Lectio Divina 04.12.2020 – Percayakah Kamu, Aku Dapat Melakukannya?

0
223 views
Ilustrasi - Mereka bisa melakukannya. (Ist)

Jumat (U)    
Yes. 29:17-24; Mzm. 27:1,4,13-14; Mat. 9:27-31.

Lectio

27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” 28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”

29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” 30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” 31  Tetapi mereka keluar dan memasyurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Meditatio-Exegese

Buta

Umum terjadi kebutaan di daerah Timur Tengah kuna. Penyebab kebutaan ada beberapa macam, misalnya: lahir buta atau infeksi bernanah pada mata. Kebutaan dipandang sebagai tanda hukuman Allah (bdk. Kej. 4:11; Yoh. 9:2; Kis. 13:11).

Kitab Ulangan mengatur bahwa orang buta harus dilindungi, “Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat.” (Ul. 27:18). Tetapi sering mereka disingkirkan dan harus mencari nafkah dengan mengemis (Mrk. 10:46; Yoh. 9:1). 

Para nabi memandang kebutaan sebagai lambang kegelapan rohani dan kekerasan hati manusia. Mereka mencari keselamatan sendiri dan menolak tawaran keselamatan Allah (bdk. Yes. 6:9-10; Mat. 15:14; 23:16-26; Yoh. 9:41; 12:40).

Nabi Yesaya menubuatkan dan menggambarkan keselamatan Allah sebagai terang dan jaman keselamatan ditandai oleh pemulihan penglihatan orang buta dan pembukaan sumbat telinga.  

Nabi itu bernubuat, “Kuatkanlah hati, janganlah takut. Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah.

Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka.” (Yes. 29:18; 35:4-5).

Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?

Bertemu Yesus, yang sedang berjalan, dua orang buta berteriak (Mat. 9:27), “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!”, Miserere nostri, fili David!  Ungkapan yang sama juga ditemukan dalam Mat. 20:30; Mrk. 10:47; dan Luk. 18:38. Mereka percaya bahwa mereka akan mendapatkan kesembuhan dari Yesus.

Barangkali mereka mengingat bahwa Mesias yang dijanjikan berasal dari wangsa Daud (2Sam. 7:15-16). Tanda ke-Mesias-an ditunjukkan melalui kemampuan melakukan mukjizat.

Ternyata Yesus menghindari pengakuan kedua orang buta itu di depan orang banyak. Ia tidak mau terjebak dalam paham yang salah dan tidak dihayati-Nya. Pasti, Ia juga tidak menghendaki kabar tentang penyembuhan dipelintir orang yang memusuhi-Nya.

Ia bukan tukang pembuat mukjizat atau mesias yang gagah perkasa seperti Daud, yang menyatukan bangsa Israel. Maka, Ia terus melanjutkan perjalanan ke rumah. Sedangkan kedua orang buta itu terus mengikuti-Nya.

Sesampai di tempat yang sunyi, di rumah, jauh dari hiruk pikuk orang banyak, Yesus menanyakan apakah mereka mau menerima-Nya dengan sepenuh hati, budi dan tenaga. Ia bertanya (Mat. 9:28), “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?”, Creditis quia possum hoc facere?

Ia juga meminta mereka untuk mengimani-Nya, dan, karena anugerah, menerima apa yang diajarkanNya. Maka belas kasih  dan mukjizat terjadi karena mereka mengimani Yesus.

Keselamatan terjadi ketika manusia menerima Yesus, Sang Juruselamat – percaya pada-Nya, mendengarkan sabda-Nya, melaksanakan kehendak-Nya dan menjadi saksi-Nya. 

Katekese

Mereka melihat karena percaya pada Mesias. Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367: 

Pada saat itu, dua orang buta mengikuti Tuhan ketika Ia sedang lewat. Tetapi jika mereka tidak dapat melihat, bagaimana mungkin kedua orang itu tahu tentang kepergian Tuhan dan juga nama-Nya? Terlebih, mereka memanggil-Nya ‘Anak Daud’ dan memohon untuk disembuhkan. Dalam diri dua orang buta itu, seluruh pralambang [mukjizat dalam Mat. 9:18-26] terpenuhi.

Putri yang disembuhkan-Nya rupanya berasal dari golongan orang, yaitu, kaum Farisi dan murid-murid Yohanes, yang sudah biasa mencobai Tuhan.

Kepada orang-orang yang bodoh hukum memberikan bukti dari orang yang mereka harapkan memberikan kesaksian dari Orang yang meraka cari untuk dinintai kesembuhan. Nampak bagi mereka bahwa Juruselamat mereka yang dalam rupa manusia berasal dari keturunan Daud. 

Perikop juga menghantarkan cahaya untuk pikiran hati mereka yang buta karena dosa-dosa masa lalu. Mereka belum mengenal Kristus tetapi diberitahu tentang Dia.

Tuhan menunjukkan kepada mereka bahwa iman tidak boleh diharapkan sebagai ganjaran atas kesehatan,  tetapi kesehatan diharapkan karena iman. Orang buta melihat karena mereka percaya; mereka tidak percaya karena melihat.

Karena kisah ini, kami memahami bahwa apa yang diminta harus didasarkan pada iman dan iman itu tidak boleh dilaksanakan karena apa yang telah diperoleh. Jika mereka harus percaya, dia menawarkan penglihatan.

Dan Ia menyuruh orang-orang percaya itu untuk diam, karena pewartaan merupakan tugas khusus para rasul.” (dikutip dari Commentary On Matthew 9.9)

Oratio-Missio

  • Tuhan, bantulah aku untuk makin dekat dengan-Mu dan mengimani-Mu. Bebaskan aku dari keraguan dan ketidakpercayaan, agar aku dapat percaya kepada-Mu dengan segenap hati. Datanglah Kerajaan-Mu dan terjadilah kehendak-Mu dalam hidupku. Amin. 
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk percaya kepada-Nya? 

et dicit eis Iesus, “Creditis quia possum hoc facere?” Dicunt ei: “Utique, Domine” – Matthaeum 9:28   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here