Lectio Divina 17.10.2021 – Melayani dan Memberikan Nyawa

0
254 views
Ilustrasi: Hendaklah kamu saling melayani, seperti Aku by Groupos De Jesus.

Minggu. Pekan Biasa XXVIX (H)

  • Yes. 53:10-11
  • Mzm. 33:4-5.18-19.20.22
  • Ibr. 4:14-16
  • Mrk. 10:35-45

35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!” 36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” 38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42  Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Meditatio-Exegese

Anak Manusia akan diserahkan dijatuhi hukuman mati

Yesus menyingkapkan apa yang akan terjadi pada babak akhir hidup-Nya. Ia bernubuat tentang diri-Nya sendiri (Mrk 10:33), “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.” , Filius hominis tradetur principibus sacerdotum et scribis, et damnabunt eum morte.

Yesus menyingkapkan diri sebagai Anak Manusia. Ia tidak pernah mengidentifikasikan diri-Nya dengan paham mesias yang umum dihayati orang sezaman. Ia menghayati ke-Mesias-an-Nya sebagaimana dinubuatkan Nabi Yesaya sebagai Hamba Yahwe yang menderita karena menjadi tebusan atas dosa melalui sengsara dan kematian (Yes 53:5-12).

Yesus membayar tebusan atas dosa dan maut dengan darah-Nya. Kemenangan Yesus tidak berakhir dengan kematian, tetapi Ia mengalahkan kematian dengan kebangkitan-Nya.

Pada kesempatan ketiga ini Yesus menubuatkan cara kematian-Nya. Cara Ia wafat bukan merupakan predestinasi, nasib buta yang telah digariskan atau ditetapkan sebelumnya atau suatu agenda yang dirancang canggih untuk dilaksanakan tanpa tanya. 

Nubuat-Nya akan terjadi dalam waktu dekat. Yesus harus menderita sengsara karena pengkhiantan, penolakan, pengadilan yang tidak adil dan memanggung hukuman mati, tetapi pada hari ketiga Ia dibangkitkan (bdk. Yes. 50, 4-6; 53, 1-10).

Pada masa itu, cara menghukum mati penjahat keji hanya ada dua cara: merajam atau menyalibkan. Penyaliban disamakan dengan menggantung seseorang pada sebuah tiang. Cara penghukuman ini adalah cara kafir yang paling kejam dan merendahkan martabat.

Kitab Ulangan menegaskan orang yang dihukum mati dengan digantung sama dengan orang yang dikutuk Allah, “Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kau gantung dia pada sebuah tiang…  seorang yang digantung terkutuk oleh Allah.” (Ul. 21:22-23). 

Sangat wajar para murid-Nya merasa cemas dan takut. Mereka tidak mau mengerti dan memahami. Mata mereka tertutup dan tidak mengenal Yesus, Sang Guru (lih. Luk. 24:31). Bagi mereka seorang Mesias harus tidak mengalami kesengsaraan macam ini.

Yang dialami Yesus pada babak akhir hidup-Nya: dikhianati dan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,  diadili dan dijatuhi hukuman mati, diolok-olok dan diludahi, disesah dan dibunuh. 

Inilah puncak pelayanan dan ketaatan-Nya pada Bapa. Ia melaksanakan tugas perutusan sampai tuntas, kendati harus mempertaruhkan dan memberikan nyawaNya sendiri. Inilah tebusan, λυτρον, lutron, redemptio , tebusan.

Tebusan bukan lagi bermakna uang yang dibayarkan untuk membebaskan seseorang (bdk. Im. 25:26, 51-52; Kel. 21:30, 30:12; Bil. 18, 35:31-32). Tebusan bermakna “… sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut… menanggung dosa banyak orang…” (Yes. 53:12).

Hamba-Ku itu akan membenarkan banyak orang, dan kejahatan mereka dia pikul

Nabi Yesaya dan para penulis suci Perjanjian lama menubuatkan apa yang dialami Yesus dalam melaksanakan karya penyelamatan. Citra yang disingkapkan adalah citra seorang Hamba seperti disingkapkan berasal dari keurunan Daud.

Melalui pengorbanan-Nya, Ia akan membenarkan banyak orang dan memikul kesalahan-kejahatan manusia (bdk. Yes. 53:11; Yes. 11:1; Mzm. 22:6-8; Mzm. 22:12-18.22:27-31; Mzm. 72:7.10.17. Yes. 11:10; Zak 9:9; Mzm. 85:10-14).

Perjanjian Baru berulang kali mengidentifikasi Sang Hamba  dengan Mesias, baik secara tersirat maupun tersurat. Santo Lukas menuliskan sabda Yesus Kristus tentang diri-Nya, “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” (Luk. 22:37).

Santo Markus pun secara tersurat menulis nubuat tentang Yesus, “Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi, “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.” (Mrk. 15:28).

Santo Yohanes menuliskan tentang terpenuhinya nubuat Nabi Yesaya, “Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepada-Nya, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?” (Yoh 12:27-38).

Bagian lain dari nubuat Nabi Yesaya tentang Hamba Allah (Yes. 52;13-53:11) diacu oleh para penulis Perjanjian Baru dalam 1Yoh. 1:29; Mat. 8:17; Mat. 20:28; Kis. 8:28-35; 1Ptr. 2:22-25; 1Kor. 15:3; 1Yoh. 3:5.

Anak Manusia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang

Nubuat Yesus tentang cara kematian-Nya tidak dipahami para murid. Mereka tidak memperhatikan Yesus, tetapi lebih tertarik pada kepentingan diri yang remeh.

Yakobus dan Yohanes meminta kedudukan saat Yesus dimuliakan. Kisah serupa yang lebih dramatik disajikan Santo Matius; yang menyampaikan permohonan kedudukan bukan kedua anak Zebedeus, tetapi ibu mereka (Mat 20:20-21).

Permintaan mereka mencerminkan apa yang terjadi dalam jemaat yang dibina Santo Markus, bahkan sampai sekarang. Barangkali, pada saat menghadapi pelbagai macam kesulitan, termasuk kelangkaan lapangan kerja, sang ibu meminta jaminan tersedianya pekerjaan saat Kerajaan yang hendak didirikan Yesus tegak. 

Yesus mendidik para murid saat Ia menanggapi permintaan kedua anak Zebedeus. Sekali lagi, Ia bersabda tentang bagaimana mengelola dan menggunakan kekuasaan (bdk. Mrk. 9:33-35).

Pada saat itu, para penguasa dalam Kekaisaran Romawi tidak pernah memperhatikan rakyat. Mereka hanya berpusat pada bagaimana memenuhi hasrat untuk memperkaya diri, keluarga, dan kelompok sendiri, seperti nampak dalam kisah pembunuhan Yohanes Pembaptis (Mrk. 6:17-29).

Kekaisaran Romawi pun menguasai dunia dan menjaga kesetiaan tiap wilayah jajahannya dengan cara kotor, tercakup dalam unjuk kekuatan senjata, pemberian gelar kehormatan dan rekayasa ekonomi melalui upeti, penarikan pajak, dan kerja paksa.

Semua itu dilakukan untuk menjamin pemusatan kekayaan dan segala sumber daya mengalir hanya kepada segelintir penguasa.

Selama berabad-abad rakyat jelata dilanda represi dan praktik kekuasaan yang melenceng. Maka, Yesus membuka wawasan baru, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Mrk 10:43-44).

Ia menentang pemusatan hak-hak istimewa dan permusuhan. Ia menjungkir-balikkan sistem kekuasaan eksploitatif dengan pelayanan, sebagai tandingan atas ambisi pribadi. Komunitas yang berpusat pada diri-Nya harus menampilkan tata kelola hidup bersama yang sama sekali baru untuk memuliakan martabat manusia.

Dalam komunitas Yesus, setiap anggota harus melayani dengan sukarela. Markus menggunakan kata  διακονος, diakonos, minister, pelayan, untuk orang yang memberikan pelayanan secara suka rela (Mrk. 10:44).

Tetapi untuk orang yang mau menjadi pemuka di komunitas itu, mereka harus mengambil sikap seperti hamba/budak, δουλος, doulos, servus, orang yang memberi layanan tanpa hak untuk meminta upah.

Tak jarang dijumpai dalam komunitas mentalitas tangan besi menjangkiti hati para pemuka. Mereka yang seharusnya memberi layanan tanpa hak untuk meminta upah berubah wajah menjadi penguasa yang menjalankan kuasanya dengan keras.

Santo Markus menggunakan gambaran, ”dominantur eis”, yang di-Indonesia-kan: memerintah rakyatnya dengan tangan besi (Mrk. 10:42).

Akar kata dominantur: dominari, memerintah, menjajah, memaksa; sedang kata itu dibentuk dari kata benda: dominus, tuan.

Dalam tulisan kegerejaan, dominus biasa digunakan untuk menyebut Allah atau Yesus. Maka, mentalitas tangan besi selalu mengacu pada anggapan bahwa sang pemuka jemaat sama dengan Tuhan, seperti saat manusia pertama jatuh dalam dosa (bdk. Kej 3:5). Mentalitas tangan besi harus diubah menjadi pelayanan seperti servus, hamba.

Yesus menuntut para murid-Nya menjadi pelayan, minister, karena Ia melayani dan menyerahkan nyawa-Nya untuk semua. Pasti Ia telah belajar menjadi taat dari sang ibu ketika ia menjawab Malaikat Gabriel “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38).

Sikap batin Yesus tercermin dari sabda-Nya (Mrk 10:45),  “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”, Filius hominis non venit, ut ministraretur ei, sed ut ministraret et daret animam suam redemptionem pro multis

Katekese

Tidak dilayani, tetapi melayani. Santo Yohanes Chrysostomus, 344-407:

“Yesus bersabda, “Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Sabda-Nya seolah-olah menyingkapkan, “Aku tak menghendaki bahkan untuk berhenti pada kematian, tetapi dalam kematian Aku memberikan hidup-Ku sebagai tebusan. Untuk siapa? Untuk para musuh. Untuk kamu. Jika engkau dilecehkan, hidup-Ku Kuberikan padamu. Hidup-Ku untukmu. Aku untuk-Mu.”

Maka, engkau tidak perlu mencemaskan dirimu sendiri ketika engkau menderita karena tidak dihormati. Tak peduli betapa engkau direndahkan, engkau tidak akan direndahkan serendah-rendahnya, seperti dialami Tuhanmu. Dan bahkan dari tempat terdalam perendahan seseorang, Ia akan ditinggikan.

Kemuliaan-Nya bercahaya dari tempat yang paling rendah. Karena sebelum Ia menjadi manusia, Ia telah dikenal hanya oleh para malaikat. Tetapi, setelah Ia menjadi manusia dan disalibkan, hingga seperti kehilangan kemuliaan-Nya, Ia memperoleh kembali kemuliaan yang jauh lebih luhur, bahkan kemuliaan dari dunia yang sangat dikenal-Nya”

“Maka, jangan takut, seolah-olah kehormatanmu direndahkan. Maka, sebaiknya bersedialah untuk merendahkan diri. Karena dengan cara ini, kemuliaanmu jauh ditinggikan, dan dengan cara ini pula, kemuliaanmu menjadi lebih luhur.

Inilah pintu masuk Kerajaan-Nya. Mari, kita tidak pergi ke arah yang berlawanan. Mari kita tidak melawan diri kita sendiri. Karena jika kita menghendak untuk nampak besar, kita tidak akan nampak besar, bahkan akan nampak sebagai yang paling tidak terhormat.

Apakah engkau mengetahui bagaimana Yesus di mana-mana mendorong mereka untuk mengesampingkan dan merendahkan hal yang tak penting?

Ia memberi mereka apa yang mereka inginkan, tetapi dengan cara yang tidak mereka harapkan.” (The Gospel Of Matthew, Homily 65.4.25)

Oratio-Missio

Tuhan, jadikan aku pelayan kasih dan Kerajaan-Mu, agar aku selalu berusaha untuk melayani dari pada dilayani. Kobarkanlah dalam hatiku kasih agar aku memberi diriku dengan rela hati dan melayanimu dengan penuh suka cita. Amin. 

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk menjadi pelayan Allah dan sesama?          

Filius hominis non venit, ut ministraretur ei, sed ut ministraret et daret animam suam redemptionem pro multis – Marcum 10: 45 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here