Lectio Divina 21.07.2021 – Hasilkan Buah Minimal 30 Kali Lipat

0
213 views
Ilustrasi: Seorang penabur pergi ke ladang untuk menabur benih by Vatican News

Rabu. Pekan Biasa XVI (H)

  • Kel. 16:1-5.9-15.
  • Mzm. 78:18-19.23-24.25-26.27-28.
  • Mat. 13: 1-9.

Lectio

1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.

3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6  etapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 9  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.”

Meditatio-Eksegese

Adalah seorang penabur keluar untuk menabur

Sama seperti para rabbi pada zaman-Nya, Yesus mengajar menggunakan perumpamaan, masal (Ibrani). Yesus menggunakan contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan pesan tersembunyi tentang Kerajaan Allah.

Pesan-Nya hanya bisa ditangkap maknanya oleh mata yang mampu melihat dan telinga yang mampu mendengar (bdk. Mat 13: 16).

Pesan, media dan cara penyampaian Yesus sangat sangat hidup dan kuat terpateri dalam ingatan para pendengar-Nya. Perumpamaan itu adalah harta terpendam yang siap digali dan ditemukan (Mat 13:44).

Pada waktu ia menabur. Petani yang menaburkan benih gandum sungguh aneh. Ia menaburkan benih ke sembarang tempat: pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri dan tanah yang subur. Rupanya, Yesus menggunakan cara bertani pada waktu itu untuk menyampaikan pesan tentang Kerajaan Allah.

Penabur lalu tahu di tempat mana benih yang ditaburnya tumbuh subur dan merawat dengan sepenuh hati. Ia yakin bahwa benih yang ditaburkan pasti akan berbuah banyak di tanah yang subur.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah. Yesus mengharapkan pesanNya tentang Kerajaan Allah diterima oleh bangsa-Nya dengan suka cita. Tetapi, ternyata, yang dialami adalah penolakan.

Kepada yang menolak, Yesus tetap menaruh perhatian. Mereka yang menolak diumpamakan sebagai pinggir jalan, tanah berbatu dan semak duri.

Penolakan juga dilakukan dengan cara yang sangat senyap dan canggih. Mempelajari dan mengajarkan Kitab Suci dan Tradisi suci menyibukkan orang dan menyita seluruh perhatiannya. Namun si pelaku tidak mau menyelami hati Pribadi yang diwartakan para penulis suci.

Di lain tempat, orang suka berdoa panjang-panjang dan sangat lama dengan kalimat indah melebihi madah para pemazmur.

Tetapi mereka terlalu lelah untuk membuka hati dalam keheningan mendengarkan suara Tuhan yang sangat lembut, seperti dialami Nabi Elia (1 Raj 19:12-13).

Kecanggihan dalam menolak benih sabda-Nya sering disamakan dengan mentalitas munafik. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” (Mat 23:27).

Namun, Kitab Suci juga menyajikan begitu banyak orang yang menaruh perhatian dan hati pada Allah. Mereka diumpakan sebagai pohon yang ditanam di tepi air.

Nabi Yeremia melukiskan dengan rinci, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yer. 17:7-8; Mzm 1:3)

Pribadi yang yang telah menjadikan hatinya selalu mendengarkan dan belajar dari-Nya pasti menghasilkan buah Roh yang berlimpah.

Yesus melukiskan (Mat 13:8), “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Alia vero ceciderunt in terram bonam et dabant fructum: aliud centesimum, aliud sexagesimum, aliud tricesimum.

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!  Pada mereka benih sabda tetap ditaburkan, dengan harapan ada perubahan hati. Pertobatan selalu menjadikan Allah sebagai yang pertama dan utama. Dan umat akan menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah mereka.

Nabi Yehezkiel melukiskan harapan Allah, “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Yeh. 11:19-20).

Katekese

Hati yang dangkal dan tak berakar, Santo Cyrilus dari Alexandria, 375-444:

“Mari kita perluas wawasan kita akan apa yang dimaksud dengan berada di tepi jalan. Menurut salah satu pengertiannya, tiap jalan diperkeras dan pasti bodoh atas dasar kenyataan bahwa jalan selalu diinjak-injak kaki.

Tak ada benih akan mendapatkan cukup tanah yang dalam untuk menutupinya. Sehingga, benih itu selalu terletak di permukaan dan siap dimakan burung yang terbang mendekatinya.

Maka,  siapapun yang memiliki hati yang keras dan tertutup rapat pasti tidak akan menerima benih sabda ilahi; maka ia menjadikan dirinya mudah dirasuki roh yang najis.

Inilah yang dimaksud dengan “burung-burung dari langit”. Kita memahami, ‘langit’ sama dengan udara, dan dari padanya berasal roh-roh jahat, yang selalu bergerak dan memangsa serta menghancurkan benih kebaikan.

Kemudian, apa makna ‘yang jatuh di tanah yang berbatu-batu? Mereka adalah orang yang tidak banyak memperhatikan iman yang tumbuh dalam diri mereka.

Mereka tidak mempersiapkan sikap batin dan jiwa untuk memahami rahasia persatuan dengan Kristus. Mereka tidak menaruh hormat pada Allah. Iman mereka lemah dan tidak berakar mendalam.

Mereka melakukan seluruh ajaran Injil pada masa yang mudah dan nyaman, saat tidak ada musim gugur pencobaan yang menyakitkan. Mereka tidak akan mempertahankan iman, karena jiwa mereka tidak pernah disiapkan untuk terus berjuang dalam masa-masa pengejaran yang penuh derai air mata dan kesengsaraan.” (dikutip dari Fragment 168).

Oratio-Missio

Tuhan, kuatkanlah imanku akan Dikau. Bukalah mata imanku akan karya tanganMu dan telingaku akan suara panggilanMu. Bimbinglah aku untuk memahami kehendakMu dan hidup seturut dengan kehendakMu. Amin.

  • Apa yang perlu kulakukan untuk merawat benih iman di dalam hati?

Qui vero in terra bona seminatus est, hic est, qui audit verbum et intellegit et fructum affert et facit aliud quidem centum, aliud autem sexaginta, porro aliud triginta – Matthaeu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here