Lectio Divina 14.02.2024 – Koyakkan Hatimu, Berbaliklah pada Allah

0
50 views
Bapamu melihat yang tersembunyi, by Carl Spitzweg, 1808-1885.

Rabu. Hari Rabu Abu. Pantang dan Puasa (U)

  • Yl. 2:12-18
  • Mzm. 51:3-4.5-6a.12-13.14.17
  • 2Kor. 5:20-6:2
  • Mat. 6:1-6.16-18

Lectio 

1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

16 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Meditatio-Exegese

Sekarang juga berbaliklah kepada-Ku

Seruan untuk kembali kepada Allah menemukan momentum pada Rabu Abu. Nabi Yoel berseru (Yl. 2:13), “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.”, et scindite corda vestra et non vestimenta vestra,et convertimini ad Dominum Deum vestrum, quia benignus et misericors est, patiens et multae misericordiae.

Mengoyakkan hati bermakna meneliti kedalaman jiwa untuk mengenali setiap kecenderungan untuk melawan Allah dan dosa. Ia harus berbalik kepada Allah, menjadikan-Nya pusat hidup; serta mengimani bahwa Ia mengasihi, sabar dan berlimpah kasih setia.

Ungkapan Latin misericors dibentuk dari gabungan dua kata: miser, sedih, tidak bahagia, dan cor, hati. Ungkapan misericors bermakna berbelas kasih, hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, seperti saat Yesus memandang penderita kusta, mengulurkan tangan dan menyembuhkan-Nya (bdk. Mrk. 1:41).

Nabi Yesaya pun sampai pada titik putus asa karena seruan panggilan untuk berbalik kepada Allah tidak didengarkan umat. “… oleh karena apabila Aku memanggil, tidak ada yang menjawab, apabila Aku berbicara, mereka tidak mendengarkan, tetapi mereka melakukan yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak Kukehendak.” (Yes. 66:4).

Penolakan atas panggilan untuk berbalik kepada Allah membuat Allah sakit hati, “Sebab orang Israel dan orang Yehuda hanyalah melakukan yang jahat di mata-Ku sejak masa mudanya; sungguh, orang Israel hanya menimbulkan sakit hati-Ku dengan perbuatan tangan mereka” (Yer. 32:30).

Peri hidup yang jauh dari hasrat untuk berpaut kepada Allah merupakan peri hidup yang lebih buruk dari peri laku lembu yang mengenal pemiliknya, “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yes. 1:3).

Perjanjian dengan Allah sering dikoyak manusia karena ia tidak setia pada-Nya, seperti ketika umat memberontak terhadap Allah di Meriba (Ul. 32:51). Maka, Kitab Suci dan para Bapa Gereja menyerukan tiga bentuk pernyataan tobat terhadap diri sendiri, sesama dan Tuhan : puasa, doa dan sedekah (bdk.Tob. 12:8; Mat. 6:1-18; Katekismus Gereja Katolik, 1434).

Sayang, sering ungkapan tobat melalui puasa, doa dan sedekah hanya dimaknai sebagai kesalehan keagamaan saja. Sementara, jeritan yang menyayat kalbu dan bergema sampai langit tidak didengarkan. Seluruh alam, bumi yang menjadi rumah tinggal manusia, memanggil setiap pribadi untuk memperhatikan dan berusaha keras memulihkan dan memuliakannya. Ia telah dirusak oleh perilaku buruk manusia.

Paus Fransiskus menyeru, ”Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita  dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Kita bahkan berpikir bahwa kitalah pemilik dan penguasanya yang berhak untuk menjarahnya.

Kekerasan yang ada dalam hati kita yang terluka oleh dosa, tercermin dalam gejala-gejala penyakit yang kita lihat pada tanah, air, udara dan pada semua bentuk kehidupan. Oleh karena itu bumi, terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita. Ia “mengeluh dalam rasa sakit bersalin.” (Rm. 8:22).” (Ensiklik Laudato Si, 2).

Allah tetap terus mengundang manusia untuk didamaikan dengan-Nya. Santo Paulus berseru, ”Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” (2Kor. 5:20).  Pendamaian selalu berawal dari prakarsa Allah dan dilaksanakan melalui Yesus Kristus.

Yesus, yang serupa dengan kita, manusia, “tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15), menanggung dosa manusia (bdk. Yes. 53:4-12) dan mempersembahkan diri-Nya sendiri di kayu salib sebagai tebusan atas dosa manusia (bdk. 1Ptr. 2:22-25), mendamaikan manusia dengan Allah.

Melalui pengurbanan-Nya manusia dibenarkan di hadapan-Nya. Citra manusia yang terkoyak karena dosa asal dan dosa pribadi dihapuskan dan keserupaan itu dipulihkan (bdk. Rm.  1:17; 3:24-26). Keselamatan yang ditawarkan Allah tidak pernah ditunda. Ia menawarkan keselamatan-Nya hari ini.

“Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau. Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2Kor. 6:2). Yang terjadi, biasanya penolakan atau penundaan dari pihak manusia.

Gereja mengajarkan jalan μετανοια, metanoia, berbalik kepada Allah dan bertobat: “Jalan metanoia dan pertobatan dilukiskan Yesus secara sangat mengesankan dalam perumpamaan mengenai “anak yang hilang”, yang pusatnya adalah “Bapa yang berbelaskasihan” (Luk. 15:11-24): godaan untuk mengenyam kebebasan semu, meninggalkan rumah Bapa; kemelaratan lahiriah yang menjerat sang putera, setelah ia memboroskan segala milik kepunyaannya.

Penghinaan yang mendalam, karena harus menggembalakan babi dan, lebih buruk lagi, kerinduan agar memuaskan diri dengan makanan babi; renungan akan harta benda yang telah hilang; penyesalan dan keputusan mengaku diri bersalah di depan Bapa; jalan kembali; penerimaan yang penuh murah hati oleh Bapa; kegembiraan Bapa: semuanya itu adalah ciri-ciri proses pertobatan.

Pakaian yang indah, cincin, dan perjamuan pesta adalah lambang kehidupan baru yang murni, layak, dan penuh kegembiraan, kehidupan seorang manusia yang kembali kepada Allah dan ke dalam pangkuan keluarganya, Gereja. Hanya hati Kristus, yang mengenal kedalaman cinta Bapa-Nya, dapat menggambarkan bagi kita jurang belas kasihan-Nya atas suatu cara yang begitu sederhana dan indah.” (Ketekismus Gereja Katolik, 1439).

Jika engkau memberi sedekah, berdoa dan berpuasa

Yesus tidak mempertanyakan amal kasih kepada mereka yang miskin. Amal kasih merupakan tuntutan Hukum Perjanjian Sinai (Kel. 21:2; 22:20-26; 23:10-13). Seluruh umat harus membuka tangan lebar-lebar bagi mereka yang ditindas dan miskin (Kel. 15:11).

Yesus mengecam niat seseorang untuk bersedekah, berdoa dan berpuasa bila hanya untuk mencari pujian bagi dirinya sendiri. Maka, Ia menyamakan perilaku itu seperti perilaku ‘orang munafik’. Santo Augustinus menulis, “Orang munafik adalah ia yang berpura pula menjadi pribadi yang penting, tetapi ternyata tidak demikian. Orang ini berpura-pura menjadi suci, tetapi tidak menunjukkan bukti kesucianny … 

Mereka tidak mendapatkan ganjaran sedikitpun dari Allah, yang menelisik hati manusia, “yang mencela tipu daya mereka.” Mereka mungkin mendapat ganjaran dari manusia, tetapi dari Allah mereka hanya mendengar, “Enyahlah dari hadapan-Ku, kalian para pembuat dusta. Engkau mungkin bicara atas namaku, menyerukan namaKu, tetapi kalian tidak melakukan kehendak-Ku.”  (Sermon on the Mount 2.2.5).

Di padang gurun berdoa dan berpuasa bersama Yesus

Empat puluh hari masa Prapaskah merupakan masa retret agung umat untuk mengikuti jejak Kristus yang tinggal di gurun selama empat puluh hari (Mrk. 1:13). Empat puluh merupakan salah satu angka terpenting dalam Kitab Suci. Musa mendaki gunung untuk memandang wajah Allah selama empat puluh hari dengan berdoa dan puasa.

Bangsa Israel tinggal di padang gurun selama empat puluh tahun mempersiapkan diri memasuki tanah terjanji. Nabi Elia berpuasa empat puluh hari saat berjalan ke gunung Tuhan. Empat puluh hari melakukan doa, puasa, amal kasih, dan penyesalan atas dosa, umat-Nya diarahkan untuk merayakan Paskah Kristus saat Ia mengalahkan dosa, setan dan maut.    

Setiap saat selalu merupakan undangan untuk berbalik kepada Allah hingga Yesus Kristus datang dalam kemuliaanNya di akhir jaman. Untuk tiap pribadi, undangan itu berlangsung hingga saat ia dipanggil pada saat kematian, et in hora mortis nostri, dan pada saat kami mati (doa Salam Maria).

Santo Paulus menulis (2Kor. 6:2), “Sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.”, Ecce nunc dies salutis. Panggilan untuk keselamatan juga mengingatkan akan panggilan gembala yang baik, yang memanggil masing-masing dengan namanya (Yes. 43:1), “Aku memanggil dengan namamu.”, et vocavi nomine tuo.

Atas panggilan itu, setiap jiwa diharapkan menjawab (1Sam. 3:10), ”Berbicaralah, sebab hambamu mendengar.”, Loquere quia audit servus tuus.

Sikap tobat dilandaskan pada kesadaran bahwa, “kita sendiri dibentuk dari debu tanah (Kejadian 2:7); tubuh kita tersusun dari partikel-partikel bumi, kita menghirup udaranya dan dihidupkan serta disegarkan oleh airnya.” (Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si, 2).

Sikap tobat tidak hanya diarahkan para cara memperlakukan sesama manusia (bdk. Mat 25:31-46); tetapi juga pada seluruh ciptaan. “Bertobat berarti berhenti mengeksploitasi, menaklukkan ekologi secara liar. Kita harus kembali kepada maksud Tuhan ketika Ia mengundang kita untuk “mengusahakan dan  memelihara” taman dunia (lihat Kej. 2:15).

Sementara “mengusahakan” berarti menggarap, membajak, atau mengerjakan; “memelihara” berarti melindungi, menjaga, melestarikan, merawat, mengawasi. Artinya, ada relasi tanggung jawab timbal balik antara manusia dan alam.” (Paus Fransiskus, Ensiklik Laudato Si‘, 67).

Tantangan bersama: a) bagaimana kita membela, memulihkan dan merawat alam lingkungan dari tindakan sewenang-wenang kita sendiri; b) bagaimana kita mengelola sumber daya untuk menciptakan kesejahteraan bersama; dan c) bagaimana membela dan merawat para korban dan mereka yang ditindas serta dirampas hak-hak asasinya (bdk. Janji Baptis).  

Hendaklah sedekah, doa dan puasamu tersembunyi

Tuhan mengingatkan para murid akan nafsu meninggikan diri sendiri. Tiap murid ditantang untuk mengasihi Allah melalui laku dan sikap hidup taat, hormat, segan dan penuh kasih pada Allah. Laku dan sikap hidup ini merupakan anugerah Roh Kudus, yang menghendaki sertiap murid Tuhan hidup suci untuk menyenangkan hati-Nya (bdk. Yes. 11:1-2).

Santo Gregorius Agung mengingatkan, “Biarlah pekerjaanmu diketahui orang; tetapi niat batinmu tetap tersembunyi. Marilah kita memberi contoh dengan perbuatan baik, agar dengan niat kita, yang dimaksudkan untuk menyenangkan hati Allah, tetapi kita selalu menyembunyikan niat itu dalam-dalam.”

Terlebih, Santo Basilius menganjurkan, “Hendaklah kita menjauhkan pujian yang sia-sia, karena itu menodai perbuatan baik, musuh tiap jiwa, ngengat bagi keutamaan, penghancur perbuatan baik, yang mewarnai racun dengan menyamarkan campuran madu tipu daya, dan yang menuangkan piala kematian pada jiwa manusia. Betapa manis pujian manusia bagi mereka yang belum pernah mengalaminya.”

Katekese

Makna doa, amal kasih dan puasa. Paus Fransiskus, Buenos Aires, 17 Desember 1936:

Abu menandakan kehampaan yang bersembunyi di balik pencarian sia-sia akan barang-barang fana. Benda itu mengingatkan kita bahwa kefanaan nampak seperti debu yang hilang disapu angin lalu. Saudari dan saudara, kita tidak tinggal di dunia ini untuk mengejar angin.

Hati kita merindukan keabadian. Masa Pra-Paskah menjadi saat yan dianugerahkan Tuhan agar kita diperbaharui, agar kita mengolah hidup batin dan berjalan menuju Paskah, ke tempat di mana segalanya tidak akan musnah, ke tempat anugerah yang akan kita terima dari Bapa.

Masa Pra-Paskah juga merupakan peziarah untuk kesembuhan. Tidak untuk diubah dalam semalam, tetapi menghayati hidup setiap hari denan roh yang selalu diperbaharui, suatu ‘cara hidup’ yang berbeda. Doa, amal kasih dan puasa sangat membantu kita dalam membaharui diri.

Disucikan oleh Abu Pra-Paskah, disucikan dari kemunafikan yang kita tampilkan, ketiganya menjadi sangat berdaya guna dan membaharui hidup kita untuk menjalin relasi intim dengan Allah, saudara-saudari kita dan diri kita sendiri. 

Doa, doa dengan kerendahan hati, doa ‘di tempat tersembunyi’ (Mat. 6:6), dalam kesunyian di kamar kita, menjadi rahasia yang membuat hidup kita berkembang di mana-mana. Doa adalah suatu dialog, yang hangat dalam kasih dan kepercayaan, yang menghibur dan mengembangkan hidup kita.

Selama masa Prapaskah ini, mari kita berdoa dengan memandang wajah Tuhan Yang Disalib. Mari kita membuka hati kita pada sentuhan kelemutan hati Allah, dan ke dalam luka-luka-Nya kita meletakkan luka-luka kita dan luka-luka dunia. Mari lah kita selalu bergegas dan segera berdiri di hadapan-Nya dalam keheningan.

Marilah kita menemukan kembali dialog yang penuh makna dan sederhana dengan Tuhan kita. Karena Allah tidak tertarik pada penampilan. Sesunguhnya, Ia menyukai apa yang ditemukan-Nya tersembunyi, “kasih yang hening”, yang jauh dari segala bentuk kepura-puraan dan hingar-bingar.

Jika doa selalu nyata, ia harus menghasilkan buah dalam amal kasih. Dan kasih membebaskan kita dari segala bentuk perbudakan yang terburuk, yakni perbudakan itu sendiri. Kasih dalam masa Prapaskah, yang disucikan oleh debu ini, mengembalikan kita pada suka cita terdalam yang ditemukan dalam tindak pemberian.

Amal kasih, yang dilakukan jauh dari tatapan mata, memenuhi hati dengan damai dan harapan. Amal kasih menyingkapkan keindahan dalam memberi, yang pada gilirannya menjadi menerima. Maka itu memungkinkan kita menemukan rahasia yang berharga: hati kita lebih bersuka cita karena memberi daripada menerima (bdk. Kis. 20:35). Akhirnya, puasa.

Puasa bukan pengaturan pola makan, diet. Tentu, puasa membebaskan kita dari kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan pengejaran akan kebugaran jasmani. Puasa membantu kita untuk tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi merawat jiwa kita pula. Puasa membuat kita menghargai barang-barang yang berguna bagi hidup kita.

Tindakan itu mengingatkan kita secara nyata bahwa hidup tidak bergantung pada barang fana yang selalu melintas dalam sekejap mata. Atau puasa tidak juga dibatasi atas makanan saja. Khususnya dalam masa Prapaskah. Kita harus berpantang dari segala hal yang dapat menciptakan segala jenis ketergantungan dalam diri kita.

Hal inilah yang harus kita renungkan, demikian juga dengan puasa agar berguna dan mengubah hidup kita sehari-hari. Doa, amal kasih dan puasa harus tumbuh ‘dalam keheningan’, tetapi hal itu tidak berlaku untuk pengaruhnya bagi kita.

Doa, amal kasih dan puasa tidak hanya menjadi obat untuk kita sendiri, tetapi juga untuk setiap orang. Ketigganya dapat mengubah sejarah. Pertama, karena mereka yang mengalami dampaknya hampir-hampir tanpa sadar menularkan pada sesama. Namun, sejatinya, doa, amal kasih dan puasa menjadi jalan utama yang digunakan Allah untuk campur tangan dalam hidup kita dan dunia.

Semua menjadi sejata rohani, dan dengan sejata itu, dewasa ini, doa dan puasa untuk Ukraina, kita memohon pada Allah untuk menganugerahkan damai sejahtera yang tak mampu dibangun kembali oleh tangan pria dan wanita.” (Homily, Basilica of Santa Sabina, Ash Wednesday, 2 Maret 2022, dibacakan oleh Kardinal Pietro Paroline).

Oratio-Missio

Tuhan, anugerahilah aku iman yang hidup, harapan yang kuat dan kasih yang berkobar. Tuntunlah aku melalui masa tobat ini dan bantulah aku menghilangkan perilaku malas mendalami sabda-Mu dan semena-mena pada lingkungan hidupku. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk memperlakukan sesamaku dan alam lingkunganku?

Attendite, ne iustitiam vestram faciatis coram hominibus, ut vi deamini ab eis; alioquin mercedem non habetis apud Patrem vestrum, qui in caelis est –  Mattaeum 6:1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here