Lectio Divina 13.6.2024 – Melampaui yang Ditentukan

0
147 views
Mengaku dosa, by Giuseppe Molteni, 1838.

Kamis. Perayaan Wajib Santo Antonius dari Padua (P)

  • 1Raj 18:41-46
  • Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13
  • Mat 5:20-26

Lectio

20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. 21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil, harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Meditatio-Exegese

Kuasa Tuhan berlaku atas Elia

Allah telah mengabulkan permohonan Elia. Ia hadir di hadapan seluruh umat dalam rupa api yang menghanguskan persembahan yang telah dibasahi air.

Sekarang Elia memohon pada-Nya untuk menurunkan hujan. Semua bukan hasil tangan Elia.

Tetapi, ia meminta pada Allah dengan iman yang sungguh, seperti dilukiskan Santo Yudas, “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.” (Yud. 5:17)

Sebelum hujan turun, Elia meminta Raja Ahab, raja Kerajaan Utara, Israel, untuk kembali ke istana, makan dan minum. Puasa seharian telah melemahkan kondisi tubuhnya dan jiwanya mungkin terguncang setelah Dewa Baal yang disembahnya tak mampu menghanguskan kurban yang dipersembakan 450 nabinya.

Sementara suara hujan telah dapat didengarkan telinga nabi Allah itu dan sang raja pulang ke istana, Elia mendaki ke puncak Gunung Karmel untuk berkanjang dalam doa. Ia memohon agar kekeringan sebagai penghukuman atas dosa umat karena menyembah berhala diakhiri.

Elia meminta pembantunya untuk melihat apakah di langit timbul awan. Sampai enam kali pembantu itu menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Pada kesempatan ketujuh muncul awan sebesar telapak tangan dari laut.

Awan dan hujan terbentu dari barat di atas Laut Mediterania, karena Gunung Karmel berhadap-hadapan dengan laut itu. Hujan terbentuk dari awan kecil menandakan suatu proses sedang terjadi. Ia mengikuti hukum kodrat.

Saat hujan mulai terbentuk, pembantu Elia disuruh mengingatkan Ahab untuk segera memasang kereta kuda dan cepat-cepat pulang ke Yizreel sebelum hujan turun. Segera langit berubah menjadi gelap dan menyusul hujan deras.

Elia berlari ke Yizreel dan mendahului sang raja yang hatinya berbalik dari Allah dan sampai ke jalan yang menuju Yizreel lebih cepat. Sedangkan Allah mengendarai awan badai yang akan mencurahkan hujan bagi umat telah meninggalkan-Nya.

Ahab, Izebel, para nabi Baal pasti ditinggalkan. Allah berpihak pada Elia dan mengalah mereka kembali. Sabda-Nya (1Raj. 18:46), “Dan kuasa Tuhan berlaku atas Elia.”, Et manus Domini facta est super Eliam.

Jika hidup keagamaanmu

Yesus menuntut tiap murid untuk mewujud nyatakan kebenaran, apabila ia ingin masuk dalam Kerajaan Surga. Tuntutan Yesus menjadi lebih jelas ketika teks Yunani dibaca, λεγω γαρ υμιν οτι εαν μη περισσευση η δικαιοσυνη υμων πλειον των γραμματεων και φαρισαιων, lego gar humin hoti ean me perisseuse he dikaiosune humon pleion ton grammateon kai pharisaion.

Secara harafiah dialihbahasakan, “Aku berkata kepadamu, bahwa kecuali kebenaranmu tidak mengatasi (keadilan) dari Ahli Taurat dan orang Farisi.” 

Sedangkan, dalam teks Latin yang diakui Gereja Katolik tertulis, Nisi abundaverit iustitia vestra plus quam scribarum et pharisaeorum, non intrabitis in regnum caelorum. Bila diterjemahkan, “Jika keadilanmu tidak lebih berlimpah daripada milik Ahli Taurat dan orang Farisi, kalian tidak akan masuk Kerajaan Surga.”

Melaksanakan kebenaran, δικαιοσυνη, dikaiosune, dari akar kata dikaios, bermakna bahwa orang menjadi benar, apabila ia melaksanakan kehendak Allah. Maka, bekas orang jahat pasti lebih baik dari pada bekas orang benar.

Nabi Yehezkiel menjelaskan, “Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yeh. 18:21).

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita.

Yesus mengulangi sabda itu lima kali (Mat. 5:21.27.33.38.43). Sebelumnya Ia bersabda, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau Kitab Para Nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17).

Sikap Yesus terhadap Hukum Taurat sangat jelas. Ia tak hanya mematahkan seluruh penafsiran yang keliru. Tetapi juga menjamin tujuan pelaksanaannya agar sesuai dengan kebenaran. Tiap murid-Nya melaksanakan keadilan yang lebih penuh, kasih.  

Tertulis hukum, “Jangan membunuh.” (Kel. 20:13). Untuk melaksanakan hukum ini sepenuh-penuhnya, para murid Yesus tidak hanya menghindari tindakan menghilangkan nyawa orang.

Ia harus membunuh segala dorongan jiwa yang menjauhkannya dari Allah, menghancurkan diri dan sesama serta alam. Dorongan yang tak teratur meluluh lantakkan seluruh sendiri kehidupan. Sabda-Nya, “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Mat. 15:19).

Jika engkau mempersembahkan persembahanmu

Allah menghendaki ibadat sejati. Ia menerima ibadat manusia, bila ia selalu hidup berdamai dengan sesama dan alam semesta.

Nabi Hosea menggemakan kehendak Allah (Hos. 6:6), “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”, quia caritatem volo et non sacrificium, et scientiam Dei plus quam holocausta.

Sebelum penghancuran Bait Allah pada tahun 70, jemaat Kristiani dari bangsa Yahudi masih berziarah dan mempersembahkan kurban bakaran di altar Bait Allah. Mereka tetap mengingat sabda ini.

Namun, pada sekitar tahun 80, saat Santo Matius menulis Injil, Bait Allah dan altar sudah tidak ada lagi. Komunitas dan perayaan yang diselenggarakan oleh komunitas iman menjadi Bait Allah dan Altar Allah.

Segeralah berdamai

Komunitas iman yang dibina Santo Matius kebanyakan berasal dari kaum Yahudi dan beberapa dari bangsa lain. Gesekan dan konflik sering terjadi dalam perjumpaan dan pergaulan di antara mereka.

Ada orang yang ingin menekankan pelaksanaan Hukum Taurat sebelum menjadi Kristen, tetapi ditentang. Tidak ada seorang pun yang mau mengalah dari yang lain. Tanpa dialog.

Santo Matius mengingatkan jemaat akan situasi yang melawan kehendak Allah. Ia menghendaki penerimaan dan pemahaman. Allah mengampuni dosa, apabila orang mau mengampuni sesamanya.

Maka segeralah berdamai dengan saudaramu. Sabda-Nya, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat. 6:13-14).

Katekese

Tolong, terimakasih, maaf. Paus Fransiskus, Buenos Aires, 17 Desember 1936.

“Kasih persahabatan menyatukan seluruh aspek hidup perkawinan dan membantu anggota keluarga untuk bertumbuh terus-menerus. Maka, kasih ini haruslah diungkapkan terus-menerus dengan bebas dan murah hati dalam kata-kata dan tindakan.

Dalam keluarga, tiga kata perlu digunakan. Saya ingin mengulangi ini. Tiga kata: “Tolong, Terimakasih, Maaf”.
Tiga kata penting.

“Di dalam keluarga kita ketika kita tidak menekan dan bertanya: “Bolehkah?”; dalam keluarga kita ketika kita tidak egois dan belajar mengatakan: “Terimakasih”; dan dalam keluarga kita ketika seseorang menyadari bahwa dia melakukan kesalahan dan mampu berkata: “Maaf”.

Maka keluarga kita akan mengalami damai dan sukacita. Janganlah kita pelit menggunakan kata-kata ini, namun terus mengulang-ulanginya, setiap hari.

Sebab berdiam diri itu membebani, bahkan walau hanya kadang kala saja terjadi di dalam keluarga, antara suami dan istri, antara orangtua dan anak-anak, di antara saudara kandung. Kata-kata yang tepat, diucapkan pada waktu yang tepat, melindungi dan merawat kasih setiap hari.” (Amoris Laetitia 133)

Oratio-Missio

Tuhan, ketika hatiku beku, cairkanlah, agar aku berbelas kasih, suka mengampuni dan selalu setia melakukan perintah-Mu. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan agar aku menjadi benar di hadapan Allah dan alam ciptaan-Nya?

Nisi abundaverit iustitia vestra plus quam scribarum et pharisaeorum, non intrabitis in regnum caelorum – Matthaeum 5:20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here