Lectio Divina 12.03.2023 – Dialah Juruselamat Dunia

0
280 views
Yesus dan perempuan Samaria, by Carl Bloch, pelukis Denmark

Minggu. Hari Minggu Prapaskah III (U)

  • Kel. 17:3-7.
  • Mzm. 95:1-2.6-7.8-9.
  • Rm. 5:1-2.5-8.
  • Yoh. 4:5-42 atau 4:5-15.19b-26.39a.40-42

Lectio (Yoh. 4:5-42 atau 4:5-15.19b-26.39a.40-42)

Meditatio-Exegese

Orang Israel telah bertengkar dan telah mencobai TUHAN

Manusia mudah melupakan karya agung Allah baginya. Bangsa yang baru saja dibebaskan-Nya dari perbudakan segera melupakan-Nya saat menghadapi masalah.

Kata mereka, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel. 17:3).

Perjalanan mereka di gurun sebenarnya sudah diatur dengan baik. Bangsa itu berjalan dalam kelompok-kelompok kecil, terdiri dari kelompok seribu orang, seratus orang, lima puluh orang dan sepuluh orang (bdk. Kel. 18:5). Maka, perjalanan mengitari gurun menjadi lebih mudah.

Allah menopang perjalanan mereka dengan menyediakan kebutuhan dasar dalam jumlah yang cukup: air (Kel. 15:22-27) dan makanan (Kel. 16:1-35). Namun, mereka tetap saja menggerutu, mengecam Musa (Kel. 15:24; 16:2), hingga melawan Allah (Kel 16:7-8).

Paus Benediktus XVI mengajar, “Kita tahu bahwa umat Yahudi mengalami penderitaan parah di gurun karena kekurangan air. Dan dalam keterpurukan dan putus harapan, mereka mengeluh dan mengungkapkan kejengkelan mereka dengan keras, seperti di saat yang lalu.

Mereka bahkan sampai memberontak melawan Musa dan hampir memberontak melawan Allah. Penulis suci menuturkan, “Mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel. 17:7).

Umat lebih suka menuntut Allah untuk memenuhi apa yang mereka harapkan dan butuhkan, dari pada meninggalkan kepentingan diri sendiri dan dengan penuh iman mempercayakan diri pada-Nya.

Maka, saat mereka mencobai-Nya, mereka menghilangkan kepercayaan pada-Nya. Seberapa seringkah hal yang sama kita lakukan dalam hidup kita?

Dalam banyak kesempatan, apakah kita selalu menghendaki Allah memenuhi dan melakukan kesendak dan keinginan kita dari pada dengan setia dan patuh kita melaksanakan kehendak ilahi? Seberapa seringkah iman kita gagal dan kepercayaan kita melemah, cita rasa iman kita cemari dengan takhayul dan barang duniawi?

Di masa Pra-Paskah ini, saat Gereja mengundang kita untuk menapaki jalan pertobatan sejati, mati kita dengan rendah hati mengikuti saran pemazmur, “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya!

Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.” (Mzm. 95:7-9).” (Homili, Minggu Ketiga Masa Pra-Paskah, 2008).

Ia harus melintasi daerah Samaria

Yesus memilih jalur pendek, melewati wilayah Samaria, saat pulang ke Galilea. Ia tidak menyusuri jalur penghubung Galilea-Yudea yang lebih jauh dengan melewati Sungai Yordan.  Sepertinya, Ia melihat peluang untuk mewartakan Kabar Sukacita di wilayah ini.

Walau berasal dari satu nenek moyang, suku Yahudi dan suku Samaria enggan menjalin relasi sosial. Perpecahan dimulai setelah kematian Salomo, 931 sebelum Masehi. Sepuluh suku di utara membentuk persekutuan dan mendirikan kerajaan utara atau Israel.

Tahun 879, Raja Omri, yang jahat di mata Allah, membeli sebuah bukit dari Semer dan membangun ibu kota  Kerajaan Israel. Ia menamai kota baru itu Samaria, sesuai nama pemilik bukit (1Raj. 16:24) dan, selanjurnya, kesepuluh suku itu dikenal sebagai suku Samaria.

Pada tahun 722 SM, setelah diserbu dan dikalahkan tentara Asiria, para pemimpin kerajaan Utara dan kebanyakan kaum laki-laki dibuang ke Babel. Lalu, penguasa Asiria mengirim suku-suku asing untuk kawin-mawin dengan orang Samaria yang ditinggalkan.

Agama yang dianut pun berupa agama campuran antara warisan Musa dan keyakinan asing (bdk. 2Raj. 17-18). Di samping, mereka menentang Nehemia saat hendak membangun kembali tembok-tembok Yerusalem (Neh. 4:1-2).

Maka, setelah kembali dari pembuangan di Babel, suku Yahudi yang kembali ke Yerusalem memandang  orang Samaria sebagai orang asing. Mereka tidak murni lagi keturunan Abraham. Maka pergaulan dengan mereka pun dipandang najis.

Perkawinan antara lelaki Yahudi dan perempuan Samaria dilarang dan dinajiskan. Bila perkawinan dilakukan, laki-laki Yahudi dikeluarkan dari ikatan suku.

Berilah Aku minum

Yesus sampai di kaki Gunung Ebal di tengah hari, di Sikhar, sekarang disebut El ‘Askar. Ia beristirahat di Sumur Yakub. Ia hendak menghilangkan dahaga dan memulihkan tenaga, setelah melakukan serangkaian karya pelayanan di sepanjang perjalanan. 

Tetapi, Ia hanya dapat memandang air. Tidak ada pada-Nya tali dan timba untuk mengambil air. Keletihan, kehausan, kemiskinan di bibir Sumur Yakub menyingkapkan bahwa Ia sungguh manusia, perfectus homo.

Di tempat itulah Yesus berjumpa dengan seorang perempuan Samaria. Sumur telah menjadi tempat perjumpaan dan perbincangan (bdk. Kej. 24:10-27; 29:1-14). Kemudian Ia memulai percakapan dengan hal sepele, “Berilah Aku minum.” (Yoh. 4:7).

Setelah membuka percakapan dengan perempuan itu, Yesus mendapat jawaban yang sepele, yakni  hambatan adat-istiadat, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Yoh. 4:9). Jawaban itu menunjukkan bahwa Yesus dikenali sebagai lelaki Yahudi biasa.

Perempuan itu juga belum bisa mengenali jatidiri Yesus, saat Ia bersabda, “Jikalau engkau tahu… dan siapakah Dia…” Maka, Ia rupanya belum berhasil menjalin relasi dekat dengan perempuan itu.

Kemudian, Yesus pun melanjutkan dengan menyinggung kebutuhan dasar rumah tangga, yakni: air hidup, yang terus mengalir tanpa henti di rumah.

Lalu, perempuan itu mulai membuka diri dengan bertanya, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” (Yoh. 4:11).

Ia juga masih bertanya-tanya, “Siapakah Orang ini? Apakah Ia lebih besar dari Yakub, yang memberi sumur itu?”

Yesus membandingkan air dari Sumur Yakub dengan air hidup yang berasal dari-Nya. Air dari sumur itu hanya memuaskan kebutuhan fisik untuk sementara waktu sebelum kehausan kembali mendera.

Tetapi, Yesus melukiskan air hidup akan terus mengalir seperti mata air yang tidak pernah mengering dan memberi hidup kekal (Yoh. 4:13-14).

Namun, perempuan Samaria itu belum mampu menangkap sepenuhnya makna sabda Yesus. Ia tetap berpegang pada pemahaman makna hurufiah atas air hidup.

Maka, ia pun mendambakan air itu, supaya tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. Ia meminta, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yoh. 4:15).

Menanggapi permintaan itu, Yesus meminta perempuan itu memanggil suaminya. Permintaan itu ditolak.

Setelah pembuangan ke Asiria, perempuan Samaria mau tidak mau kawin mawin dengan bangsa asing yang didatangkan penjajah Asyur.

Mereka berasal dari Babel, Kuta, Awa, Hamat dan Sefarwaim. Kelima bangsa itu dan dewa-dewi mereka menjadi suami perempuan Samaria. Dan lelaki yang keenam bukan suaminya (bdk. 2Raj. 17:24.30-31; Yoh 4:17-18).

Namun, Yesus menghargai kejujurannya. “Dalam hal ini engkau berkata benar,” sabda-Nya (Yoh. 4:18). Maka perempuan Samaria itu sadar akan siapa yang dihadapinya.

Lalu, mengakui Yesus sebagai nabi, karena tahu tanpa perlu mencari tahu di rumahnya. Ia mengaku (Yoh. 4:19), “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.”, Domine, video quia propheta es tu.

Setelah sadar dan mengakui Yesus sebagai nabi, percakapan dan relasi Yesus dengan perempuan itu menjadi sangat cair dan mendalam. Ia kemudian membuka pembahasan tentang tempat sukunya beribadat.

Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau

Yesus menyingkapkan bahwa jaman baru telah tiba. Jaman itu ditandai dengan pengenalan yang intim akan Allah. Pada zaman ini Allah yang adalah Bapa disembah dalam Roh dan kebenaran.

Ia disembah oleh tiap pribadi yang lahir kembali dari Roh dan menjadi anak Bapa (Yoh. 3:5-6). Kehadiran-Nya tidak lagi dibatasi tempat ibadat di lokasi tertentu, Bait Allah di Yerusalem atau Gunung Gerizim. Keduanya telah dihancurkan oleh tangan-tangan manusia.

Kata ‘roh’ dan ‘kebenaran’ (Yoh. 4:23.24) dalam kedudukan yang setara, roh sama dengan kebenaran. Dan Yesus pun menyatakan bahwa Allah adalah Roh. Roh secara penuh menyingkapkan Diri-Nya pada saat Pentakosta, 50 hari setelah kebangkitan Yesus (Kis. 2:1-4).

Roh Kudus menuntun tiap pribadi untuk menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Maka kebenaran menjadi satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan Allah. Terlebih, Yesus, di tempat lain, menyingkapkan bahwa Diri-Nya adalah Kebenaran (Yoh. 14:6).    

Allah yang disembah dikenal karena keselamatan berasal dari bangsa Yahudi. Pernyataan Yesus menunjukkan status unik bangsa itu sebagai umat terpilih, yakni: Allah melaksanakan karya penyelamatan melalui bangsa Yahudi di masa lalu.

Maka, Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri dan orang yang percaya kepada-Nya dapat ‘mengenal’-Nya. Mengenal selalu bermakna  mengalami keselamatan Allah melalui Diri-Nya. Maka, Yesus dapat bersabda, “keselamatan datang dari bangsa Yahudi.”

Suku Samaria mewarisi lima kitab Musa dan sebagian Yosua. Maka, mereka juga percaya bahwa nabi seperti Musa akan dibangkitkan di suatu masa kelak (Ul. 18:15.18). Sosok nabi atau mesias suku Samaria dipercaya berasal dari suku Lewi dan akan memulihkan kekacauan politik serta peribadatan (bdk. Flavius Josephus, Jewish Antiquities 18.85-87).

Sedangkan Yesus tidak hanya menghayati seperti dilukiskan Musa, tetapi juga para nabi, seperti Nabi Yesaya (Yes. 42:1-4; 49:1-7).

Maka, saat perempuan itu berkata, “Apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” (Yoh. 4:25), hanya Mesiaslah yang berhak menyingkapkan ‘segala sesuatu’, yakni: segala kebenaran tentang Mesias, kepadanya. 

Yesus menanggapi tidak hanya dengan menjawab, “Akulah Dia.” Ia juga menyingkapkan seluruh kebenaran (Yoh. 4:26), “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”, Ego sum, qui loquor tecum.

Ungkapan “Akulah Dia.” menggemakan saat Allah menyingkapkan Diri-Nya pada Musa (Kel. 3:14). Ia sekarang disingkapkan kepada orang bukan Yahudi. Allah Bapa-Mesias-Roh Kudus disingkapkan kepada setiap pribadi, bukan hanya kepada orang Yahudi.

 Dialah benar-benar Juruselamat dunia

Perjumpaan dengan Yesus tak hanya membaharui dan memulihkan martabat, tetapi juga iman perempuan Samaria. Warta tentang Dia kemudian disebar luaskan di desa tempat tinggalnya. Kepada para tetangga, ia bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” (Yoh. 4:39).

Kesaksiannya menarik perhatian. Seluruh penduduk desa pergi ke sumur Yakub dan menemui Yesus untuk membuktikan kebenaran kesaksian perempuan itu. Setelah bertemu, mereka meminta Yesus untuk tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.

Perempuan itu dan seluruh saksi hanya mengantar perjumpaan dengan Yesus. Selanjutnya, setiap pribadi diundang untuk berjumpa dan ‘mengalami’ Yesus.

Hingga mampu berkata (Yoh. 4:42), “kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”, ipsi enim audivimus et scimus quia hic est vere Salvator mundi.

Katekese

Air Hidup Roh Kudus. Santo Yohanes John Chrysostomus, 347-407 :

“Kadang kala Kitab Suci menyebut anugerah Roh Kudus “api”. Di kesempatan lain anugerah itu disebut “air”.

Dengan cara itu, Kitab Suci menunjukkan bahwa nama-nama ini tidak melukiskan hakikatnya, tetapi pekerjaannya. Karena Roh Kudus, yang tak tampak dan sederhana, tidak dapat dijadi dari benda-benda yang berbeda…

Dengan cara yang sama Ia disebut Roh sebagai “api”, yang melambangkan kodrat rahmat yang selalu bernyala-nyala dan menghidupkan serta menghancurkan dosa.

Ia disebut “air” untuk menunjukkan pembersihan yang Ia lakukan dan pemeliharaan melimpah yang Ia sediakan bagi mereka yang menerima-Nya.

Karena Roh Kudus membuat jiwa yang haus akan Dia menjadi seperti taman, yang dipenuhi dengan seluruh pepohonan yang selalu menghasilkan buah melimpah, karena ia tidak pernah kehilangan harapan atau menuruti rencana busuk setan.

Roh Kudus memusnahkan seluruh anak panah yang lepaskan oleh musuh yang terkutuk.” (Homilies On The Gospel Of John 32.1)

Oratio-Missio

Tuhan, hatiku haus pada-Mu. Penuhilah aku dengan Roh Kudus agar aku selalu menemukan sukacita di hadapan-Mu dan melakukan kehendak-Mu dengan setia. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk selalu mengimani dan setia pada-Nya?

ipsi enim audivimus et scimus quia hic est vere Salvator mundi! – Ioannem 4:42

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here