Lectio Divina 06.08.2022 – Dengarkanlah Dia

0
171 views
Dengarkanlah Dia. Yesus berubah rupa,by Theophanes the Greek, abad ke-15.

Sabtu. Pekan Biasa XVIII. Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya (P)

  • Dan. 7:9-10.13-14.
  • Mzm. 97:1-2.5-6.9.
  • 2Ptr. 1:16-19.
  • Luk. 9:28b-36.

Lectio

28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. 29 Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.

30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. 31 Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. 32 Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu.

33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu.

34 Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. 35 Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

36 Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu.

Meditatio-Exegese 

Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa

Santo Lukas melukiskan tiga peristiwa penting yang diawali dengan Yesus menghadap Bapa dalam doa di gunung. Ketiga peristiwa itu: panggilan para murid (Luk. 6:12); pengakuan Petrus (Luk. 9:18); dan transfigurasi (Luk. 9:28).

Dalam tradisi alkitabiah, Allah sering menyatakan diri-Nya di gunung yang suci. Yesus mengajak tiga orang murid, sama seperti Musa mengajak: Harun, Nadab dan Abihu menyertainya naik ke Gunung Sinai (Kel. 24:1).

Pernyataan diri-Nya di gunung serin disertai awan, seperti saat Ia menemui umat Ibrani di gunung Sinai. Kel. 24:12-18 mengisahkan Musa naik ke gunung itu untuk bertemu Tuhan. Saat Musa bertemu muka dengan Tuhan, kulit wajahnya berubah menjadi berkilau-kilauan (Kel. 34:29).

Di atas gunung awan menutupinya. Di situlah Musa menerima 2 loh batu bertuliskan Hukum Taurat dari Tuhan. Allah juga menyatakan diri di gunung Horeb pada Elia melalui angin sepoi-sepoi (1Raj 19:8-18). 

Wajah Yesus bercahaya dan pakaian putih berkilau-kilauan memancarkan kemuliaan Allah saat sedang berdoa, sama seperti wajah Musa (Kel. 34:29-35). Tetapi wajah Yesus bercahaya memancarkan kuasaNya sendiri, mengalir dari dalam ke luar.

Pakaian-Nya yang berkilau-kilauan seperti penglihatan Nabi Yehezkiel dan Daniel (Yeh. 1:4,7; Dan. 10:6). Warna pakaian yang putih berkilauan melambangkan suasana surgawi dan kesucian orang mengenakan pakaian itu (Dan. 7:9; Sir. 7:8; Mat. 28:3; Kis. 1:10; Why. 3:4-5; 3:18; 4:4; 6:11; 7:9,13-14; 19:14).

Wajah dan pakaian putih berkilau-kilauan akan nampak nyata pada saat kebangkitan dan kedatangan-Nya kembali (Luk. 9:22).

Di hadapan kedua tokoh Perjanjian Lama Yesus menampakkan kemulianNya – Musa, sang pemberi hukum pada bangsa Israel, dan Elia, sang pembela Yahwe, di samping kehadiran tiga murid-Nya: Petrus, Yohanes dan Yakobus.

Origenes dari Alexandria, 185-254, sarjana Kitab Suci dan penulis dari Gereja Perdana, menunjukkan bahwa transfigurasi, peristiwa Yesus menampakkan kemuliaanNya, mengubah hidup setiap pribadi.

Ia menulis, “Ketika Ia berubah rupa, wajah-Nya bersinar laksana matahari yang dapat Ia pancarkan pada anak-anak terang yang telah menanggalkan perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang.

Dan tidak ada lagi anak-anak kegelapan atau malam. Semua telah menjadi anak-anak terang, dan berjalan dengan penuh kejujuran di siang hari. Karena Ia telah menampakkan perubahan rupa-Nya, Ia akan menyinari mereka tidak hanya laksana matahari, tetapi seperti yang disingkapkan-Nya, Ia menjadi matahari kebenaran.”

Tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem

Hanya Santo Lukas mendeskripsikan pokok pembicaraan antara Yesus, Musa dan Elia. Mereka berbicara  tentang “tujuan kepergian-Nya” (Luk. 9:31).

Tujuan ini akan dipenuhiNya di Yerusalem, yaitu: menanggung banyak penderitaan,  ditolak dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (bdk. Luk. 9:22).

Santo Lukas menggunakan kata εξοδοv, exodos, sama dengan Kitab Exodos/Keluaran. Maka, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus adalah juga keluaran/pembebasan manusia dari belenggu dosa dan kekuatan yang menjauhkan dan memisahkan manusia dari Allah.

Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia

Yesus naik ke gunung karena Ia sadar akan apa yang telah menanti-Nya di Yerusalem: pengkhianatan, penolakan dan penyaliban. Nampaknya Yesus membicarakan dengan Musa dan Elia keputusan-Nya untuk menyongsong penyaliban.

Allah, BapaNya, juga berbicara dengan Yesus dan memberikan persetujuan. Sabda-Nya (Luk 9:35), “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”, Hic est Filius meus electus; ipsum audite.

Bapa memuliakan Anak karena Ia taat. Awan yang menaungi Yesus dan para muridNya memenuhi dambaan bangsa Yahudi bahwa ketika Sang Mesias atau Kristus datang, awan yang menjadi lambang kehadiran Allah akan kembali memenuhi Bait Allah (bdk. Kel. 16:10, 19:9, 33:9; 1Raj. 8:10; 2Mak. 2:8).

“Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: ”Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Dengan kalimat yang sama, Nabi Yesaya menubuatkan Sang Mesias-Hamba Yahwe (Yes .42:1).

Pertama-tama Musa dan Elia, kini Allah sendiri menyatakan Yesus sebagai Mesias-Hamba yang akan menyongsong kemuliaan melalui salib.

Pernyataan Allah berakhir dengan perintah terakhir dan mutlak, “Dengarkanlah Dia.”, Ipsum audite.

Saat suara dari langit bersabda, Musa dan Elia menghilang, dang hanya Yesus yang tertinggal. Hal ini menunjukkan bahwa sejak saat ini hanya Ia sendirilah yang menafsirkan Kitab Suci dan kehendak Allah. Dialah Sabda Allah bagi para murid: “Dengarkanlah Dia.”

Penetapan “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” memegang peran penting bagi jemaat yang dibina Santo Lukas pada tahun 80-an. Melalui peneguhan Allah Bapa inilah iman akan Yesus Kristus diteguhkan.

Pada saat Yesus masih hidup, sekitar tahun 30-an, ungkapan Anak Manusia menunjuk pada seseorang yang memiliki martabat dan tugas perutusan yang sangat luhur-mulia. Yesus sendiri memberi makna yang kurang kurang pasti pada istilah ini saat bersabda bahwa semua orang adalah anak-anak Allah (bdk. Yoh. 10:33-35).

Tetapi, gelar Anak Allah menjadi ringkasan atas seluruh gelar, lebih dari seratus, yang disematkan pada Yesus pada paruh kedua abad pertama Masehi.

Pada abad-abad berikut, hingga saat ini, Anak Allah menjadi gelar Yesus dan seluruh Gereja memusatkan seluruh imannya pada diri-Nya.  Iman inilah yang diwartakan kepada segala makhluk dan bangsa.  

Petrus dan teman-temannya telah tertidur

Selama Yesus berdoa, tiga murid terdekat-Nya ini justru tertidur (Luk.  9:32). Seandainya mereka berjaga, mereka juga menyaksikan Yesus yang berubah rupa di hadapan Musa dan Elia.

Injil juga mencatat mereka tertidur justru pada saat peristiwa sangat penting terjadi pada Yesus:  penangkapanNya di Taman Zaitun (Luk. 22:29-46). Ketiga murid itu menjadi saksi kemuliaan Kristus Yesus. Dan Yesus ingin menyingkapkan kemulianNya kepada semua melalui setiap murid yang mengasihiNya.

Santo Paulus mengatakan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh.” (2Kor. 3:18).

Katekese

Dengarkanlah Dia. Santo Leo Agung, 400-461:

“Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ia menyingkapkan DiriNya padaku melalui pewartaan. Ia mempermuliakan diriku melalui perendahan DiriNya.

Maka, dengarkanlah Dia tanpa ragu. Dialah Kebenaran dan Hidup. Dialah kekuatan dan kebijaksanaanku. “Dengarkanlah Dia” yang dinubuatkan oleh misteri hukum Taurat, yang dimadahkan oleh mulut para nabi.

“Dengarkanlah Dia” yang melalui daranNya dunia ditebus-Nya, yang oleh darahnya ditebus dunia, yang membelenggu iblis dan mengalahkan semua bawahannya, yang melunasi hutang dosa dan membebaskan dari perbudakan kejahatan.

“Dengarkanlah Dia yang membuka jalan ke surga dan oleh derita di salib mempersiapkan langkahmu untuk mendaki dan masuk ke dalam KerajaanNya.” (Sermon 38,7)

Oratio-Missio

Tuhan, buatlah aku selalu berjaga-jaga untuk sadar akan kehadiranMu, mendengarkan sabdaMu dan melaksanakan kehendakMu dalam hidupku sehari-hari. Sekali lagi, Tuhanku, ijinkanlah aku menyaksikan kemuliaanMu. Amin. 

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk menyaksikan kemuliaan Allah yang terjadi dalam hidupku?

Et vox facta est de nube dicens, “Hic est Filius meus electus; ipsum audite.” – Lucam 9:35

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here