Lectio Divina 20.11.2023 –  Supaya Aku Melihat

0
273 views
Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku by Vatican News

Senin. Minggu Biasa XXXIII (H)

  • 1Mak. 1:10-15.41-43.54-57.62-64.
  • Mzm. 119:53.61.134.150.155.158.
  • Luk. 18:35-43.

Lectio

35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. 36  Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?” 37 Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.” 38 Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.”

39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku.” 40  Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: 41 “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat.”

42 Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.” 43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah. 

Meditatio-Exegese

Lebih sukalah mereka mati dari pada menodai dirinya

Negeri Kitim, semula merujuk pada pulau Siprus, mengacu pada tanah Yunani dan Makedonia. Bersamaan dengan penaklukan wilayah timur hingga perbatasan India oleh Alexander Agung, budaya Hellenistik disebar luaskan baik secara damai maupun paksa.

Setelah kematian Alexander Agung di Babilon tahun 323 sebelum Masehi, para jenderal perangnya, yang dikenal sebagai Diadochi, para pengganti, saling berperang untuk memperebutkan wilayah kekaisaran. Ptolemaus I, misalnya, merebut Mesir dan menguasai Palestina.

Tetapi setelah perang di Baniyas, wilayah ini berhasil dikuasai wangsa Seleukid sejak 197 sebelum Masehi. Wangsa Seleukid, yang semula tidak menaruh perhatian pada adat dan budaya lokal, mulai memaksakan adat istiadat Yunani sejak Antiokhus IV Epifanes berkuasa hingga ke Yerusalem dan Yudea.

Sementara orang Yahudi tertarik pada kebaruan dan kemegahan kultur Helenistik. Dan mereka yang murtad itu digunakan oleh wangsa Seleukid menyerang dan menghancurkan tiga sendi agama Yahudi: Bait Allah di Yerusalem, adat keagamaan – khususnya sunat dan perayaan Sabat, dan kitab Hukum Musa.

Berkompromi dengan kebudayaan asing sama dengan membelakangi Allah dan mengingkari Perjanjian Sion. Cara-cara murtad sangat rinci disingkapkan: membangun gedung olahraga dan dilengkapi dengan pemujaan terhadap para dewa Yunani, mengembalikan tanda sunat atau membatalkan perjanjian antara Allah dengan Abraham (1Mak. 1:10-15; bdk. Kej. 17:1-14).

Penguasa Seleukid menghendaki hanya ada satu agama kerajaan. Orang Yahudi yang murtad sepakat dengan gagasan ini. Tetapi, penulis Kitab Makabe mempertahankan iman Yahwe dan hidup tersembunyi.  

Penulis suci mengenang dengan hati getir ketika altar persembahan dihancurkan dan diganti dengan altar dan patung Zeus Olympus didirikan di Bait Allah pada 8 Desember 167 sebelum Masehi. Ia mengingat kekejian, yakni kuban sembelihan, yang dinubuatkan Nabi Daniel saat umat memuja dewa asing dan raja yang dianggap sebagai dewa (bdk. Dan 9:27; 11:31; 12:11).

Di masa lalu, kurban sembelihan untuk para baal tidak hanya berupa hewan seperti dalam kisah Nabi Elia (1Raj. 18:20-40), tetapi juga anak laki-laki dan perempuan seperti dilakukan Raja Ahas (2Raj. 17:17). Maka, kurban sembelihan itu selalu bermakna kurban yang membawa pada kebinasaan, abominatio desolationis.

Yesus menggunakan ungkapan abominatio desolationis, yang diterjemahkan: Pembinasa keji, untuk menubuatkan luka, derita dan kehancuran Yerusalem kelak. Akhirnya, nubuat itu terpenuhi saat kota suci itu diluluh lantakkan Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi (bdk. Mat. 24:15-25; dan paralel). 

Peristiwa pembelaan iman pada saat penindasan, pengejaran dan pembunuhan pada umat menjadi teladan iman bagi tiap generasi, termasuk Gereja. Kisah mereka dirinci di dalam 2Mak. 6:1-11.18.31; 7:1-42.  

Ada seorang buta

Di Yerusalem, Yesus menyelesaikan tugas perutusan Bapa-Nya. Di kota itu, menjelang Hari Raya Paskah, bangsa-Nya akan menyerahkan-Nya kepada bangsa-bangsa yang tak mengenal Allah.

Mereka akan mengolok-olok, menghina, meludahi, menyesah, dan membunuh-Nya di kayu salib. Namun, pada hari ketiga, Allah akan membangkitkan-Nya dari kematian (Luk. 18:31-33).

Sayang, para murid tidak mengerti makna sabda-Nya (Luk. 18:34). Mereka mempunyai mata tetapi tidak melihat (Mrk. 8:18). Dua orang murid yang pulang ke Emaus pun tak mengenal-Nya.

“Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.” (Luk. 24:16). Ketidaktahuan mereka sama dengan kebutaan.

Santo Lukas meneruskan kisah murid yang tidak mengenal Yesus dengan kisah penyembuhan pengemis buta di Yerikho. Ia bernama Bartimeus, anak Timeus, mungkin bentuk pendek Timotheos, “orang yang menghormati Allah” (Mrk. 10:46). 

Si buta sedang mengemis ketika Yesus memasuki Yerikho. Kehilangan indra penglihatan tidak menghilangkan kepekaan atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Indra pendengarannya menjadi tajam untuk menyimak apa yang sedang terjadi, “Apa itu?” (Luk. 18:36).

Ia mendapat jawaban, “Yesus orang Nazaret lewat.” (Luk. 18:37). Jawaban ini menandakan mereka tidak tidak mau mengenali-Nya lebih mendalam.

Orang enggan menggali informasi sebanyak dan sedalam mungkin tentang Yesus, misalnya: siapakah ibu dan ayah-Nya, apa yang diwartakan-Nya, perjumpaanku dengan-Nya di Sungai Yordan ketika Yohanes membaptis. Sama seperti para rasul, mereka juga punya mata tetapi tidak melihat.

Mereka menegur dia supaya ia diam

Mengetahui yang datang adalah Yesus, pengemis buta itu berteriak (Luk. 18:38), “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.”, Iesu, fili David, miserere mei.

Ia ingin bertemu Yesus. Tetapi orang-orang bermata sehat melarangnya. Ia dihalang-halangi dan dipaksa diam. Namun, semakin dipaksa, makin lantang berteriak.

Menggunakan kata: εκραζεν, ekrazen, dari kata kerja krazo: berteriak-teriak (Luk. 18: 39), pengemis buta mengabaikan halangan dan larangan untuk menjumpai Yesus. Iman mendorongnya melakukan apa saja untuk bertemu dengan sosok yang pada-Nya ia percaya. 

“Anak Daud, kasihanilah aku!” (Luk 18:39) teriaknya untuk menarik perhatian-Nya. Memanggil seseorang dengan gelar “Anak Daud” sama dengan memanggil seseorang “Mesias-Kristus”, Yang Diurapi.

Bagi orang Yahudi, orang ini adalah dia yang diharapkan datang membebaskan mereka dari belenggu penjajah dan menegakkan kembali tahta Daud (2Sam. 7:11-16; 1Taw. 17:9-14; 22:1-19; 2Taw. 6:5-17; 13:5; 21:7; Mzm. 89:19-37; Yes. 16:5; 22:20-25; Yer. 23:5; 33:15-26; Luk. 1:32-33).

Mengabaikan ungkapan anak Daud dalam silsilah Yesus (Luk. 3:31), ungkapan “Anak Daud” ini digunakan pertama kali dalam Injil Lukas. Setelah seruan si buta ini, gelar “Anak Daud” diserukan penduduk Yerusalem saat mereka menyambut Yesus dengan sorak-sorai (Mat. 21:9). 

Santo Lukas mengabaikan gelar ini. Yesus bukanlah sosok pahlawan super yang mengangkat pedang dan perisai untuk membebaskan bangsa Yahudi.

Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?

Ketika si buta berteriak keras, Yesus berpaling. Ia berhenti. Ia mendengarkan dan memperhatikan suara orang yang dibungkam.

Lalu menyuruh orang membawa si buta pada-Nya. Ia menyingkapkan kewibawaan rajawi, yang bisa memerintah orang melakukan sesuatu untuk-Nya.

Ketika si buta itu di hadapan-Nya, Ia bertanya (Luk. 18:41), “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”, Quid tibi vis faciam?

Jawab orang itu (Luk. 18:41), “Tuhan, supaya aku dapat melihat.”, Domine, ut videam.

Yesus menyembuhkannya karena ia memiliki iman yang kokoh. Si buta ingin bersua dengan-Nya, berjuang keras mengatasi rintangan dan pembungkaman. Akhirnya, ia mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah (Luk. 18:43). Berbeda dengan para murid, si buta mengikuti-Nya dengan mata iman baru.

Katekese

Penglihatan Ganda. Santo Cyrilus dari Alexandria, bapa Gereja  abad ke-5:

“Nah, sekarang ia telah dibebaskan dari kebutaannya, apakah ia mengabaikan kewajibannya untuk mengasihi Kristus? Pasti tidak. Tertulis, “Ia lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah.” Si buta itu dibebaskan dari kebutaan ganda.

Tak hanya dibebaskan dari kebutaan badanian, tetapi juga kebutaan budi dan hati. Ia pasti tidak akan memuliakan Yesus sebagai Allah, jika ia tidak memiliki penglihatan rohani. Ia menjadi sarana untuk memuliakan Kristus, karena dikatakan juga bahwa semua orang memuji-muji Allah.” (Commentary on Luke, Homily 126)

Oratio-Missio

Tuhan, bukalah mata hati dan budiku agar aku mampu melihat dan memahami kebenaran sabda-Mu. Semoga aku tidak gagal mengenali kehadiran-Mu. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan untuk mengikis penghalang perjumpaanku dengan Yesus Kristus?  

Domine, ut videam – Lucam 18:41

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here