Lectio Divina 13.10.2021 – Jangan Letakkan Beban tak Terpikul

0
255 views
Ilustrasi: Membebani umat dengan tambahan beban tak tertanggungkan by Vatican News.

Rabu. Pekan Biasa XXVIII (H)

  • Rm. 2:1-11
  • Mzm. 62:2-3.6-7.9
  • Luk. 11:42-46

Lectio

42 “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. 44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

45 Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” 

46 Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.”  

Meditatio-Exegese

Hai, kamu orang-orang Farisi

Kaum Farisi merujuk pada orang yang memisahkan diri dari Yudas Makabe dan para Hasidim. Kaum Hasidim muncul pada pertengahan abad ke-2 sebelum Masehi, karena penentangan atas helenisasi atau pemaksaan budaya Yunani terhadap kaum Yahudi oleh penguasa asing.

Kata hasidim berasal dari kata Aram hasa, bermakna: saleh. Kaum Hasidim sangat taat dan hormat pada Taurat dan adat istiadat Yahudi. Terlebih, mereka berjuang demi  kemerdekaan untuk memeluk dan menjalankan peraturan agama. 

Kata ‘farisi’, φαρισαιοις, pharisaios, bermakna orang yang ‘memisahkan diri’ dari pengajaran bangsa non- Yahudi, karena dianggap mencemari tradisi Yahudi (lih. 1Mak. 1:11; 2Mak. 4:14). Di masa penganiayaan Raja Antiokhus, kaum Farisi tampil mempertahankan agama dan tradisi Yahudi.

Banyak di antara mereka menjadi martir (1Mak. 1:41). Maka, sekte Farisi sering dikenal dengan nama sekte Puritan Yahudi, sehingga menjadi kelas terpandang pada masa Yesus.  Kaum ini percaya akan kebangkitan badan (lih. Kis. 23:6).  

Farisi juga bermakna orang yang terpisah dari umat kebanyakan karena pengetahuan akan hukum Taurat dan Kitab Suci.

Kelompok keagamaan, yang muncul sekitar tahun 135 SM, berkeyakinan bahwa seluruh hukum dapat dilaksanakan secara rinci dengan memperhatikan apa yang tertulis dalam Taurat dan penafsiran sesuai dengan situasi konkrit.

Maka, mereka menuntut penafsiran dan pelaksanaan paling keras tentang Sabat, kebersihan ritual atau ketahiran, dan persepuluhan. Golongan yang sangat nasionalis ini justru menjadi penjaga kemurnian adat istiadat Yahudi.

Mereka merindukan kemerdekaan dari penjajahan, tetapi tidak dengan cara angkat senjata.

Golongan inilah yang menyelamatkan Agama Yahudi dari penghancuran bala tentara Romawi pada tahun 70. Mereka tekun membangun komunitas-komunitas di Palestina dan kota-kota lain di seantero kekaisaran Romawi.

Sejak rata dengan tanah, ibadat dan korban bakaran tidak lagi berpusat di Bait Allah. Mereka berhasil menggantikan ibadat dan korban dengan pembacaan sabda yang termaktub dalam Kitab Suci di sinagoga.

Flavius Josephus, dari golongan Farisi dan sejarahwan Yahudi, mendeskripsikan bahwa kaum Farisi, walau berasal dari kaum awam, mewariskan kepada umat begitu banyak praktik keagamaan yang tidak tertulis dalam hukum Musa yang mereka warisi dari para leluhur.  

Berbeda dengan kaum Saduki yang hanya terdiri dari segelintir kaum kaya, kaum Farisi mampu mempengaruhi orang banyak di mana-mana (dalam Antiquities of the Jews, 13.10.6).

Relasi orang Kristen dengan beberapa orang Farisi sebenarnya sangat baik. Mereka mengingatkan Yesus akan ancaman dari Herodes Antipas (Luk. 13:31). Gamaliel yang membela para rasul di hadapan Mahkamah Agama (Kis. 5:26-40).

Dikisahkan pula orang Farisi siap menerima iman Kristen (Kis. 15:5) dan gigih membela Paulus (Kis. 23:9). Bahkan, salah satu tokoh besar kekristenan, Paulus, bangga sebagai Farisi (Flp. 3:5).

Celakalah kamu

Yesus tidak menghendaki legalisme dalam menjalin relasi dengan Allah. Yesus menolak praktik keagamaan yang abai terhadap keadilan. Di balik praktik yang saleh, ternyata tersembunyi kerakusan.

Misalnya membayar persepuluhan hanya untuk hasil bumi yang seharusnya tidak dipanen, karena itu menjadi hak kaum miskin (Ul. 14:22; Im. 27:30).

Yesus mengecam praktik kesalehan yang didorong oleh hasrat untuk dikagumi atau dikenal. Kesalehan ini dilakuan melalui penguasaan ilmu keagamaan atau tanda heran, seolah-olah Allah berkenan padanya. Tetapi, di balik hasrat itu, tersembunyi kerakusan akan uang.

Yesus bersabda (Luk. 16:15), “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.”, Vos estis, qui iustificatis vos coram hominibus; Deus autem novit corda vestra, quia, quod hominibus altum est, abominatio est ante Deum.

Yesus menolak cara hidup yang seolah tanpa cela, tetapi di dalam hati menyembunyikan cara hidup menurut daging, yaitu  percabulan, kecemaran, hawa nafsu,  penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,  kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Gal 5:19-21).

Mentalitas ini lebih najis dari pada menyentuh jenasah atau nisan yang tak dikenal (bdk. Bil. 19:16). Tiap murid harus menghindari mentalitas ini, karena merusak hidup secara perlahan, seperti ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi (Luk. 12:1).

Yesus mempersalahkan ahli Kitab karena dengan pengetahuan mereka menjauhkan orang dari penghayatan iman yang benar. Pengetahuan, kebijaksanaan dan bimbingan tidak boleh digunakan untuk menyesatkan anak kecil, yaitu mereka yang hidup bergantung pada Allah (Mat. 18:6; Mrk. 9:42).

Maka, Ia bersabda (Luk. 11:46), “Celakalah kamu juga, hai Ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”, Et vobis legis peritis: Vae, quia oneratis homines oneribus, quae portari non possunt, et ipsi uno digito vestro non tangitis sarcinas!

Katekese

Meletakkan beban berat pada sesama. Origenes dari Alexandria, bapa Gereja, 185-254 :

“Sama seperti ahli Taurat dan kaum Farisi yang dengan pongah menduduki kursi Musa, demikian juga beberapa orang tertetu di gereja menduduki kursi kegembalaan. Ada sementara orang di gereja yang memahami hukum dan menyampaikannya dengan tepat.

Mereka menyampaikan apa yang harus dilakukan setiap orang, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Beberapa lainnya meletakkan beban berat pada bahu sesamanya, tetapi tidak mau menyentuh dengan ujung jarinya untuk membantu. 

Orang-orang seperti inilah yang dibicarakan Sang Penebus ketika bersabda, “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Hukum Taurat, sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.” (Mat. 5:19).

Namun, ada orang lain,  yang duduk di kursi kegembalaan, yang melakukan perintah Taurat sebelum bicara dan mengajarkan dengan bijaksana. Mereka mencegah orang untuk berlaku serong.

Mereka menempatkan beban yang penuh belas kasih di pundak sesama. Merekalah yang mengangkat beban pertama, sebagai pesan bagi pendengarnya.

Inilah orang-orang yang dibicarakan-Nya ketika Ia bersabda, “tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”  (dikutip dari  Commentary On Matthew 9).

Oratio-Missio

Tuhan, kobarkanlah kasih-Mu dalam hatiku, agar aku mampu mencari yang paling berharga bagiku, yakni kasih-Mu, Tuhanku dan Allahku, kasih pada sesamaku. Dengan cara inilah aku semakin secitra dan serupa dengan-Mu.

Bebaskanlah hatiku dari kecenderungan untuk memeintingkan diriku sendiri, sehingga aku menjadi tertutup terhadap kebaikan, belas kasih dan kelembutan bagi setiap orang yang kukenal dan kujumpai. Amin.

  • Apa yang perlu aku buat untuk hidup sesuai sabda-Nya?

Vae vobis, quia estis ut monumenta, quae non parent, et homines ambulantes supra nesciunt! – Lucam 11:44

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here