Lectio Divina 02.10.2020 – Menjadi Kecil Seperti Anak

0
304 views
Ilustrasi - Menjadi seperti anak-anak. (ist)

Jumat. Peringatan Wajib Para Malaikat Pelindung (P)

  • Kel. 23:20-23a
  • Mzm. 91:1-2,3-4,5-6,10-11
  • Mat. 18:1-5,10

Lectio

1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” 2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. 5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” 10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.  

Meditatio-Exegese  

Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu

Pada bagian akhir atau tambahan atas Hukum Perjanjian, para penulis suci menambahkan cukup banyak peringatan atau janji. Peringatan atau janji Allah selalu melukiskan kedekatan Allah pada umat-Nya dan Ia selalu mengundang agar umat dekat pada-Nya.

Di samping, peringatan dan janji ditulis dan dirancang untuk mengukuhkan harapan umat Israel yang sering hampir padam karena kesesatan mereka dan mendorong tiap anggota umat Allah untuk berpaut kepada-Nya. 

Kata αγγελος, aggelos, angelus (Latin), menurut Santo Augustinus, Uskup Hippo, mengacu pada kehadiran Allah, bukan sosok.

Demikian beliau menjelaskan, “Malaikat  menunjukkan status, bukan kodrat. Kalau engkau menanyakan kodratnya, maka ia adalah roh; kalau engkau menanyakan statusya, maka ia adalah malaikat.” (dikutip dari Enarrationes in Psalmo, 103, 1, 15).

Ungkapan ‘malaikat Tuhan’  searti dengan kehadiran Allah sendiri atau campur tangan-Nya secara langsung dalam peristiwa hidup (bdk. Kel. 3:2; Kel. 14:19; Kej. 16:7; Kej. 22:11). Namun, ketika Kitab Suci menggunakan ungkapan ‘malaikat’ atau ’malaikat-Ku’ (bdk. Kel. 23:23; Bil. 20:16), nampaknya ia mengacu pada makhluk rohani yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakan perintah-Nya (bdk. Mzm. 103:20).

Atas nama Allah, malaikat ditugaskan untuk membimbing umat, seperti ketika melindungi Lot (bdk. Kej. 19) atau Hagar dan anaknya (bdk. Kej. 21:17).

Gereja berpegang pada  ajaran alkitabiah ini, seperti ajaran Santo Basilius, 329-379, “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (dikutip dari Adversus Eunomium, 3,1; bdk. Katekismus Gereja Katolik, 334-336).

Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga

Kita jumpai banyak contoh dalam Kitab Suci menyingkapkan peran malaikat sebagai utusan Allah dan pelindung. Ketika Petrus dalam penjara dan dijaga dengan ketat, seorang malaikat membangunkannya di tengah malam, membuka rantai pengikat tangannya, dan membawanya keluar dari penjara melewati para penjaga dan pintu terkunci.

Setelah menyadari apa yang terjadi pada dirinya, Petrus berkata, “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.” (Kis. 12:11). Malaikat Tuhan juga menjaga dan melindungi Daniel di kandang singa yang lapar (Dan. 6:22).

Para malaikat melayani Yesus setelah pencobaan di padang gurun dan selama Ia mengalami kecemasan di Taman Getsemani (Luk. 22: 43). Para malaikan juga hadir ketika Yesus datang kembali; mereka mengumumkan dan melayani pada saat Ia menjadi Hakim (Mat. 25:31).

Malaikat menyingkapkan bahwa semesta yang diciptakan Allah bukan melulu bersifat kebendaan.

Kitab Suci juga menggambarkan malaikat yang jatuh dalam dosa (Yud. 1:6; 2Ptr. 2:4; Why. 12:9). Mereka menjadi roh jahat atau setan (Mrk. 5:13; Mat. 25:41). Yang mereka cari adalah kehancuran murid-Nya (bdk. 1Ptr. 5:8).

Jika mereka tidak mampu membujuk para murid-Nya menanggalkan iman dan kesetiaan pada Kristus, mereka mencoba menjauhkan kita untuk tidak melaksanaan kehendak Allah.

Mereka mengusahakan sedemikian rupa agar para murid melakukan kemauannya sendiri dan jauh dari kebaikan.

Siapakah yang  terbesar dalam Kerajaan Surga?

Pertanyaan para rasul ini menandakan bahwa mereka gagal memahami atau, bahkan, tidak mau peduli pada tugas perutusan Yesus. Mereka hanya memperhatikan siapa unggul atas siapa, seperti permintaan ibu Yakobus dan Yohanes (Mat. 20:20-28).

Sementara Yesus menghendaki agar para pengikutnya memiliki roh pelayanan, rela mengorbankan diri, suka mengampuni, rekonsiliatif dan penuh syukur. Mereka jauh lebih dari mementingkan diri sendiri dan sombong.

Menanggapi perselisihan di antara para murid, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka (Mat. 18:2). Menempatkan seorang anak kecil di tengah bermakna bahwa Yesus menjadikan anak kecil itu sebagai pusat perhatian. Ia meminta para rasul memandangi, mengkontemplasikan makna penting seorang anak dan belajar dari padanya.   

Yesus tidak menghendaki para murid belajar tentang kepolosan seorang anak. Kepolosan sering menipu untuk menutupi kesombongan tersebunyi. Yesus menghendaki tiap murid menggantungkan diri pada Allah.

Sama seperti anak-anak yang belum dapat hidup mandiri dan tergantung dari belas kasih orang tua, para murid Yesus hendaknya menggantungkan diri pada Yesus.

Seperti ranting anggur yang menempel kuat pada pokok anggur, murid Yesus yang menggantungkan diri pada-Nya agar berbuah banyak. Tetapi, bila melepaskan diri dari Allah, ia sama seperti ranting terpotong yang lama-lama menjadi kering dan, akhirnya, dikumpulkan, dibuang lalu dibakar (Yoh. 15:5-8). 

Dalam budaya Yahudi saat itu yang mengedepankan kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak tidak diperhitungkan, seperti dicatat Santo Matius, “Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.” (Mat. 15:38). Menempatkan anak kecil di tengah para murid, Yesus mengajak mereka untuk melakukan perubahan cara pikir, cara tindak dan cara merasa dari arah ‘yang besar, hebat, atas, tinggi’ ke arah ‘yang kecil, hina, bawah, miskin’.

Para murid dituntut untuk merendahkan diri. Dengan cara inilah mereka menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Alasan yang mendasari diungkapkan Santo Matius (Mat. 18:5), “Dan barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”,Et, qui susceperit unum parvulum talem in nomine meo, me suscipit.

Kasih Yesus pada mereka yang kecil begitu menggetarkan hati. Anak-anak sama sekali tak memiliki jasa untuk dibanggakan. Mereka dikasihi karena mereka memang anak-anak, bukan karena jabatan, kemampuan atau kuasa. Sikap batin seperti ini pasti terungkapkan dalam cara mengasihi Allah dan dapat ditiru oleh siapa pun yang mengasihi Allah.

Santo Matius menyingkapkan bahwa Allah menghendaki agar mereka yang kecil, lemah, miskin, dan diafabel, tidak disingkirkan. Mereka menjadi prioritas pertama dan utama jemaat, Gereja-Nya.

Tugas tiap anggota jemaat, karena pembaptisan yang diterimanya, adalah mencari sampai ke tiap lekuk gunung, menemukan dan membawanya pulang ke kandang, supaya mereka tidak hilang (Mat. 18:13-14).

Yang kecil, lemah, miskin, dan diafabel harus dilayani. Santo Matius menggunakan ungkapan (Mat. 20:28), “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”,Filius hominis non venit ministrari sed ministrare et dare animam suam redemptionem pro multis. Kata διακονησαι, diakonesai, dari kata dasar διακονεω, diakoneo digunakan dengan makna ministrare (Latin), melayani.

Katekese

Malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga. Santo Chromatius, wafat 406 :

“Tidak diperbolehkan merendahkan siapa pun juga yang percaya pada Kristus. Seorang beriman dipanggil tidak hanya sebagai pelayan Allah, tetapi juga anak-Nya melalui rahmat pengangkatan dalam pembaptisan. Pada mereka Allah menjanjikan Kerajaan Surga dan bala tentara malaikat. Dan dengan tepat Tuhan bersabda, “Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

Betapa banyak rahmat yang dicurahkan Tuhan pada masing-masing orang yang percaya kepadaNya, saat Ia sendiri menyatakan ketika Ia menunjukkan malaikat mereka selalu memandang wajah Bapa yang ada di surga. Betapa agung anugerah malaikat yang dilimpahkan pada semua yang percaya kepada Kristus.

Akhirnya, para malaikat menghantar doa mereka ke surga. Inilah kata Malaikat Rafael kepada Tobias, “Makanya, ketika engkau dan Sara berdoa maka ingatan akan doamu itu kusampaikan ke hadapan kemuliaan Tuhan.” (Tob. 12:12).

Mengeliling mereka, malaikat pelindung yang kuat. Mereka membatu masing-masing kita melepaskan diri dari jerat musuh. Karena manusia, dalam kelemahannya, tidak dapat melepaskan diri di atara begitu banyak serangan musuh yang sangat perkasa, jika ia tidak dikuatkan oleh bantuan para malaikat” (dikutip dari Tractate On Matthew 57.1).

Oratio-Missio

  • Tuhan, Englaulah pengungsian dan kekuatan kami. Semoga aku selalu menyadari kehadiran-Mu; semoga aku selalu dibimbing dan dinaungi oleh perlindungan malaikat pelindungku agar dihindarkan dari yang jahat. Anugerahkanlah kekuatan dan keberanian untuk menolak yang jahat dan setia melakukan apa yang baik dan benar. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan agar aku dapat menjadi pelayan-Nya?

Et, qui susceperit unum parvulum talem in nomine meo, me suscipit – Matthaeum 18:5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here