Lebih Bersyukur

0
208 views
Ilustrasi - Rumah sederhana di tengah hutan. (Ist)

Renungan Harian
Senin, 15 Agustus 2022
Bacaan I: Yeh. 24: 15-24
Injil: Mat. 19: 16-22
 
SEBUAH perjumpaan tak disangka dengan seorang teman yang telah lama tidak berjumpa. Perjumpaan yang mengejutkan, saya terkejut dan dia pun terkejut bertemu di tempat yang tidak biasa.

Saya bertemu dengan teman saya di pedalaman di luar Jawa. Sebuah tempat yang tidak saya bayangkan. Saya sampai di tempat itu, karena suatu tugas. Sedang teman saya ternyata sudah lama tinggal di tempat itu.
 
“Hai Dul, (panggilan akrab) ngapain kamu di sini?” sapaku ketika pertama kali bertemu.

“Aku yang harusnya bertanya ngapain Romo dari kota keluyuran di tempat ini,” jawabnya.

Malam hari saat acara saya sudah selesai, dia menjemput saya dan mengajak saya ke rumahnya. Perjalan menembus kegelapan yang pekat dan melewati jalan tanah berlumpur untuk sampai di rumahnya.

Rumahnya terbuat dari papan dan beralaskan papan pula. Rumah yang sederhana namun tampak luas dan asri. Saat saya masih terpana dengan rumahnya dia mengagetkan aku dengan mengatakan:

“Ini rumahku Wan. Rumah sederhana yang menyenangkan untukku.”
 
“Dul, angin apa yang membuatmu terdampar di tempat ini? Kamu melarikan diri dari apa atau siapa?” tanyaku penasaran.

Teman saya ini anak laki-laki satu-satunya dari keluarga yang cukup kaya dan dia telah berhasil mengembangkan usahanya sendiri.

Dia hidup dengan “kemewahan” dan kenyamanan yang luar biasa.

“Saya tidak tahu ya Wan, apakah ini sebuah pelarian atau bukan. Kamu tahu Wan bagaimana hidupku selama ini. Suatu kali aku melihat TV melihat orang yang hidup di hutan dan mengusahakan hidupnya dengan apa yang di hutan itu dan bercocok tanam.

Dan itu seperti mendorongku untuk menjalani hidup seperti itu. Jadi itulah yang membawaku ke tempat ini. Aku membeli tanah di sini dan aku mengusahakan kebun dan bercocok tanam di sini. Jadi aku makan dari apa yang kuhasilkan di sini.
 
Wan, aku tidak tahu apakah yang kujalani ini sebuah kebodohan atau sebuah pencapaian hidup. Satu hal yang pertama kurasakan saat aku tiba di tempat ini, aku mengalami kegentaran dan ketakutan yang luar biasa.

Aku merasa jauh dari mana-mana dan dari orang-orang yang kukenal. Aku tidak ada pembantu tidak ada yang menjagaku. Tapi aku mengalami pengalaman yang luar biasa adalah aku bisa berdoa dan sungguh-sungguh menyerahkan hidupku pada Tuhan.

Mungkin karena aku terpaksa karena tidak punya pilihan lain selain berdoa. Wan itu pengalaman luar biasa dalam hidupku dan menjadi peganganku hari-hari.

Hal kedua yang amat luar biasa kualami adalah aku menjadi lebih mudah bersyukur. Apa pun Wan, bahkan setiap suap makanan yang masuk dalam mulutku membuatku amat bersyukur dan bahagia,” temanku berkisah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Matius, Tuhan menyebut kesempurnaan ketika seseorang berani sungguh berserah dan menggantungkan dirinya pada Allah.

“Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here