Lagu Koesbini “Padamu Negeri” (4)

0
36 views
Bung Hatta dan Bung Karno (Istimewa)

CINTA tanahair dalam dunia musik lagu ciptaan Koesbini dengan irama nada perjuangan Padamu Negeri diwariskan untuk berjanji dan berbakti pada negeri Indonesia.

Konteks sejarah zaman perjuangan sebagai jiwa lagu ini diungkapkan melalui lirik ‘bagimu negeri jiwa raga kami’.

Responsi rasa menghadapi zaman perjuangan yang tidak menghitung-hitung lagi (baca: nilai pengurbanan) mengenai hidup dan mati, serta kerelaan menumpahkan darah untuk perjuangan merdeka negeri tercinta.

Itu mengungkap dalam lirik lagu dari tekad mau berjanji meningkat ke berbakti dan memuncak untuk memberikan hidup (jiwa dan raga) bagi negeri, yang paling berharga untuk manusia adalah (nilai) kehidupan.

Dan ini yang direlakan untuk dibaktikan bagi kemerdekaan negeri. ketika zaman pasca kemerdekaan jiwa atau sukma lagu ini diklarifikasi sebagai lagu-lagu perjuangan cinta tanahair dan satu kelompok dalam mars: nada berderap penuh semangat lagu nasional.

Ranah suara menjadi wilayah ekspresi, representrasi hati yang peduli dan prihatinnya seorang musikus gaya irama ‘country’ yang memakai balada dari seorang Franky Sahilatua saat menjawab keadaan memprihatinkan dari Indonesia yang saat merdeka oleh Wage Rudolf Soepratman direnspon dalam Indonesia Raya.

Dan oleh Koesbini dalam lagu Padamu Negeri ini ternyata berada dalam krisis pecah persatuannya negeri yang disimbolkan sebagai perahu dan itu diharapkan tidak retak di jalan.

Franky Sahilatua menuliskan dan mengaransemen lagunya dengan judul Perahu Retak.

Lihatlah kisah cinta pada negeri yang ditorehkan dalam syair-syairnya dan nada lagunya sebagai berikut:

Perahu Retak

Perahu negeriku

Perahu bangsaku

Menyusuri gelombang

Semangat rakyatku

Kibarkan benderaku

Menyeruak gelombang

Tapi kuheran di tengah perjalanan

Muncul ketimpangan

Aku heran yang salah dipertahankan

Yang benar disingkirkan

Lirik semangat rakyatku dengan mengibarkan bendera menembus gelombang lautan kehidupan adalah metafora perjalanan bangsa dalam perahu yang terus menembus lautan hidup. Apa jadinya bila retak dinding perahu karena ketidakadilan?

Apalagi oleh ketimpangan yang memakan tanah air dengan serakah dan kenyang sendiri, sedang yang kelaparan banyak.

Di lagu balada Perahu Retak ini kita masuk ke pokok baru lagi dalam estetika seni yaitu muatan pesan.

Jenis lagu balada yang bergenre musik kerakyatan dan penyuara rakyat mempunyai pesan kepedulian dan gugat perlakuan adil bagi pemilik-pemilik sah negeri ini yang tidak boleh didiskriminasi, apalagi dibelah retak oleh ketimpangan sosial.

Maka, pesan utama lagu ini adalah bereskan ketimpangan dengan pemerataan dan perlakukanlah warga negara setara dihadapan hukum dengan keadilan.

Yang salah dihukum dan yang benar dihormati sebagai benar dalam putusan hukum yang adil.

Mengapa?

Karena rakyat ini adalah pemilik tanah pertiwi yang diyakini sebagai anugerah Ilahi.

Bukankah kepercayaan bahwa kemerdekaan negeri menjadi negara merdeka RI didasarkan pada keyakinan bahwa kemerdekaan itu anugerah berkat Allah Tuhan Yang Maha Esa?

Syair lagu Perahu Retak ini menyentuh nurani kita untuk menyadari retak-retak kebersamaan kita, bila tidak mau berbagi lagi.

Inilah contoh (karya) seni yang mampu membawa keangkasa imajinasi dengan ramuan syair puisi lirik dan lagunya untuk mengajak dialog rasa dalam keprihatinan dihadapan kenyataan retak rasa bersatu dan bersama sebagai satu bangsa.

Sebuah lagu cinta tanah air dengan pesan kepedulian dan prihatin akan masalah bangsa dalam ungkapan Perahu Retak Franky Sahilatua masih sama dahsyat nilainya meski beda 50 tahun dengan Padamu Negeri-nya Koesbini.

Yang Koesbini mendorong untuk berjanji dan berbakti dengan seluruh jiwa raga dalam perjuangan merdeka sebagai satu negeri.

Bahaya perahu negeri mengalami retak-retak di perjalannya memuat pertanyaan gugatan: Apakah akan bisa berlayar terus?

Lalu dianalisis, diteliti sosiologis dan kultural di wilayah budaya yaitu nilai-nilai mana yang selama ini mampu merekatkan, merajut kebhinekaan lokalitas suku, golongan, religi menjadi keikaan, kesatuan organiknya?

Seperti disimbolkan amat jelas dari warna-warni kain songket dan kain ikat yang ditenun, dalam proses rajutan berkeringat dan berdarah-darah menjadi kain tenun, rajut indah warna-warni yang harmoni sebagai kain, buat baju dan selendang pakaian, nilai kebersamaan dalam berbeda-beda tapi satu itu adalah persaudaraan.

Estetika dari bawah dengan kerjasama antropologi budaya dan sosiologi merajutnya dalam kenyataan klan dan basis hidup bersama dalam keluarga.

Iwan Fals dan kawan-kawannya termasuh Franky Sahilatua menyanyikan persaudaraan itu nilai bersama dalam lagu Di Bawah Tiang Bendera.

Tengoklah dan simaklah baris-baris syair lagunya:

Di Bawah Tiang Bendera

Kita adalah saudara

Dari rahim ibu pertiwi

Ditempa oleh gelombang

Dibesarkan jaman

Dibawah tiang bendera

Dulu kita bisa bersama

Dari cerita yang ada

Kita bisa saling percaya

Yakin dalam melangkah

Lewati badai sejarah

Pada tanah yang sama kita berdiri

Pada air yang sama kita berjanji

Indonesia Raya

Karena darah yang sama jangan bertengkar

Karena tulang yang sama usah berpencar

Dari kisah atau narasi sejarah yang sama, kita menghidupi ‘persaudaraan’ bertanahair yang sama, dipersatuan persaudaraan, inilah diuji kelangsungan negeri di bawah bendera yang sama yaitu merah putih.

Roh bersaudara yang minum dari air yang sama dan berdiri di atas tanah yang sama, harusnya membuat kita menyadari sesama saudara untuk tidak bertengkar.

Darah yang sama dan tulang yang sama mestinya terus hidup bersatu dalam kesadaran untuk menyatu dan tidak berpencar.

Sekian dekade hampir 70 tahun merdeka berdaulat ternyata disadari baru sebagai lompatan politis 17-8-1945. Sebagai proses kebudayaan yang butuh olah nilai dan olah rasa dalam transformasi mentalitas, ternyata akhirnya disadari merupakan proses panjang, jatuh bangun untuk tetap berdaulat secara politis, mandiri secara ekonomi sebagai bangsa merajut terus persaudaraan dalam peradaban dengan identitas kepribadian bangsa. (Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here