Lectio Divina 15.01.2022 – Mengampuni dan Menyembuhkan

0
160 views
Aku datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa, by Vatican News.

Sabtu. Hari Biasa, Pekan Biasa I (H)

  • 1Sam. 9:1-4.17-19;10:1a
  • Mzm. 21:2-3.4-5.6-7
  • Mrk. 2:13-17

Lectio

13 Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. 14 Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

15 Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.

16 Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Meditatio-Exegese

Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?

Tantangan kedua yang dihadapi jemaat Santo Markus: saling menerima sesama anggota yang berasal dari agama Yahudi dan agama asli.

Pada tahun 70-an, Santo Markus mengajak jemaatnya untuk memecahkan persoalan itu melalui kisah ini: Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? (Mrk. 2:16). 

Jemaat yang berasal dari agama Yahudi berat hati bergaul dan mengunjungi rumah jemaat yang berasal dari agama asli (bdk. Kis. 10:28; 11:3).

Maka, kisah panggilan Lewi bertujuan untuk memecahkan hambatan yang menyebabkan jemaat sulit merasa sehati dan sejiwa.  

Sebenarnya orang-orang biasa sangat senang mendengarkan pengajaran Yesus, yang berpusat pada Kerajaan Allah.

Ia mengajar sesuai dengan daya nalar dan daya tangkap mereka. Ia mengajar dengan perumpamaan yang menginspirasi hidup mereka.

Ciri khas yang diterakan Santo Markus adalah umat begitu bersuka cita menerima Yesus dan pengajaran-Nya (Mrk. 1:14.21.38-39; 2:2.13). Tetapi, para pemimpin agama atau kaum cerdik pandai menolak dengan pelbagai dalih.

Ia melihat Lewi, lalu berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” 

Yesus telah kembali ke rumah di Kapenaum. Kapernamum menjadi titik temu jalur perdagangan ke dan dari Tyrus, Damaskus, Yerusalem, hingga Mesir, Roma, bahkan Cina.

Pagi-pagi ia berjalan-jalan di pantai Danau Genesaret dan menemui Lewi di tempat kerjanya, kantor bea cukai Kapernaum.

Kantor itu pasti terletak di tempat yang strategis dan dilalui semua orang yang datang dan pergi dari kota pelabuhan itu.

Di situlah ia memungut cukai atas barang dagangan. Dari kantor itu juga Lewi mengatur pemungutan pajak tanah, pajak kepala dan segala jenis pajak yang ditentukan penjajah Romawi untuk penduduk di seluruh wilayah penarikan pajaknya. 

Yesus memanggil Lewi, nama asli Matius (Mat. 10:3). Ia mungkin diberi nama baru seperti terjadi pada Simon yang dipanggil Petrus, dan Saulus yang diganti menjadi Paulus. Ia anak Alfeus.

Namun tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Yakobus Muda, yang juga memiliki ayah bernama Alfeus. 

Lewi pasti sudah mendengar kabar tentang Yesus di Kapernaum. Di dalam dirinya seperti ada kerinduan untuk bertemu dengan-Nya. Dan, kerinduan itu akhirnya terjawab.

Yesus tidak mengundang Lewi. Ia berinisiatif, meminta seseorang mengikuti-Nya. Maka, Ia memerintah dengan kewibawaan.

Sabda-Nya (Mrk. 2: 14), “Ikutlah Aku!”,Sequere me.

Yesus memilih sendiri siapa yang diajak untuk mengikuti-Nya. Sabda-Nya (Yoh. 15:16), “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu, dan menetapkan kamu”, Non vos me elegistis, sed ego elegi vos et posui vos.

Pilihan Yesus ternnyata sangat tidak lazim. Ia tidak memilih orang yang dianggap baik, saleh, ternama atau tanpa cela. Ia memilih orang yang dimusuhi dan disingkirkan.

Maka, panggilan untuk mengikuti Yesus bermakna menjadikan Yesus sebagai pusat hidupnya.

Santo Paulus berkata, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20).

Sama seperti Petrus dan Andreas, berdirilah Lewi, lalu mengikuti Dia. Ia meninggalkan rumah cukai dan segala yang erat terkait dengan cukai.

Pemungut cukai dan orang berdosa makan dengan Dia dan murid-Nya. 

Lewi sudah menjadi murid Yesus. Lalu Yesus makan bersama dengan pemungut cukai yang dianggap sebagai pengkhianat atau pendosa karena berkerja untuk penjajah Romawi.

Golongan pendosa mencakup: pelacur, penunggang kuda/unta, tabib, pelaut, gembala, tukang daging, dan sebagainya.

Mengundang dan makan bersama mereka adalah tanda penerimaan sebagai saudara. Yesus memulihkan relasi yang diputus karena hukum ciptaan manusia.

Melalui para murid, kaum Farisi dan ahli Taurat mengungkapkan kegusaran mereka. “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Mrk. 2:16).

Dengan bertanya seperti itu, para pemuka agama Yahudi tidak pernah menghendaki solidaritas dan upaya membangun spiritualitas sehati-sejiwa. Mereka menghendaki selalu terpecah.

Yesus senantiasa berdoa agar semua mau bersatu dalam satu kawanan, semoga mereka menjadi satu, ut omnes unum sint (Yoh. 17:21). Sayang, pertanyaan orang Farisi dan ahli Taurat itu  masih sering menghantui hidup menjemaat sampai kini.

Yesus menanggapi kecaman mereka secara tidak langsung. Sabda-Nya, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk. 2: 17).

Inilah Kabar Suka Cita yang diwartakan Yesus. Ia menampakkan wajah Allah yang penuh kerahiman.

Ia mencari, menemukan dan mengumpulkan mereka yang lemah, miskin, menderita dan dipinggirkan. Ia menjadi pembangun jembatan, pontifex, yang menghubungkan antara Allah-manusia-semesta.

Katekese

Tiada seorang tabib pun dapat menghindari sumber penyakit. Santo Gregorius dari Nazianzus, 330-390:

“Ketika Yesus dikecam karena bergaul dengan para pendosa, dan mengangkat salah satu dari mereka sebagai murid-Nya, walau dia merupakan pemungut cukai, orang akan bertanya-tanya, “Keuntungan apa yang akan diperolehNya?” (Luk 15:2). Hanya menyelamatkan pendosa.

Menyalahkan Yeus karena pergaulan-Nya dengan pendosa akan serupa dengan menyalahkan seorang tabib karena memeriksa penyakit dan bau busuk untuk menyembuhkan si sakit.” (Oration 45, On Holy Easter 26).

Oratio-Missio

Tuhan Yesus, Juruselamat kami, izinkan aku datang pada-Mu. Ketika hatiku dingin, Tuhan, hangatkanlah dengan kasih-Mu yang tanpa mementingkan diri sendiri. Ketika hatiku, penuh noda dosa, bersihkanlah dengan darah-Mu yang tak terperikan nilainya.

Ketika hatiku lemah, kuatkahlah dengan Roh-Mu yang penuh suka cita. Ketika hatiku hampa, penuhilah dan hadirlah dalam hatiku.

Tuhan Yesus, hatiku adalah milik-Mu. Milikilah selalu dan kupersembahkan hatiku pada-Mu. Amin. (Doa Santo Agustinus, terjemahan bebas, abad ke-4).  

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk membangun persekutuan sehati-sejiwa dalam komunitas tempat aku tinggal dan tumbuh dalam iman?

non veni vocare iustos sed peccatores – Marcum 2:17

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here