Lectio Divina 22.09.2020 – Jadi Ibu dan Saudara Yesus

0
282 views
Ilustrasi: Ibu dan saudara-saudara Yesus (Ist)

Selasa (H)

  • Ams. 21:1-6,10-13.
  • Mzm. 119:1,27,30,34,35,44.
  • Luk. 8:19-21

Lectio

19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. 20  Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” 21 Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Meditatio-Exegese

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya

Kabar tentang Yesus yang makin terkenal pasti terdengar juga oleh keluarga-Nya di Nazaret. Menjadi ternama ternyata menimbulkan kecemasan bagi sanak keluarga-Nya di desa yang berjarak 40 kilo meter ke arah barat dari Kapernaum.

Didorong oleh kecemasan itulah mereka, ibu dan saudara-saudara-Nya, berusaha mencari-Nya hingga dekat rumah yang menjadi tempat-Nya menetap di kota pelabuhan ikan di tepi Danau Genezaret itu.

Rupanya mereka kesulitan untuk memasuki rumah. Mungkin banyak orang berkerumun di rumah Yesus, sehingga meminta bantuan orang lain untuk menyampaikan kedatangan mereka. “Mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepadaNya, “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” (Luk 8: 19-20).

Menurut Santo Markus, dari luar rumah Ibu Maria dan sanak saudara Yesus meminta seseorang untuk memanggi Yesus dan hendak mengajakNya pulang ke Nazaret (bdk. Mrk. 3:31). Mereka mengkhawatirkan keselamatan Yesus.

Setiap orang yang menarik perhatian banyak orang pasti diawasi dengan ketat oleh penjajah, Kekaisaran Romawi. Mata-mata tentu dikirim untuk menyelidiki apa yang dilakukan dan gerakan apa yang sedang dibangun serta menumpas sebelum pecah pemberontakan (bdk. Kis 5: 36-39).

Di samping itu, kerabatNya telah mendengar kabar yang berembus bahwa Yesus telah kehilangan akal sehat. Ia telah menjadi gila (Mrk. 3:21). Mereka hendak menyelamatkan Yesus; tetapi lupa bahwa  para tetangga mereka telah mengancam Yesus dengan kematian (Luk. 4:29).

Ibu dan saudara-saudara-Ku

Santo Markus melukiskan penolakan Yesus atas permintaan kerabat-Nya dengan lebih dramatis. “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudaraKu?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekelilingNya itu dan berkata, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudaraKu! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.” (Mrk. 3:33-35).

Dengan cara ini Yesus memperluas, bahkan, mengubah sama sekali makna relasi kekeluargaan. Keluarga bukan hanya persekutuan manusia yang diikat oleh pertalian darah atau keturunan.

Tetapi, dengan menjadi murid Yesus, setiap anggota komunitas membagun relasi berdasarkan  kepercayaan, kasih, kamitmen, kesetiaan, kemurahan hati, bela rasa, belas kasih, dukungan, perlindungan. Semua diikat oleh kasih dan persekutuan.

Santo Paulus menggambarkan ikatan keluarga baru sebagai tubuh mistik Kristus (bdk. 1 Kor 12:12-27). Santo Lucianus dari Antiokhia, 240-312, martir Gereja Perdana, berkata, “Sanak keluarga seorang Kristiani hanyalah para kudus.” Yang dimaksudkannya adalah mereka yang telah ditebus oleh darah Kristus dan diangkat sebagai putera-puteri Allah melalui pembaptisan.

Mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya

Dibalik kata yang keras, sebenarnya Yesus memuji Ibu Maria. Diam-diam Yesus meneladan ibu-Nya. Jawabannya pada Malaikat Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38), menunjukkan ketaatan sang ibu pada rencana Allah. Meneladan ibu-Nya, Yesus memusatkan perhatian melulu hanya pada tugas perutusan-Nya.

Ia tidak membiarkan diri dihambat oleh keluarga (Yoh. 7:3-6), Petrus (Mrk. 8:33), para murid (Mrk. 1:36-38), Herodes Antipas, yang disebutNya serigala (bdk. Luk. 9:58; 13:32), orang lain (Yoh. 10:18) atau Kekaisaran Romawi yang disebutNya sebagai burung sesuai gambar rajawali di pataka (bdk. Mat. 8:20; Luk. 9:58).

Dan Ia mengundang setiap orang untuk menjadi ibu dan saudara-saudari-Nya  (Luk. 8: 21), “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”,Mater mea et fratres mei hi sunt, qui verbum Dei audiunt et faciunt.  

Katekese

Mereka yang mendengarkan sabda Allah menjadi anak Allah yang sejati. Santo Cyrilus dari  Alexandria, 376-444 :

 “Pelajaran  hari ini mengajarkan pada kita bahwa kesetiaan dan mendengarkan Allah mendatangkan setiap berkat. Beberapa orang datang dan berbicara dengan sikap hormat tentang ibu Kristus yang suci dan saudara-saudaraNya. Ia menjawab dengan kata-kata ini, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”.

Nah, tidak boleh kalian membayangkan bahwa Kristus merendahkan kehormatan ibuNya atau secara sembarangan melecehkan kasih yang dicurahkan saudara-saudaraNya.

Ia berbicara tentang Hukum Musa dan dengan jelas bersabda, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu.” (Kel 5:16). Bagaimana, saya bertanya, Ia, yang meminta kita mengasihi tidak hanya saudara-saudara kita, tetapi juga musuh-musuh kita, dapat menolak kasih hanya karena saudara-saudaraNya? Ia bersabda, “Kasihilah musuhmu.” (Mat 5:44).  

“Apa yang diinginkan Kristus dari kita melalui pengajaran-Nya? TujuanNya adalah untuk menunjukkan kasihNy pada mereka yang dengan rela menyerahkan diri dan setia pada perintah-Nya. Aku hendak menjelaskan cara Ia melakukan hal ini. Penghormatan terbesar dan kasih paling sempurna harus kita curahkan pada para ibu dan saudara-saudari kita.

Jika Ia bersabda bahwa mereka yang mendengarkan sabdaNya dan melaksanakannya dalah ibu dan saudara-saudara-Nya, bukankah hal ini jelas bagi tiap orang bahwa Ia menganugerahkan kasih dan menerima mereka yang mengikutNya dengan layak? Ia akan membuat mereka bersedia mengesampingkan keinginan pribadi untuk menyerahkan pada sabdaNya dan menyerahkan jiwanya pada kukNya, dengan penuh ketaatan”  (dikutip dari  Commentary On Luke, Homily 42).

Oratio-Missio

  • Bapa Surgawi, Engkaulah sumber persaudaraan dan kasih sejati. Melalui seluruh relasiku, semoga kasih-Mu terus membinbingku untuk berani memilih apa yang benar dan  ajarilah aku untuk menolak apa yang bertentangan dengan kehendak-Mu . Amin.     
  • Apa yang perlu aku lakukan untuk menumbuh-kembangkan keluarga Yesus?

Mater mea et fratres mei hi sunt, qui verbum Dei audiunt et faciunt – Lucam 8: 21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here