Lectio Divina 22.4.2024 – Hidup dan Mati Gembala untuk Domba

0
32 views
Akulah pintu ke domba itu, by Pat Marrin.

Senin. Hari Biasa Pekan Paskah IV (P)

  • Kis. 11:1-18
  • Mzm. 42:2-3; 43:3.4
  • Yoh. 10:1-10

Lectio (Yoh. 10:1-10)

Meditatio-Exegese

Gembala

Mayoritas penduduk Palestina kuna menggantungkan hidup dari ternak kambing-domba. Peternak kecil dengan kepemilikan beberapa ekor biasanya menggembalakan kambing-dombanya sendiri (Yeh. 34:15) atau menyuruh anaknya laki-laki (Kej. 31:38-40) atau anaknya perempuan (Kej. 29:6).

Pemilik ternak kambing-domba dengan jumlah sangat banyak biasanya mempekerjakan gembala upahan dengan diberi upah (Za. 11:12) atau memperoleh bagian dari ternak gembalaannya/bagi hasil (Kej. 30:28-43).

Tugas gembala diuraikan dengan jelas. Ia harus mencari padang rumput yang hijau dan banyak sumber air (Mzm. 23:2-3) dan melindungi kawanan domba dari binatang buas maupun pencuri (1Sam. 17:34-35; Yoh. 10:12). Maka, tongkat yang terbuat dari kayu terpilih menjadi senjata pemukul dan selalu ada digenggaman tangan.

Apabila kambing-domba hilang karena diterkam binatang atau dicuri, gembala upahan harus membayar ganti rugi kepada pemilik. Kata Yakub kepada Laban, “Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.” (Kej. 31:39). Peraturan yang lebih rinci dirumuskan dalam Kel. 22:9-12.

Citra gembala melekat dalam tradisi umat Perjanjian Lama. Gembala yang setia dan mempertaruhkan nyawa demi kawanan domba dijadikan lambang para pemimpin – imam, raja dan nabi. Pada para raja Asyur dan Yahudi disematkan gelar gembala (Yeh. 34:1-10; Za. 11:4-14). 

Terlebih, Allah diimani sebagai Gembala (Mzm. 23:1-4; Yeh. 34:11-22). Selanjutnya gelar gembali diambil alih para nabi untuk disematkan pada keturunan Daud pada zaman keselamatan (Yeh. 34:23-24; 47:24).

Namun, tak selamanya para gembala menuntun umat seperti kehendak Sang Gembala. Para nabi mengecam para pemimpin Israel dan Yehuda – imam, raja dan nabi – sebagai gembala yang tidak peduli memelihara kawanan domba mereka dan memilih jalan serong.

Nabi Yeremia mengecam, “Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah Tuhan? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna.” (Yer. 2: 8; lih. 10:21; 23:1-2).

Kejahatan para gembala tidak hanya menyengsarakan rakyat di negeri sendiri. Yang paling buruk dan mematikan adalah saat para raja menyeret semua domba ke pembuangan dan perbudakan di negeri orang (Yeh. 34:1-10; Za. 11:4-17).

Saat mengalami mimpi buruk karena perlakuan gembala yang jahat, kerinduan akan gembala yang baik yang menggembalakan kawanan seperti dilakukan Allah terus tumbuh. Maka pemazmur bermadah (Mzm. 23:1; Kej. 48:15), “Tuhanlah adalah gembalaku takkan kekurangan aku.”, Dominus pascit me, et nihil mihi deerit.

Para nabi merindukan, suatu saat di masa depan, Allah sendirilah yang menjadi gembala domba-Nya (Yes. 40: 11; Yeh. 34:11-16). Di saat itulah para domba diharapkan mampu mengenal suara Gembala mereka (Mzm. 95:7), “Hari ini kiranya, dengarkan suaraNya.”, Utinam hodie vocem eius audiatis.

Para nabi menrindukan Allah datang sebagai hakim atas kawanan domba-Nya (Yeh. 34:17). Ia akan membangkitkan gembala yang menggembalakan kawanan sesuai kehendak-Nya dan Sang Mesias akan menjadi gembala umat Allah (Yer. 3:15; 23:4).

Harapan para nabi terpenuhi dalam diri Yesus Kristus, Sang Gembala Baik. Sabda-Nya (Yoh. 10:11), “Akulah gembala yang baik”, Ego sum pastor bonus.  

Pada akhir jaman, Ia akan datang sebagai Gembala yang memisahkan domba dari kambing (Mat. 25: 31-46). Namun, Gembala yang baik itu justru mendapatkan perlakuan buruk oleh para gembala yang seolah-olah nampak baik.

Pada-Nya ditimpakan tuduhan palsu, hukuman mati, penyiksaan dan pembunuhan. Terpenuhilah nubuat Nabi Zakharia, “Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai.” (Za. 13:7).

Domba-domba

Domba-domba yang digembalakan Santo Yohanes Penginjil  begitu beragam. Anggota Gereja berasal dari orang Yahudi yang berpikir terbuka dan bersikap kritis terhadap praktik di Bait Allah (Yoh. 2:13-22) dan hukum Tuhan (Yoh. 7:49-50). Ada juga orang Samaria (Yoh. 4:1-42) dan orang asing (Yoh. 12:20).

Walau jemaat itu berasal dari pelbagai macam latar belakang, baik asal usul maupun sejarah, komunitas mampu menghayati Warta Sukacita dan hidup dalam solidaritas satu dengan yang lain. Wejangan tentang kasih persaudaraan, misalnya, digunakan untuk menguatkan iman jemaat yang sedang dalam ancaman maut karena pengejaran, penangkapan, pemenjaraan, aniaya, bahkan hukum mati.

Komunitas yang digembalakan dengan benar pasti mampu bertahan hidup saat terjadi perselisihan, misalnya antara mereka yang berasal dari bangsa asing maupun yang bersal dari bangsa Yahudi (Kis. 15:5). Komunitas juga harus mencari sendiri sendi yang mengikat mereka untuk terus beriman pada Yesus, yang diutus oleh Bapa dan menghendaki mereka hidup sebagai saudara-saudari seiman (Yoh. 15:12-14.17).

Ketika mereka menghayati hidup bersaudara dan berpusat pada Yesus, mereka terbuka untuk menerima persaudaraan dengan komunitas lain (Yoh. 10: 16).

Para Bapa Konsili Vatikan II melukiskan, “Adapun Gereja itu kandang, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus (lihat  Yoh. 10:1-10). Gereja juga kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan akan digembalakan oleh Allah sendiri (lihat Yes. 40:11; Yeh. 34:11 dst.).

Domba -dombanya, meskipun dipimpin oleh gembala-gembala manusiawi, namun tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri, Sang Gembala Baik dan Pemimpin para gembala (bdk. Yoh. 10:11; 1Ptr. 5:4), yang telah merelakan hidup-Nya demi domba-domba (lih. Yoh. 10:11-15).” (Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja, Lumen Gentium, 6).

Pencuri, perampok, gembala

Perumpamaan tentang gembala yang baik diawali dengan sabda-Nya, “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba.

Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar.” (Yoh. 10:1-3).

Para gembala menggembalakan kawanannya di padang rumput hijau di siang hari. Ketika berganti malam, mereka memasukkan domba di kandang yang dibuat dari tumpukan batu, ranting kayu dan semak duri.

Kandang itu memberi jaminan keamanan dari pencuri dan serigala. Kandang selalu merupakan milik kelompok gembala di daerah terdekat.

Mereka membagi tugas jaga bergantian sepanjang malam, menjaga seluruh kandang dan pintu.  Waktu ronda dibagi menjadi empat giliran ronda dengan perkiraan waktu: ronda petang pkl. 18.00-21.00; tengah malam pkl. 21.00-24.00; kokok ayam pkl. 00.00-03.00; dan pagi pkl. 03.00-06.00.

Di pagi hari gembala akan mengetuk pintu dan rekan yang berjaga membukakan. Kemudian, masing-masing gembala memanggil domba mereka satu-satu; memanggil sesuai nama masing-masing. Domba mengenal suara mereka dan mereka mengikuti sang gembala ke padang rumput.

Bila yang masuk perampok atau pencuri, domba-domba akan tetap tinggal di kandang atau lari menjauh. Mereka tidak mengenal suara si perampok atau si pencuri.

Maka, para durjana akan membawa paksa domba-domba melalui dinding yang telah mereka jebol. Mereka tidak masuk melalui pintu depan, karena harus berhadapan dengan penjaga dan gembala.

Pencuri, perampok, pintu

Kawanan dapat mengalami kehancuran dengan cara tersembunyi dan halus, atau dengan penyalah-gunaan kekuasaan yang kasar. Sejarah Gereja membuktikan bahwa musuh menggunakan kedua cara itu; kadang mereka memasuki kawanan domba dengan cara rahasia untuk menghancurkan dari dalam; di kesempatan lain, musuh secara kasar dan terbuka menggunakan kesewanang-wenangan untuk menghabisi kawanan.

Para pemimpin ya, seperti orang Farisi (Yoh. 9:40-41), pasti tidak mau mengerti makna sabda-Nya, “Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu”.

Maka Yesus menjelaskan (Yoh. 10:7), “Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok”, Ego sum ostium ovium. Omnes, quotquot venerunt ante me, fures sunt et latrones.

Para pencuri dan perampok adalah mereka yang bermentalitas munafik dan haus kuasa karena ragi orang Farisi dan Herodes (Mrk. 8:15). Mereka menyaru sebagai gembala sejati.

Mereka mengunakan segala kemampuan dan cara untuk mengikat seluruh domba agar selalu dalam satu kawanan, tetapi, pada akhirnya, masing-masing domba dijadikan tumbal atau korban keganasan sang gembala palsu.

Gemba palsu tidak pernah tertarik pada damai sejahtera yang harus dimiliki para domba. Mereka hanya tertarik pada apa yang dapat dieksploitasi: bulu, daging dan uang atau kenikmatan hidup yang dapat direguk dari domba. Maka, bila bahaya mengancam para domba, mereka lari menyelamatkan diri.

Yesus memberi tolok ukur yang jelas untuk membedakan mana gembala sejati atau pecuri dan perampok. Gembala sejati, Yesus,  selalu mempertahankan hidup domba-domba yang dipercayakan padanya.

Ia bersabda (Yoh. 10:10), “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”, Ego veni, ut vitam habeant et abundantius habeant.

Dan gembala yang diutus-Nya selalu setia pada-Nya dan membawa ajaran Gereja yang benar. 

Masuk melalui pintu berarti meneladan sikap Yesus: mempertahankan hidup seluruh kawanan domba-Nya. Yesus mengajak anda dan saya mengambil prakarsa untuk bertindak tidak seperti mereka yang menyaru sebagai gembala dan abai pada kesejahteraan kawanan domba.

Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430 menulis, “Yesus telah menyelesaikan apa yang Ia ajarkan pada kita: Ia telah menunjukkan apa yang Ia perintahkan untuk kita. Ia telah menyerahkan hidup-Nya untuk kawanan domba-Nya, sehingga dalam misteri iman Ia telah mengubah tubuh dan dara darah-Nya menjadi makanan, dan memberi makan kawanan domba yang telah ia tebus dengan makanan yang berasal dari tubuh-Nya sendiri.

“Ia telah menunjukkan pada kita jalan yang harus kita lalui, walau terdapat ketakutan atas maut. Ia telah memberikan teladan yang harus kita ikuti. Kewajiban pertama yang diletakkan di pundak kita adalah menggunakan seluruh harta benda duniawi untuk didermakan dengan murah hati kepada kawanan domba-Nya yang membutuhkan.

Kemudian, bila perlu, berikan juga hidup kalian untuk mereka. Baranga siapa yang tidak memberikan harta bendanya untuk kawanan domba-Nya, bagaimana mungkin ia akan mempertaruhkan hidupnya untuk mereka?” (Tractatus in John, 46).  

Katekese

Padang rumput yang hijau dan air yang tenang. Santo Augustinus, Uskup dari Hippo, 354-430:

“Padang rumput yang disiapkan oleh gembala yang baik bagi kalian, tempat ia menggembalakan kalian untuk makan hingga kenya, tidak terdiri atas pelbagai jenis rerumputan dan benda lain yang hijau. Di antara mereka pasti ada yang terasa manis; yang lain pahit; yang lain lagi rumbuh subur di musim itu; namun kadang gagal sama sekali.

Padang rumput kalian adalah sabda Allah dan perintah-perintah-Nya. Semua telah ditaburkan seperti rerumputan yang manis. Padang rumput ini telah dicicipi oleh meraka yang berkata pada Allah, “Betapa manisnya sabda-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.” (bdk. Mzm. 119:103).” (Sermon, 366,3,1)

Oratio-Missio

Tuhan, Engkau selalu membimbingku di jalan kebenaran, damai sejahtera dan keselamatan. Semoga aku tidak pernah ragu atas pemeliharaanMu atau menyesatkan diri dari jalan-Mu. Amin.

  • Apa yang harus aku lakukan sebagai gembala yang baik bagi kawanan domba gembalaanku, terutama di saat-saat sulit?

Ego veni, ut vitam habeant et abundantius habeant – Ioannem 10:10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here