Lectio Divina 22.02.2024 – Di Atas Batu Karang Ini Kudirikan Gereja-Ku

0
49 views
Apa yang kau ikat di sini akan terikat di surga, mosaik di Crypt, Westminster Cathedral.

Kamis. Pesta Takhta Santo Petrus (P)

  • 1Ptr. 5:1-4.
  • Mzm. 23:1-3a.3b-4.5.6.
  • Mat. 16:13-19.

Lectio

13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” 17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. 18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

Meditatio-Exegese

Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi

Yesus sering menyingkir ke daerah yang sunyi untuk mendidik para murid atau membahas hal yang sangat penting dengan mereka. Kali ini Ia menyingkir ke Kaisarea Filipi, 40 kilometer sebelah utara Danau Galilea.

Kaisarea Filipi merupakan sebuah kota. Tetapi, dalam Mrk. 8:27, digambarkan sebagai kumpulan kampung-kampung yang terletak di kaki Gunung Hermon. Kota ini sangat strategis di perbatasan dengan Siria.

Pada saat kunjungan Yesus, wilayah yang dihuni mayoritas penduduk berbangsa kafir itu ada dalam kekuasaan Herodes Filipus.  Secara tradisional, wilayah Kaisarea Filipi berada dalam kekuasaan suku Dan, yang ditetapkan untuk mendiami wilayah bagian utara Tanah Terjanji. 

Setengah Suku Manasye tinggal di wilayah itu, tempat orang Kanaan mendirikan pemujaan bagi Baal-gad (Yos. 11:17; 12:7; 13:5) dan Baal Hermon (Hak. 3:3; 1Taw. 5:23).

Pada abad ke-4 SM, ketika ditaklukkan pasukan Alexander Agung, orang Yunani mempersembahkan tempat pemujaan ini untuk Dewa Pan, pelindung alam, gembala, kawanan domba, mata air dan kesuburan. Di tempat pemujaan ini meluap air yang terus mengaliri Sungai Yordan (bdk. Flavius Yosephus, Antiquities, 15.10.3). Karena di bawah perlindungan Dewa Pan, kota ini juga disebut sebagai Panias. 

Pada akhir abad 1 SM, Herodes Agung membangun kuil di dekat mata air Sungai Yordan. Kuil itu merupakan simbol pengangkatan Kaisar Agustus sebagai dewa. Setelah ayahnya mangkat, Herodes Filipus membangun kembali kota kecil ini dalam gaya Helenis dan menambahkan nama Filipus untuk menghormati dirinya sendiri.

Maka, kedatangan Yesus di tempat penghormatan pada dewa bangsa yang tidak mengenal Allah menjadi lambang bahwa Yesus menaklukkan dewa kafir. Terlebih, Ia mengundang para murid-Nya untuk mengenal-Nya secara lebih mendalam. Di tempat itu, Ia menyingkapkan identitas diri-Nya sebagai Mesias. 

Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?  

Yesus ingin tahu apakah orang banyak banyak mengenal diri-Nya. Para murid memberi tahu pengenalan yang begitu beragam tentang-Nya. Herodes Antipas,  misalnya, menyamakan Dia dia dengan Yohanes Pembaptis yang bangkit dari mati (Mat. 14:2).

Orang lain lagi mengira bahwa Ia adalah Nabi Elia yang akan merintis jalan bagi Mesias (Mal. 2:23; 4:5). Yang lainnya lagi mengira Ia adalah Nabi Yeremia atau seorang dari para nabi terdahulu. Semua orang yang disebut para rasul adalah nabi.

Kemungkinan orang banyak juga menyebut nama nabi palsu. Umat Israel sadar bahwa roh nabi sejati sudah tidak hadir di tengah umat sejak nabi terakhir, Nabi Maleaki pada abad ke-5 SM.

Mereka juga percaya pada nubuat Musa bahwa seorang Nabi seperti Musa akan dibangkit dari antara mereka (Ul. 18:15-19). Nabi itu juga akan mencurahkan Roh Allah pada umat dan mengumpulkan segala bangsa (bdk. Yeh. 36:26-27; Yl. 3:1-2).

Tanda-tanda itulah yang mengawali jaman Sang Mesias. Dan Yesus mengajar dengan penuh kuasa, mengajarkan dengan lambang dan perumpamaan seperti para nabi serta melakukan banyak mukjizat. 

Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?  

Dengan cepat Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Tentang pengakuan iman Petrus, Santo Cyrilus dari Alexandria, 376-444, salah seorang Bapa Gereja Perdana, menulis, “Petrus tidak berkata, “Engkau adalah seorang Kristus” atau “seorang putera Allah”, tetapi, “Kristus, Putera Allah”.

Karena banyak orang disebut ‘kristus’, yang berarti: orang yang diurapi. Banyak orang  mendapatkan status pengangkatan sebagai anak yang memiliki hubungan sangat erat dengan Bapa, karena rahmat.  Tetapi hanya satu saja, yang karena kodratnya, adalah Anak Allah. Maka, dengan mengunakan kata sandang penentu, ia berkata, Kristus, Putera Allah.

Dan dengan menyebut-Nya sebagai Anak Allah yang hidup, Petrus menunjukkan bahwa Kristus itulah hidup. Kematian tidak pernah berkuasa atas-Nya. Dan bahkan jika sebagai manusia yang lemah dan mati, Ia bangkit lagi. Karena Firman, yang tinggal di dalam Dia, tidak dapat ditaklukkan dalam ikatan maut.” (Fragment 190).

Engkau adalah Petrus

Yesus memuji Petrus atas pengkuan iman yang dilakukan dengan meriah, karena Allah menyingkapkan padanya. Selanjutnya Ia bersabda (Mat. 16:18), “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya”, Tu es Petrus, et super hanc petram aedificabo Ecclesiam meam; et portae inferi non praevalebunt adversum eam.

Menggunakan bahasa Aram, Yesus ‘bermain’ kata ‘petrus’. “Engkau adalah Petrus (Kefas) dan di atas batu karang ini (kefas) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Dengan menyebut Petrus, Yesus menekankan kembali nama baru yang disandang Simon.

Simon pertama kali bertemu dengan-Nya di tepi Sungai Yordan sebelum Yesus memulai karya pelayanan-Nya di Galilea. Saat itu, Yesus bersabda, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh. 1:42). Penginjil lain juga mencatat perubahan nama ini (lih. Mrk. 3:16; Luk. 6:14).

Kefas berarti “batu karang”. Dalam perikop ini, Santo Matius menggunakan kata berjenis kelamin laki-laki, πετρος, petros, untuk menyebut nama baru bagi Simon; dan kata berjenis kelamin perempuan, πετρα, petra, batu karang.

Penyebutan nama Petros atau ditransliterasi Petrus  sebagai yang pertama dan utama di antara para rasul. Penyebutan ini merupakan perubahan peran dalam hidupnya dari seorang nelayan menjadi batu pondasi komunitas para murid Yesus. Yesus juga menyebut nama ayahnya, Yohanes/Yonas/Yunus.

Secara simbolis Yesus menggambarkan peran baru Petrus dalam jemaat. Seperti Yunus, Petrus harus mewartakan pertobatan. Kalau Yunus mewartakan pertobatan di kota Niniwe, di pusat kekuasaan Kekaisaran Assyiria, Petrus mewartakan pertobatan dan pengakuan iman bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat di pusat kekuasaan Kekaisaran Romawi, di Roma.

Dalam tradisi alkitabiah, ‘batu karang’ digunakan untuk menggambarkan peran Abraham. Ia seperti batu karang yang dipotong untuk menjadi landasan berdirinya bangsa Israel  (Yes. 51:1-2).  Dalam Perjanjian Baru, batu karang bukan hanya kata sifat yang disematkan pada Pertus sebagai bapa rohani bagi semua anak Allah. Tetapi juga Yesus hanya menggunakan kata Petrus untuk Simon sebagai kepala dan pondasi Gereja-Nya.

Tentang hal ini, Gereja Katolik mengajarkan, ”Tuhan menjadikan hanya Simon, yang ia namakan Petrus, sebagai wadas untuk Gereja-Nya. Ia menyerahkan kepada Petrus kunci-kunci Gereja (bdk. Mat 16:18-19) dan menugaskan dia sebagai gembala kawanan-Nya (bdk. Yoh 21:15-17).

“Tetapi tugas mengikat dan melepaskan yang diserahkan kepada Petrus, ternyata diberikan juga kepada dewan para Rasul dalam persekutuan dengan kepalanya.” (LG 22). Jabatan gembala dari Petrus dan para Rasul yang lain termasuk dasar Gereja. Di bawah kekuasaan tertinggi [primat] Paus, wewenang itu dilanjutkan oleh para Uskup.” (Katekismu Gereja Katolik, 881).       

Santo Matius menggunakan kata εκκλησιαν, ekklesian, dari kata dasar ekklesia, memanggil. Kata ini bermakna persekutuan umat yang dipanggil untuk mengimani Yesus.

Kata ini sejajar maknanya dengan dengan kata kahal dalam bahasa Ibrani untuk menggambarkan persekutuan umat beriman, karena dipanggil dari dunia untuk masuk dalam perjanjian dengan Yahwe.

Santo Cyrilus menguraikan, “Karena Kristus adalah batu karang yang tidak dapat dirusak atau dihancurkan, maka Petrus menerima nama baru dari Kristus dengan sukacita. Nama itu menandakan bahwa Gereja didirikan atas dasar iman dan tidak tergoyahkan…

Setan adalah pintu gerbang menuju maut dan selalu berusaha secepatnya melawan Gereja yang suci melalui pelbagai macam bencana dan pengejaran. Tetapi iman para rasul, yang dididirikan di atas batu karang Yesus Kristus selalu bertahan dan selamanya tidak goyah.

Dan kunci Kerajaan Surga diserahkan padanya, sehingga apa yang diikat di bumi akan terimat disurga; dan apa yang dilepas di bumi akan dilepas di surga.” (Interpretation Of The Gospels, 28).

Katekese

Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?  Santo Yohanes Chrysostomus, 347-407:

 “Ketahuilah bahwa Ia tidak bertanya pada mereka tentang gagasan mereka sendiri. Tetapi, Ia bertanya tentang apa yang dipikirkan orang banyak. Mengapa? Untuk mempertentangkan pemikiran orang banyak dengan jawaban para murid terhadap pertanyaan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Dengan cara ini, melalui cara-Nya bertanya, mereka diajak secara bertahap untuk memahami makna yang lebih mendalam dan tidak jatuh pada pandangan yang sama dan dianut oleh orang banyak.

“Ketahuilah bahwa Yesus tidak mengajukan pertanyaan pada awal pewartaan-Nya, tetapi hanya setelah Ia melakukan banyak mukjizat, berbicara dengan mereka dan mengajar mereka banyak hal, dan memberi mereka bukti yang nyata akan keilahian-Nya dan persatuan-Nya dengan Bapa.

Hanya setelah mereka siap, Ia mengajukan pertanyaan kepada mereka. Ia tidak bertanya ‘Menurut ahli Kitab dan orang Farisi, Siapakah Aku?’, walau mereka sering menjumpai-Nya dan bertukar pendapat dengan-Nya.

Tetapi Ia memulai pertanyaan dengan bertanya, ‘Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?’ seolah-olah Ia bertanya tentang pendapat umum. Bahkan jika pendapat umum itu kurang lebih benar dari pada yang dipikirkan para ahli, pendapat itu relatif lebih bebas dari kesalahan dibandingkan dengan pendapat para pemimpin agama yang pasti tercampur dengan niat-niat busuk.

“Ia menyingkapkan betapa Ia sungguh menghendaki orang mengakui rencana keselamatan-Nya ketika Ia bersabda, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” karena Ia menyingkapkan jatidiri-Nya, yang juga disingkapkan-Nya di banyak tempat dan kesempatan lain.” (The Gospel Of Matthew, Homily, 54.1.6).

Oratio-Missio

Tuhan, aku percaya dan mengimani bahwa Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Ambillah hidupku, kehendakku, dan semua yang ada padaku, agar semuanya menjadi milik-Mu, selamanya. Amin.

  • Siapakah aku menurut Yesus? Apa yang perlu aku lakukan untuk ikut serta membangun Gereja-Nya?

et ego dico tibi quia tu es Petrus et super hanc petram aedificabo ecclesiam meam et portae inferi non praevalebunt adversum eam – Mattaeum 16: 18

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here