarti mereka paham jadwalnya?

Di balik sejuta penasaranku itu, ada satu yang tak kalah penting.

Kagum kepada sosok Sr. Vianny FSGM ini.

Ia sungguh mau repot demi kasih dan perhatiannya kepada dua orang yang sakit jiwa itu.

Butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan juga biaya yang juga tidak sedikit.  

Matahati saya terus terusik.

Entah mengapa saya ingin sekali mengunjungi dua orang saudara itu.

Saya mencari waktu yang tepat untuk dapat pergi ke Pringsewu. Bertandang ke kediaman mereka. Pergi bersama Sr. Vianny FGSM. 

Komitmen

Suatu hari, saya mengontak Sr. Vianny.

Saya mengutarakan keinginanku untuk dapat mengunjungi saudara yang sakit jiwa yang pernah Sr. Vianny ceritakan.

“Ya ayok saja,” jawab Sr. Vianny senang.

Dari percakapan di telepon, saya baru tahu namanya.

Mereka adalah L (45) dan S (40).  

Mengunjungi

Tibalah waktu yang disepakati. Selasa, 7 Juni 2021.

Saya berangkat pagi hari menuju Pringsewu. Ada urusan lain, di samping berkunjung ke rumah Lastri dan Sukesi. Perjalanan sekitar 65 km menuju Pringsewu dari komunitasku di Bandarlampung.

Tiba di Pringsewu. Urusan di biara pusat selesai.

Lalu saya melangkahkan kaki sekitar satu kilometer menuju tempat tugas pengutusan Sr. Vianny: Sekolah TK Fransiskus.    

TK Fransiskus Pringsewu ini adalah salah satu karya pendidikan Kongregasi FSGM.

Sekolahnya tidak mentereng. Siswanya berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Syukur pada Tuhan, masih tetap eksis. Masih tetap dilirik dan dicari masyarakat sekitar.

Tangan Tuhan tentu banyak bekerja di dalam karya pelayanan yang satu ini.

Tak pernah kekurangan

Tiba di sekolah TK Fransiskus. Kulihat Sr. Vianny FSGM sedang memasak tumis kangkung. Wajahnya tersenyum saat saya datang.

“Kepala Sekolah yang ‘ngerantasi,’ ujarku dalam hati. Kerja apa saja, oke. Semua dikerjakan dengan penuh tanggungjawab. Baik bidang administrasi, mengajar, katekumen, berkebun, memasak, mau pun memelihara ternak.  

Sambil memasak, Sr. Vianny FSGM lalu mulai bercerita.

Setiap siang ia memasak untuk delapan orang guru. Namun, oleh Sr. Vianny, S dan L diperlakukan sebagai anggota keluarga TK Fransiskus.

Jadi, ia memasak untuk sepuluh orang.

Otomatis pengeluaran biaya makan di unit karya itu bertambah. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.

Ekonomi serba sulit. Namun Sr. Vianny FSGM ingin selalu dapat berbagi dengan orang yang kekurangan. Khususnya kepada L dan S.

“Berbagi itu bukan dari kelebihan kita. Tetapi justru dari kekurangan kita,” ujarnya tenang.

Bagi Sr. Vianny FGSM, berbagi itu justru memberi rasa sukacita. Tanpa pernah merasa takut kekurangan.

Ia yakin, bahwa Allah yang akan mencukupkan kebutuhannya. Tentu saja juga melakukan berbagai daya upaya demi kelangsungan hidup L dan S.

Tangan kasih Sr. Vianny FSGM.

Semangat berbagi

Hampir setiap hari, Sr. Vianny FSGM menyempatkan diri berkebun. Ia menanam berbagai sayuran di kebun sekolahnya. Syukurlah hasil kebunnya lumayan banyak.

Ada yang dimasak. Ada juga yang dijual. Hasilnya, untuk membeli beras jatah Sukesi dan Lastri.

Sekali masak, dua ceting beras untuk mereka berdua. Ia juga menjual telur dari peternakan ayamnya.

Pernah juga ia ‘kepepet’.

Panenan kebun belum ada. Dengan rendah hati, Sr. Vianny FGSM minta beras kepada Sr. Ruth FSGM, Kepala Panti Asuhan St. Yusuf, Pringsewu.

Atau kepada Sr. Katarina, JPIC FSGM.

Ini semua ia lakukan demi L dan S.

Ketika ada orang yang mengirim makanan, Sr. Vianny selalu teringat S dan L.

Makanan rezeki itu dibagi sepuluh. Sama rata. Sedikit tak mengapa, yang penting semua dapat.

“Makanan apa pun akan dihabiskan oleh L dan S, apalagi kalau yang memberi itu Suster. Mereka juga suka biskuit dan kerupuk,” ungkap Sr. Vianny apa adanya.

Kepada para guru, Sr. Vianny menanamkan hal berbagi.

Semua dijelaskan dengan ‘gamblang’ tentang S dan L.

Bahkan sampai pada usaha-usaha yang ia lakukan. Dengan maksud agar para guru juga merengkuh L dan S sebagai anggota keluarga TK Fransiskus, Pringsewu. 

Jadwal pengantar makan siang pun dibuat. Tujuannya, agar para guru memiliki perhatian dan kasih kepada mereka yang miskin dan terlantar.

Selain itu, agar visi misi Kongregasi FSGM juga dimiliki dan dihidupi oleh para guru.    

Siap berangkat

Siang itu menunya: tumis kangkung, tahu goreng, ikan asin, dan sambal.

Ditambah buah pisang, hasil kebun sekolah.

Dengan sigap, Sr. Vianny lalu menatanya ke dalam dua buah kotak plastik.

Makan siang untuk S dan L siap diantar.

Bersama dua guru kami berangkat. Dua motor. Konvoi. Jam menunjukkan pukul 12.30.

Mentari menyengat begitu panas menembus pori-poriku. Jarak menuju ke rumah Sukesi sekitar dua kilometer.

Rumahnya melewati jalan-jalan kecil.

Motor berhenti di depan rumah S dan L. Rumah itu cukup luas. Permanen.

Seorang ibu sederhana menyambut kedatangan kami. Ia keluar dari pintu sebelah rumah S.

Disem, namanya. Tangan kanan Disem terserang stroke. Dengan segala keterbatasan fisik dan ekonomi, Disem mengurusi S dan L. 

Tak layak pakai

Kami melangkahkan kaki masuk ke rumah S dan L. Lantai rumah keramik. Tak ada kursi atau meja. Seperti aula.

“Dulu ini untuk jualan, ketika orangtua S dan L masih hidup,” jelas Disem sambil menunjuk satu-satu meja panjang yang terbuat dari kayu. 

Sr. Vianny FSGM menjelaskan, kalau rumah S ini dulu tidak seperti ini.

Tak layak pakai. Seperti kandang ayam. Suatu hari Sr. Katarina FGSM berkunjung. Melihat kondisi rumah yang seperti itu, ia tidak tega.

Lalu ia meminta bantuan kepada salah seorang umat Pringsewu, Eddy Banteng, untuk membangun rumah S.

Dengan cepat Eddy menggerakkan sahabat-sahabatnya. Gotong royong terjadi.

Tahun 2013 rumah S selesai dibangun.     

Bau menyengat

Menjorok ke dalam ada dua ruang kamar sebelah menyebelah. Pintu kamar itu terbuka. Di situlah L dan S menghabiskan waktu sepanjang hari.

Dari hari ke hari. Tidak pernah ke mana-mana.

Kami masuk ke kamar S.

Bau “harum” menyengat hidung. Menembus masker yang kami pakai. Bisa jadi orang yang pertama berkunjung akan mengalami kepala pusing. Perut mual. Dan tak tahan.

Di lantai kamar L banyak kapuk yang keluar dari kasurnya. L hanya diam melihat kami datang. Tak bicara sepatah kata pun.

Namun, sinar matanya gembira melihat Sr. Vianny datang mengantar makan siang.

Lalu kami beranjak ke sebelah ruang. Ke kamar S. Saat itu juga L malah menyanyi-nyanyi. Tanpa henti. Entah lagu apa yang ia nyanyikan.

Tidak jelas.  

Tampak S menutupi wajahnya dengan sehelai sarung. Tak pernah ia membuka sarung itu dari wajahnya. Ia hanya berbaring di kursi busa panjang. Kakinya sakit. Tak bisa berjalan.

Hampir tiga puluh tahun ia mendekam di ruangan itu.

Sr. Vianny memintanya untuk membuka selubung sarungnya. “Nah, dibuka seperti ini. Kamu kelihatan cantik,” ujar Sr. Vianny.

S hanya menatap Sr. Vianny.

Tanpa kata.

Hampir tiga puluh tahun lebih S mendekam di kamarnya.

Menurut Disem, masih ada kakak laki-laki mereka. Ia juga menderita sakit jiwa.

Syukurlah kakak laki-lakinya itu ada yang merawatnya di Kemiling, Bandarlampung.

L dan S sempat mencecap pendidikan. L hanya tamat SMK. Sementara S kelas II SMP.

S tidak dapat melanjutkan pendidikan karena masalah ekonomi. Semenjak orangtuanya meninggal, S merantau ke Jakarta mencari pekerjaan.

Beberapa tahun kemudian S kembali ke rumah dalam keadaan sakit jiwa.

Tanpa pernah tahu penyebabnya.  

Saudara paling hina

Kunjungan ini membekas dalam diri saya. Betapa saya bersyukur dapat mengunjungi dua saudara saya ini.

Syukur atas kesehatan dan segala yang Tuhan berikan pada saya. Kesulitan dan penderitaan yang kualami tidaklah sebanding dengan penderitaan S dan L.

S dan L adalah satu dari ratusan juta orang yang mengalami kesepian. Sakit. Menderita. Miskin.

Mereka juga saudara kita.

Kristus hadir dalam diri mereka yang miskin, kecil, dan cacat.

 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here