Lectio Divina 21.6.2024 – Yesus, Hartaku?

0
32 views
Di mana hartamu, di situ hatimu, by pelukis tak dikenal dari Belanda.

Jumat. Perayaan Wajib Santo Aloisius Gonzaga (P)

  • 2Raj 11:1-4.9-18.20
  • Mzm 132:11.12.13-14.17-18
  • Mat 6:19-23

Lectio

19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.”

Meditatio-Exegese

Yoyada mengikat perjanjian antara Tuhan dengan raja dan rakyat

Melalui anak-anak Ahab, pemujaan terhadap Baal dilakukan tidak hanya di wilayah utara, Israel, tetapi juga di selatan, Yehuda. Perkawinan Raja Yoram dengan Atalya, keturunan Ahab menjadi pintu masuk pemujaan itu (bdk. 2Raj. 8:25-27).

Atalya mengambil semua tindakan agar tahta suaminya dan pengaruhnya sendiri tidak diusik. Ia memakai segala cara untuk menghapus rencana Allah pada keturunan Daud (bdk. 2Sam. 7:1-17), karena ingin menguasai tak hanya Israel di utara, tetapi juga Yehuda di selatan.

Bait Allah dan para imam melambangkan perlindungan Allah pada Yoas. Yosabat, anak perempuan raja, menculik Yoas bin Ahazia dari tengah-tengah anak-anak raja dan menyembunyikannya di dalam gudang tempat tidur. Isteri imam Yoyada (2Taw. 22:11) menghindarkannya dari pembunuhan oleh Atalya.

Yoyada, sang imam, mulai melakukan penyelamatan atas tahta keturunan Daud pada tahun ketujuh, yakni tahun Sabat, saat penebusan dan pemulihan (bdk. Im. 25:2-7). Dan orang Kari adalah prajurit bayaran yang bekerja dan setia pada majikan yang mengupah mereka, seperti dikisahkan dalam 1Raj. 1:38.

Saat Imam Yoyada mengurapi Yoas, yang masih berusia 7 tahun, sebagai raja, ia juga menyerahkan salinan Perintah Allah (bdk. Kel. 25:16), atau lebih tepat dokumen yang memuat kewajiban raja untuk menjaga kesetiaan pada Perjanjian Sinai (Ul. 17:14-20).

Seluruh rakyat setia kepada Yoas. Maka, Atalya dan seluruh pengikutnya dibinasakan di rumah ibadah untuk Baal di Israel. Di tempat itulah Yehu membunuh semua imam dan penyembah Baal (bdk. 2Raj. 10).

Perjanjian dengan Allah diperbaharui (2Raj. 11:17), “Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara Tuhan dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat Tuhan; juga antara raja dengan rakyat.”, Pepigit igitur Ioiada foedus inter Dominum et inter regem et inter populum, ut esset populus Domini, et inter regem et populum.

Atalya, penyembah dewa asing dan menjadi istri Raja Yoram, tidak pernah dianggap sebagai anggota keluarga wangsa Yehuda. Dan Allah tetap berkarya dengan cara-Nya sendiri memastikan keturunan Daud kelak menjadi Raja segala raja.

Kumpulkanlah bagimu harta di surga

Yesus menawarkan harta yang lebih berharga dari pada seluruh harta di bumi dan tidak musnah oleh ngengat, karat dan pencurian. Ia meminta para murid-Nya mencari dan mengumpulkan harta surgawi yang tidak berubah. Harta yang ditawarkan Yesus dijamin dan dijaga dari kerusakan oleh Allah sendiri.

Harta yang harus dicari adalah Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Mencari Kerajaan Allah berarti peziarahan mencari dan menemukan wajah Allah dalam diri sesama dan alam.  Wajah-Nya mudah ditemui pada diri saudara-Nya yang paling hina dina (Mat. 25:40).

Harta Kerajaan Allah menghasilkan sukacita, karena menyatukan dengan sumber dari segala sukacita dan berkat, Allah sendiri. Dalam Yesus, para murid menerima Kerajaan-Nya.

Santo Paulus melukiskan sebagai Kerajaan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Dan Santo Petrus (1Ptr. 1:4)bersaksi bahwa Kerajaan itu seperti harta “yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu.”, in hereditatem incorruptibilem et incontaminatam et inmarcescibilem conservatam in caelis in vobis.

Namun, sepanjang sejarah sering manusia menggeser tujuan ia diciptakan. Ia lebih memilih mengumpulkan dan memutlakkan barang-barang ciptaan. Dan kalau perlu mencari dan mengumpulkan dengan segala cara, termasuk seperti yang dilakukan oleh orang fasik.

Harta yang diperoleh dengan cara tidak adil dan jahat tidak akan mendatangkan keuntungan, karena Allah menghancurkannya. Seorang guru kebijaksanaan menulis (Ams. 10:2), “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna.”, non proderunt thesauri impietatis.

Santo Ignatius Loyola mengajak untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.

Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya, sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi dirinya.

Oleh karena itu, kita perlu mengambil sikap lepas bebas terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada ada pada kita dan tak ada larangan.

Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan.” (Latihan Rohani, Asas dan Dasar, 23).

Mata adalah pelita tubuh

Yesus juga menggunakan mata atau penglihatan untuk menyampaikan prinsip penting tentang Kerajaan Allah. Pandangan mata yang kabur berfungsi sebagai perumpamaan tentang kebodohan moral dan kebutaan rohani (bdk. Mat. 15:14; 23:16-36; Yoh. 9:39-41; Rm. 2:19; 2Ptr. 1:9; Why. 3:17.)

Mata menjadi jendela untuk melihat kedalaman hati, budi dan jatidiri seseorang. Bagaimana seseorang memandang hidup dan dunia di sekitarnya tidak hanya mencerminkan visi pribadi, tetapi juga mencerminkan apa yang dihayati di dalam diri dan jiwanya.

Dari matanya, tercakup: bagaimana membedakan apa yang baik dan jahat, karakter dan sifat dasar. Jika pandangan mata itu kabur, buram, atau terhalang, cahaya kebenaran Allah pun akan kabur, buram dan terhalang.

Hanya Yesuslah yang mampu membebaskan dari kegelapan rohani: dosa, ketidakpercayaan dan kebodohan. Dialah sumber cahaya yang mengatasi kegelapan dosa dan kebohongan serta tipu daya setan. 

Sabda-Nya (Yoh 8:12), “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”, Ego sum lux mundi qui sequitur me non ambulabit in tenebris sed habebit lucem vitae.

Apa yang membuat kita selalu memandang yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan dan patut dipuji (Flp. 4:8)?

Santo Paulus hanya memiliki satu jawaban: kasih, αγαπη, agape. Ia menulis dalam 1 Kor 13:4-6, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu… ia bersukacita karena kebenaran.”, Caritas patiens est; benigna est; caritas non aemulatur… congaudet autem veritati.    

Katekese

Mencari niat hati yang benar. Santo Augustinus, Uskup Hippo,430-543:

“Kita sadar bahwa seluruh pekerjaan kita murni dan menyenangkan hati di hadapan Allah jika seluruh pekerjaan itu dilakukan dengan sikap hati yang tulus. Ini berarti bahwa seluruh pekerjaan kita dilakukan karena meluap dari kasih dan dan niat yang terarah ke surga.

Karena “kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Rm. 13:10). Maka dalam pengajaran ini kita harus memahami mata sebagai pengarah seluruh niat batin yang mengatur seluruh kegiatan yang kita lakukan.

Jika niat ini murni dan benar, serta mengarahkan pandangannya pada tujuan yang seharusnya diarahkan, pasti seluruh pekerjaan  kita  adalah benar, karena dilakukan sesuai dengan niat murni ini. Dan dengan ungkapan ‘seluruh tubuh’, Kristus mengecam seluruh pekerjaan buruk dan pasti mengarahkan kepada kematian.

Karena,  para Rasul juga menunjukkan beberapa pekerjaan tertentu sebagai ‘anggota badan’ kita. Maka, Santo Paulus menulis, “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” (Kol. 3:5), dan hal lain yang serupa itu.” (Sermon On The Mount 2.13.45).

Oratio-Missio

Tuhan, sabda-Mu menuntunku untuk mencapai hidup abadi. Semoga terang kebenaran-Mu membebaskan aku dari setiap noda dosa. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu dan menjadikan Engkau sebagai Harta dan Tujuan hidupku. Amin.

  • Apa yang perlu aku lakukan untuk menjadikan Yesus hartaku yang bernilai paling tinggi? 

thesaurizate autem vobis thesauros in caelo, ubi neque aerugo neque tinea demolitur, et ubi fures non effodiunt nec furantur – Matthaeum 6:20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here