Lectio Divina 19.08.2022 – Kamu Harus Mengasihi

0
280 views
Kamu harus saling mengasihi, by Radio Don Bosco.

Jumat. Hari Biasa. Pekan Biasa XX (H)

  • Yeh. 37:1-14.
  • Mzm. 107:2-3.4-5.6-7.8-9.
  • Mat. 22:34-40.

Lectio

34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”

37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Meditatio-Exegese

Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?

Tiada henti para musuh mencobai Yesus. Setelah Yesus membungkam kaum Farisi yang menuduh Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul (Mat. 12:24), Yesus membungkan kaum Saduki yang bertanya tentang perkawinan leviran.

Sekarang, seorang ahli hukum Taurat dari kalangan mereka datang Yesus. Dia yang fasih dan ahli menafsirkan sisi hukum dari sabda Allah hendak mencobai-Nya. Kata yang digunakan: πειραζων, peirazon, mencobai, menjerat, memasang perangkap.

Kata ini juga ditemukan dalam Mat. 4:1-11 untuk melukiskan kegiatan setan. Setan mencobai atau menjerat Yesus agar mengikuti kemauannya. Maka, mereka bertanya bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mencari cara untuk menjelekkan Yesus atau menjerat-Nya supaya punya dalih untuk menghukum-Nya.

Si ahli Hukum Taurat itu bertanya tentang hukum manakah yang paling utama dalam hukum Taurat. Tradisi rabbinik telah mengembangkan dan merinci 10 Hukum Allah menjadi 613 perintah dan larangan. Semuanya dianggap penting dan harus dilakukan.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dan Kasihilah sesamamu manusia

Yesus meringkas dua perintah yang terdapat dalam Kitab Ulangan: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  (Ul. 6:5), dan Kitab Imamat: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Im. 19:18). Ia menggunakan kata αγαπησεις, agapeseis, dari kata dasar agapao.  

Karya Allah melulu mengasihi. Ia adalah kasih dan seluruh karya-Nya mengalir dari kasih-Nya untuk manusia (1Yoh. 3:1, 4:7-8, 16). Ia mengasihi kita terlebih dahulu (1Yoh. 4:19) dan kasih kita pada-Nya merupakan jawaban atas kebaikan dan belas kasih-Nya pada manusia.

Yesus juga memerintahkan untuk mengasihi sesama manusia (1Yoh. 4:21), ”Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”, qui diligit Deum diligat et fratrem suum.

Tetapi, jika manusia mengasihi manusia hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tanpa pernah menghadirkan Allah, kasihnya menjadi halangan untuk mengungkapkan dan melaksanakan perintah pertama. Maka kasihnya belumlah sempurna.

Kasih untuk sesama demi kepentingan Allah menjadi bukti bahwa manusia mengasihi Allah. Santo Yohanes menulis, ­“Jikalau seorang berkata, “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” (1Yoh. 4:20).

Dengan demikian, perintah pertama dan terutama tercakup dalam kasih tanpa syarat pada Allah; yang kedua merupakan niat hati, konsekuensi dan buah dari yang pertama. Santo Thomas Aquino mengajarkan, “Ketika manusia dikasihi, Allah juga dikasihi, karena manusia merupakan citra Allah.” (bdk. Commentary on St. Matthew, 22:4).

Paus Benediktus XVI menegaskan, “Marilah kita mengenang para kudus, yang mewujudkan kasih dengan cara yang istimewa. Kenangan kita secara khusus terarah pada Martinus dari Tours (†397), prajurit yang menjadi rahib dan uskup: dia hampir seperti sebuah ikon, gambaran akan kesaksian kasih pribadi yang nilainya tak tergantikan.

Di pintu gerbang Amiens, Martinus membagi dua mantelnya dan memberikannya pada seorang miskin: Yesus sendiri, yang pada malam itu menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dengan mengenakan mantel tersebut.

Hal itu menegaskan kebenaran abadi dari apa yang dikatakan dalam Injil, “Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian … segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:36.40)” (Ensiklik Deus est Caritas, 40).

Katekese

Mengasihi Allah dengan hati, budi dan jiwa. Origenes dari Alexandria, 185-254 :

“Layaklah dia, yang dilimpahi segala anugerah, yang bersuka cita karena kebijaksanaan Allah, karena telah memiliki hati yang penuh dengan kasih pada Allah dan jiwa yang sepenuhnya diterangi oleh pelita pengetahuan dan budi yang dipenuhi oleh sabda Allah. 

Lalu, hidup mengikuti bahwa anuggerah-anugerah itu yang sebenarnya berasal dari Allah. Ia akan memahami bahwa semua hukum dan nabi dengan cara yang sama merupakan bagian dari kebijaksanaan dan pengetahuan akan Allah.

Ia akan memahami bahwa semua hukum dan nabi tergantung dan taat pada pengajaran akan kasih pada Tuhan Allah dan kasih pada sesama; dan bahwa kesempurnaan kekudusan tercakup dalam kasih.” (Commentary On Matthew 13).

Oratio-Missio

Tuhan, kasih-Mu mengatasi segala. Penuhilah hatikuku dengan kasihMu; kuatkanlah iman dan harapanku. Bantulah aku untuk memberikan seluruh diriku dalam pelayanan kepada sesama dengan murah hati, seperti Engkau bermurah hati padaku. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk mengasihi Allah? 

In his duobus mandatis universa Lex pendet et Prophetae – Matthaeum 22: 40

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here