Home BERITA Lectio Divina 12.11.2023 – Berjaga-jagalah, Songsonglah Sang Mempelai

Lectio Divina 12.11.2023 – Berjaga-jagalah, Songsonglah Sang Mempelai

0
Gadis bijaksana dan gadis bodoh, by Charles Haslewood Shannon, 1919 - 1920

Minggu. Hari Minggu Biasa XXXII (H)

  • Keb. 6:13-17
  • Mzm. 63:2.3-4.5-6.7-8
  • 1Tes. 4:13-18 atau 1Tes. 4:13-14
  • Mat. 25:1-13
  • Lectio

1 “Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia. 7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.

9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu. 12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Meditatio-Exegese

Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan

Apa yang ingin diwariskan kepada generasi muda? Penulis Kebijaksanaan Salomo memiliki jawaban: kebijaksanaan.

Kitab ini ditulis oleh penulis yang mahir berbahasa Yunani pada rentang waktu antara 200 hingga 50 sebelum Masehi. Melalui kitab yang diperkirakan ditulis di Alexandria, Mesir, generasi muda dididik sebagai pemimpin yang mengasihi kebijaksanaan.

Perikop ini mengungkapkan kekaguman akan kebijaksanaan. Kebijaksanaan dipersonifikasi seperti seorang puteri. Ia telah menanti untuk dijumpai, bahkan menanti dan duduk di muka pintu rumah. Ia menanti mereka yang merindukannya. Bahkan, ia sendirilah yang mencari mereka yang berkeinginan menemuinya.

“Ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka di jalan, pada tiap-tiap pikiran dijumpainya.” (Keb. 6:16). Orang yang mencari kebijaksanaan adalah mereka yang bersedia untuk dididik oleh kebijaksanaan dan menjadikannya kekasih hati (bdk. Keb. 6:17).

Dalam surat kepada semua orang beriman, Santo Yakobus (Yak. 3:14-4:3) menampilkan dua jenis kebijaksanaan atau hikmat, yang nampak dalam gaya hidup. 

Pertama, kebijaksanaan atau hikmat yang datang dari bawah atau dunia atau nafsu atau setan, yang disebut Santo Paulus sebagai keinginan daging.

Hikmat ini memiliki ciri yang mudah dikenali: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal. 5:19-21).

Jumlahnya tak terbilang, sehingga Santo Paulus menulis: dan sebagainya.

Sebaliknya, kebijaksanaan/hikmat yang datangnya dari atas, dari surga, dari Allah, selalu mengundang orang untuk memiliki perasaan yang sama dengan Allah. Manusia yang memiliki perasaan seperti Allah, homo sympatheticus, selalu mencari Wajah Allah yang berbelas kasih, yakni Yesus Kristus (Paus Fransiskus, Misericordiae Vultus, 1).  Ia layak dicari dan dijumpai karena Ia adalah kekuatan dan hikmat Allah (1Kor. 1:24).

Tiap murid-Nya menjadikan Yesus sebagai pusat dan tujuan hidup. Maka, menjalin relasi dengan Yesus bermakna terus berjaga-jaga, “siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan.” (Keb. 6:15).

Yang merenungkan, berjaga-jaga dan melaksanakan sabda-Nya, pasti, menghasilkan buah-buah Roh Kudus: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-23).

Kerajaan Surga seumpama…

Yesus menggunakan adat perkawinan yang umum dilakukan di Israel, walau terasa asing bagi orang jaman sekarang di sini. Adat perkawinan di Israel mengatur jadwal berjaga-jaga, persiapan dan siapa yang menyongsong mempelai pria. Mempelai pria akan datang untuk menjemput serta membawa mempelai perempuan ke rumah orangtuanya.

Di rumah  orang tua mempelai pria, mereka bersuka cita bersama sanak saudara dan tetangga selama seminggu, seperti di Kana (Yoh. 2:1-11). Menurut adat, mempelai pria, diiringi oleh para sahabatnya, datang sesuka hatinya. Biasanya mereka mengambil jalan yang lebih panjang, sehingga lebih banyak tetangga ikut serta dalam perarakan itu.

Ketika sampai di rumah, pintu ditutup dan tak seorang pun yang datang terlambat diijinkan masuk. Jika mempelai pria menghendaki penjemputan di malam hari, lampu minyak diperlukan untuk menerangi jalan yang sempit, sukar dan gelap.

Santo Matius mengajak jemaat yang dibinanya untuk menyadari bahwa Sang Mempelai Pria sudah hadir. Kini Ia sedang menuju ke pesta perkawinan-Nya.

Jemaat perlu menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah hadir, tetapi belum mencapai kepenuhannya. Kehadiran Kerajaan-Nya akan dipenuhi pada pada saat Ia datang dalam kemulian.

Sang Mempelai hadir dalam tubuh-Nya, Gereja. Sebagai sarana dan persekutuan umat-Nya, Gereja bertindak atas nama Tuhan. Maka, Gereja merupakan tanda dan sarana, Sakramen, kehadiran Kristus di dunia dan diberi tugas perutusan untuk mengantar umat manusia menjalin relasi dengan Allah.

Sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki

Santo Matius menggunakan kata παρθενος, parthenos, gadis, sama dengan kata yang digunakan untuk Ibu Maria dalam Mat. 1:23 dan Yes. 7:14 (Septuaginta). Para gadis itu menunggu mempelai laki-laki untuk mengikuti perarakan ke rumah baru mempelai itu dan ambil bagian dalam pesta perkawinan.

Kata γαμους, gamous  digunakan untuk pesta perkawinan dan Pesta Perkawinan Anak Domba di akhir jaman (Mat. 22:2-10; Why. 19:7-9). Dalam tradisi para rasul, Kristus adalah Sang Mempelai laki-laki yang dinanti-nantikan kedatangan-Nya oleh Gereja, Mempelai perempuan yang setia (bdk. Mat. 9:15; Yoh. 3:29; 2Kor. 11:2; Ef. 5:21-33; Why. 21:2.9; 22:17). 

Mempelai datang, songsonglah dia

Kedatangan mempelai laki-laki sering tidak sesuai harapan. Ia datang terlambat, menurut pemikiran yang menantikannya.

Padahal, sang mempelai itu sendirilah yang menentukan kapan saat yang tepat. Sementara menunggu, pelita-pelita itu makin meredup, karena minyak bakar makin habis, bahkan habis sama sekali.

Tiba-tiba, seorang penjaga berseru, “Mempelai datang. Songsonglah dia.” Seluruh rombongan yang menunggunya bangun dari tidur.

Masing-masing membereskan pelita. Lima orang gadis menambahkan minyak pada pelita yang hampir padam.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana

Lima orang gadis melambangkan komunitas dan masing-masing anggota jemaat Kristiani yang bijaksana dan tekun berjaga-jaga. Mereka menantikan dan mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus, parousia.

Sedangkan separoh yang lain tidak mempersiapkan dengan baik.  Maka, mereka yang mempersiapkan dengan serampangan, pasti, ditolak masuk ke dalam perjamuan bersama Sang Mempelai Laki-laki.

Pintu ditutup dan dikunci. Rupanya Yesus mengulangi perumpamaan tentang tamu yang tidak mempersiapkan pakaian pesta (Mat. 22:11-14). Pintu yang ditutup dan tidak dibuka mengingatkan akan pintu bahtera Nuh (Kej. 7:16).

Pintu itu melambangkan pintu Kerajaan Surga, pasti, ditutup untuk mereka yang tidak mempersiapkan diri untuk hadir dalam perjamuan Anak Domba dan Mempelai Perempuan, Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

Yudas Iskariot menutup sendiri pintu masuk Ruang Tengah. Ia memilih memasuki kegelapan malam daripada ruang yang dipenuhi oleh Cahaya Abadi. Di situlah Ia mengadakan Perjamuan Malam Terakhir.

Sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Pintu ditutup ketika kelima gadis yang tidak mempersiapkan diri untuk menyambut Sang Mempelai dengan layak pergi membeli minyak. Saat kembali, mereka berseru-seru, “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu.” 

Yesus mengingatkan akan sabda-Nya,  “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat. 7:21-23).

Yesus menolak masuk siapa pun yang tidak mempunyai niat, komitmen, dan kasih setia untuk mengenal-Nya. Dalam tradisi Kitab Suci kata ‘mengenal’ selalu mengacu pada makna relasi yang intim, seperti relasi suami-istri atau kesetiaan pada perjanjian dengan Tuhan.

Untuk selalu dikenal Yesus Kristus, Sang Mempelai Laki-laki, setiap orang Kristen harus “berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Berjaga-jaga bermakna: “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik”, tulis Santo Paulus (2Tes. 3:13).

Santo Agustinus, Uskup Hippo dan Bapa Gereja abad ke-5, menasihati, “Berjaga-jagalah dengan sepenuh hati. Berjaga-jagalah dengan sepenuh iman. Berjaga-jagalah dengan sepenuh cinta. Berjaga-jagalah dengan sepenuh kasih. Berjaga-jagalah dengan amal kasih […]

Siapkan pelita, pastikan pelitamu tidak kehabisan minyak […]  Perbaharui dengan minyak yang mengalir dari hati nurani yang jernih.

Dan pada saatnya Sang Mempelai Pria merengkuhmu dalam haribaan kasih-Nya dan membawamu masuk ke dalam ruang perjamuan-Nya. Di sana pelitamu tidak akan pernah padam.” (Sermon, 93).

Dengan cara ini setiap orang menjadi bijaksana dan siap menyongsong kedatangan Sang Mempelai, Kristus Yesus. Jangan sampai mendapatkan jawaban dari-Nya (Mat. 25:12), “Sesungguh Aku tidak mengenal kamu.”, Nescio vos.

Katekese

Kerajaan Allah seumpama sepuluh orang gadis. Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367:

“Seluruh cerita mengisahkan tentang hari besar Tuhan, ketika seluruh hal yang tersembunyi dari pikiran manusia akan disingkapkan melalui pemahaman kita tentang pengadilan terakhir. Kemudian iman yang benar pada kedatangan Tuhan akan memperoleh ganjaran yang adil, karena harapan yang tak tergoncangkan.

Dalam diri lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh (Mat. 25:2) terjadi pemisahan mutlak antara kaum beriman dan tidak beriman… Gadis yang bijaksana adalah mereka yang, memanfaatkan waktu yang tersedia bagi mereka, mempersiapkan diri sejak penetapan kedatangan Tuhan.

Tetapi yang bodoh adalah mereka yang abai dan lalai. Mereka menyusahkan diri sendiri hanya dengan benda-benda yang bersifat sementara; melupakan Sabda Allah; dan tidak mengarahkan seluruh daya upaya untuk harapan akan kebangkitan badan.” (Comentary  On Matthew 27.3,5)

Oratio-Missio

Tuhan, buatlah aku selalu berjaga-jaga dan siap sedia mendengarkan seruan-Mu, sehingga aku selalu bergegas menyongsong panggilan-Mu. Semoga Engkau mendapatiku selalu hadir di hadirat-Mu dan bersuka cita melakukan kehendakMu. Amin.  

  • Apa yang harus aku lakukan untuk menyongsong Sang Mempelai?

Vigilate itaque, quia nescitis diem neque horam – Matthaeum 25:13

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version