Lectio Divina 11.06.2021 – Lambung-Nya Ditikam

0
226 views
Ilustrasi: Jemari Sang Ibu menampung darah dari lambung-Nya by medjugorjemalta

Jumat. Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus (P)              

  • Hos. 11: 1.3-4.8c-9
  • Mzm. Tanggapan Yes.12:2-3.4bcd.5-6
  • Ef. 3: 8-12.14-19.
  • Yoh. 19: 31-37.

Lectio

31 Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -sebab Sabat itu adalah hari yang besar- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

32 Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; 33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,

34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. 35 Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.

36 Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan.” 37 Dan ada pula nas yang mengatakan: “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.”

Pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib  

Yesus wafar pada saat persiapan Raya Paskah dan Roti Tak Beragi atau Shabbat HaGadol. Di hari raya itu, pemeluk agama Yahudi harus mempersembahkan berkas pertama hasil panen (Im. 23:11).

Orang yang disalib bukan hanya digolongkan sebagai penjahat besar, tetapi juga orang yang dikutuk (Ul. 21:23). Hukum Tuhan mengatur agar mayat yang tergantung, termasuk yang di salib, diturunkan, agar tidak menajiskan.

Pontius Pilatus mengijinkan saat Yusuf dari Arimatea meminta ijin untuk menurunkan dan memakamkan jenazah Yesus. Ijin diberikan agar tak ada gangguan keamanan yang tak perlu.

Untuk mempercepat kematian tiga orang yang disalib, kaki mereka dipatahkan. Tetapi kaki Yesus tidak dipatahkan. “Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan.” (Kel. 12:46).

Dan nubuat lain, “Banyak penderitaan orang benar, tetapi TUHAN melepaskan mereka dari semua itu. Ia melindungi semua tulangnya, tidak ada satu pun darinya yang patah.” (Mzm. 34:19-20).

Seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air

Serdadu diperintah untuk memastikan kematian orang yang disalib dengan menusukkan tombak tepat di lambung dan terus menusuk jantung (serambi kanan). Tombak harus diputar memastikan kematian.

Dari luka tusukan tombak darah dan cairan tubuh mengalir. Cairan itu barangkali berasal dari akumulasi cairan pada selaput paru –efusi pleura atau pada selaput jantung- efusi perikardium. Cairan ini kemudian bercampur dengan darah yang berasal dari jantung-Nya.

Bertindak atas nama Kekaisaran Romawi, perwira dan serdadu yang diperintahnya nampaknya mencerminkan sikap permusuhan terhadap Yesus. Seperti para pemimpin agama Yahudi, mereka hendak melenyapkan Yesus dari kenangan sejarah manusia. 

Sebaliknya, walau menanggung tindakan manusia yang brutal,  Yesus justru menunjukkan kasih yang menghidupkan.  Ia menyibak makna baru atas sengsara dan kematian-Nya.

Yesus mencurahkan darah hingga tetes darah terakhir. Darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya melambangkan kematian-Nya, yang Ia terima dengan rela untuk menyelamatkan dan menebus  manusia (Mat. 20:28).

Kematian-Nya menyingkapkan kemuliaan dan kasih-Nya sampai pada kesudahannya (Yoh. 1:14; 13:1). Kasih-Nya menjadi penggenapan atas nubuat untuk memandang Sumber Keselamatan.

Melalui Nabi Zakharia, Allah bersabda, “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam.” (Za. 12:20)

Sang Gembala menganugerahkan kematian-Nya untuk domba-Nya (Yoh. 10:11). Kasih-Nya dicurahkan untuk sahabat-Nya, bahkan Ia sampai menyerahkan hidup-Nya (Yoh. 15:13).

Maka, ketika Ia digantung di salib, Ia memenuhi hukum tertinggi yang disingkapkan-Nya (Yoh. 13:34), ”Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”, sicut dilexi vos, ut et vos diligatis invicem.

Katekese

Allah menganugerahkan apa yang paling berharga untuk kita. Bapa Isaak dari Nineveh, petapa Siria, guru dan uskup, 613-700 :

“Segalanya diciptakan Allah, Tuhan atas segala. Ia begitu mengasihi seluruh ciptaan-Nya dan menyerahkan Anak-Nya hingga wafat di salib. Karena Allah begitu mengasihi dunia, sehingga Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi dunia.

Bukan karena Ia tidak mempu menyelamatkan kita dengan cara yang berbeda, tetapi inilah cara yang mungkin untuk menunjukkan pada kita bahwa kasih-Nya dilimpahkan secara melimpah ruah.

Kasih itu adalah Ia menarik kita menjadi dekat dengan-Nya melalui kematian Anak-Nya. Jika Ia memiliki apa pun yang sangat Ia kasihi, Ia akan memberikannya pada kita, agar melalui milik-Nya seluruh manusia menjadi milik-Nya kembali.

Dan di luar kasih-Nya yang agung, Ia tidak pernah memilih cara untuk memaksa agar kita bebas memilih-Nya, walau Ia mampu melakukannya.

Tetapi tujuan-Nya adalah bahwa kita harus datang mendekati-Nya dengan seluruh kasih yang meluap dari jiwa kita. Dan Tuhan kita taat pada Bapa-Nya karena kasih-Nya pada kita” (dikutip dari Ascetical Homily 74.28)

Oratio-Missio

  • Tuhan, kobarkanlah kasih-Mu dalam hatiku, agar aku makin mengasihi-Mu dan melayani sesamaku dengan murah hati. Amin.
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk memperlakukan alam lingkunganku dengan pantas?

sed unus militum lancea latus eius aperuit, et continuo exivit sanguis et aqua – Ioannem 19:34

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here