Lectio Divina 13.02.2024 – Perusak Hidup Umat

0
36 views
Yesus di antara kaum Farisi, by Jacob Jordaens, 1593–1678.

Selasa. Minggu Biasa VI, Hari Biasa (H)

  • Yak. 1:12-18.
  • Mzm. 94:12-13a.14-15.18-19.
  • Mrk. 8:14-21.

Lectio

14 Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. 15 Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” 16 Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.”

17 Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? 18 Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?

Tidakkah kamu ingat lagi, 19 pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.”

20 “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” 21 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”  

Meditatio-Exegese

Mengapa kamu? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?  

Pertengkaran mulut tentang bekal perjalanan yang hanya sepotong roti menyingkapkan para murid belum mengenal jati diri Yesus. Mereka belum memiliki iman atau kepercayaan pada-Nya, walau telah cukup lama mengikuti-Nya. Serangkaian pertanyaan Yesus membuktikan pengenalan yang sangat dangkal.

Ketika Yesus mengingatkan tentang bahaya ragi orang Farisi dan orang Herodes, mereka menanggapi dengan nada sepele, “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” (Mrk. 8:15). Yesus kecewa dan mengajukan serangkaian pertanyaan untuk menyingkapkan apa yang ada dalam diri mereka.

Hingga momentum perjalanan dengan perahu ini, Yesus mendapati para murid-Nya sama saja dengan yang memusuhi-Nya. Ia mengungkapkan(Mrk. 8:17), “Belum jugakah kamu faham dan mengerti?”, Nondum cognoscitis nec intellegitis?  

Kata yang digunakan Santo Markus: γνους, gnous, dari kata ginosko, mengetahui, memahami, mengenal. Mereka sama seperti ‘orang luar’ (Mrk. 4:11) yang tidak mampu mencerna makna perumpamaan Yesus.

Kepada para murid-Nya Ia bersabda, “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?”  (Mrk. 8:18). Ungkapan ini juga berarti: umat yang tidak tidak mau lagi percaya pada Allah, seperti dikecam Nabi Yesaya (bdk. Yes. 6:6-10).

Mereka lebih percaya kepada ilah-ilah palsu. Tentang iman mereka, penulis Injil mengulang apa yang diungkapkan pemazmur yang melukiskan (Mrk. 4:12; bdk. Mzm. 115:5-6) mereka, “mempunyai mata, tetapi tidak melihat; mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar.”, Oculos habent et non videbunt. Aures habent et non audient.

Kekecewaan Yesus diungkapkan dalam nada tanya, “Telah degillah hatimu?” (Mrk. 8:17). Santo Markus menggunakan kata πεπωρωμενην, peporomenen, berasal dari kata poroo, keras seperti marmer, bodoh, mati.

Maka, hati mereka telah degil, keras membatu, bahkan mati. Hati mereka telah dikeraskan seperti hati Firaun, yang menindas dan mengejar-kejar umat Allah (Kel. 4:21; 7:13; 8:15.32; 9:7, dst.).

Yesus pun masih mengajak seluruh murid-Nya percaya kepada-Nya, karena Ia menjamin hidup mereka secara berkelimpahan. “Pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” 

Jawab mereka: “Dua belas bakul.” “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka, “Tujuh bakul.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Masihkah kamu belum mengerti?” (Mrk. 8:19-21).

Ragi orang Farisi dan Herodes

Ragi, ζυμης, zumes, adalah sepotong adonan yang dibiarkan khamir dan diletakkan di dalam adonan roti agar seluruh adonan memuai. Karena ragi berpotensi mengubah zat pokok, Hukum Taurat melarang penggunaan ragi untuk pembuatan roti persembahan (Kel. 23:18; Im. 2:11).

Tetapi ragi juga memiliki makna buruk, pembusukan dari dalam hati, tempat manusia dan Allah berjumpa.   Yang dimaksud Yesus adalah mentalitas yang membusukkan jemaat, seperti yang mentalitas yang dimiliki kaum Farisi dan pengikut Herodes Antipas. Menyebut beberapa adalah sebagai berikut.

Mentalitas kaum terpilih. Ketika mendapati orang yang bukan dari golongannya mengusir setan atas nama Yesus, Yohanes berkata, “Kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita” (Mrk. 9:38). Yohanes mengira hanya kelompoknya memiliki hak untuk mengimani Yesus dan melarang orang lain berbuat baik atas nama Yesus.

Inilah ragi perusak, mentalitas “Umat terpilih, umat yang terpisahkan dari orang banyak.” Yesus menanggapi, “Jangan kamu cegah dia! Barang siapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Mrk. 9:39-40). 

Mentalitas merendahkan kelompok lain. Ketika ditolak orang Samaria, Yakobus dan Yohanes berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54).

Mereka berpikir bahwa bersama Yesus mereka memiliki hak untuk disambut siapa saja. Allah seolah hanya ada di pihak mereka. Inilah ragi, “Umat terpilih, penuh hak istimewa!” Tetapi, “Ia berpaling dan menegur mereka.” (Luk. 9:55).

Mentalitas kompetisi dan prestise. Para murid berbincang siapakah yang layak menempati tempat utama dan pertama (Mrk. 9:33-34). Mentalitas ini umum didapati pada penjajah Romawi.

Yesus menanggapi dengan bersabda (Mrk. 9:35), “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”, Si quis vult primus esse, erit omnium novissimus et omnium minister.

Mentalitas meminggirkan dan menyingkirkan. Mereka yang lemah, miskin, kecil, sakit dan difabel disingkirkan. Mereka tidak mau menerima dan memperhitungkan anak kecil.

Yesus bersabda, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.” (Mrk. 10:15); dan “Barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Luk. 18:17).

Katekese

Perhatikan Kebenaran Inil, Santo Hilarius dari Poitiers, 315-367:

Para rasul diperintahkan untuk berhati-hati terhadap ragi kaum Farisi dan Saduki. Mereka diperingatkan untuk tidak terlibat dalam perselisihan melawan orang Yahudi. Semua pekerjaan yang dilakukan berdasarkan Hukum Taurat kini harus dipandang dalam terang iman.

Mereka telah diperingatkan sebelumnya bahwa, ketika tiba saat dan jaman Sang Kebenaran telah menjadi daging, mereka seharusnya tidak mengadili apa pun kecuali hal diharapkan serupa dengan kebenaran disingkapkan.

Mereka diingatkan untuk tidak mengikuti ajaran kaum Farisi, yang tidak pernah sadar akan kehadiran Kristus, sehingga merusak kebenaran Injil.” (Commentary On Matthew 16.3)

Oratio-Missio

Tuhan, anugerahilan aku suka cita dan kekuatan untuk melayani-Mu selalu. Bantulah aku menyingkirkan ragi dosa, yang selalu merusak hidupku dan mengarahkan aku pada kematian kekal. Amin.

  • Mentalitas apa yang harus dikembangkan untuk mengikuti-Nya?  

et dicebat eis,“Quomodo nondum intellegitis?” – Marcum 8:21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here